Kliping

Tiga BUMD DKI Kendalikan Inflasi

tiga BUMD DKI kendalikan Inflasi

JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia Kantor Perwakilan DKI Jakarta memprediksi inflasi pada bulan Juni atau selama Ramadhan ini masih bisa dikendalikan di bawah 1 persen, yaitu 0,8 persen. Upaya mengendalikan inflasi dari kelompok bahan makanan itu salah satunya dilakukan dengan menjaga pasokan pangan dari tiga badan usaha milik daerah, yaitu PD Pasar Jaya, PT Food Station Tjipinang, dan PD Dharma Jaya.

Kepala BI Kantor Perwakilan Jakarta Doni P Joewono mengatakan, upaya menekan laju inflasi dari sektor pangan dilakukan dengan stabilisasi harga pangan. BUMD DKI Jakarta bekerja sama dengan PT Perdagangan Indonesia, Perum Bulog, dan sejumlah BUMN untuk mengadakan operasi pasar.

“Tahun-tahun sebelumnya, antara pemprov dan kementerian itu, mereka jalan sendiri-sendiri. Sekarang, programnya sudah bisa diselaraskan sehingga program satgas pangan cukup berhasil,” kata Doni, Rabu (14/6).

Pinjaman Online

Selama dua pekan Ramadhan ini, harga pangan di Jakarta dinilai cukup stabil. Peningkatan permintaan dalam jumlah besar juga belum terlihat. Permintaan mulai meningkat terutama terlihat pada sandang kebutuhan Lebaran.

Doni memprediksi kenaikan permintaan baru akan terlihat pada H-7 Lebaran. Peningkatan diprediksi untuk bahan lauk-pauk seperti telur ayam, daging ayam, dan daging sapi. PD Dharma Jaya selaku perusahaan daerah yang menjual daging sapi diharapkan segera berupaya memenuhi stok daging di pasaran.

“Untuk tahun lalu, dua minggu sebelum Lebaran harga sudah naik karena pasokan masih belum stabil,” kata Doni.

Harga bawang merah di Pasar Induk Kramatjati, misalnya, Rp 40.000 atau sama dengan harga sebulan lalu setelah sempat naik sekitar Rp 45.000 sekitar dua pekan lalu. Adapun harga cabai rawit merah terpantau Rp 50.000 per kilogram atau turun dari sebulan lalu Rp 70.000. Harga daging sapi has dalam sekitar Rp 110.000-Rp 170.000 per kg.

Selain dari bahan pangan, inflasi juga akan dipengaruhi biaya transportasi mudik Lebaran, terutama angkutan darat dan udara. Dinas Perhubungan dan Kementerian Perhubungan diharapkan mengevaluasi tarif batas bawah dan tarif batas atas biaya transportasi darat dan udara.

Pasar murah

Tingginya kebutuhan menjelang Lebaran ini membuat pasar murah menjadi andalan warga untuk meringankan beban keuangan. Pasar-pasar murah yang digelar diserbu warga.

Di Kelurahan Cipete Utara, warga sudah mengantre pasar murah sejak pukul 07.00. Pasar murah yang diselenggarakan Perum Bulog, Polda Metro Jaya, dan Kelurahan Cipete Utara itu dibuka pukul 07.30 dan habis dalam waktu tiga jam.

Seluruh komoditas bahan pangan pokok disediakan, di antaranya beras (2.000 kg) gula pasir (350 kg), daging sapi (75 kg), bawang merah (120 kg), bawang putih (120 kg), tepung terigu (100 kg), dan ayam beku (25 ekor). Harga komoditas lebih rendah dari pasaran atau sesuai dengan harga eceran terendah dari Perum Bulog.

Hal yang sama terjadi di pasar murah yang digelar Polsek Jagakarsa di Ciganjur. Polres Metro Jakarta Selatan berencana menggelar 12 pasar murah menjelang Lebaran. “Kebutuhan Lebaran selalu tinggi. Lalu harga-harga juga naik. Jadi, saya tertolong sekali kalau ada seperti ini,” kata warga Ciganjur, Nurjanah (55), yang rela mengantre sejak pagi.

Menurut Lurah Cipete Utara Mohamad Yohan, pasar murah sangat diharapkan warga karena selisih harga cukup besar dibanding harga pasaran. Tetapi, dampaknya belum signifikan, kurang banyak, dan minim sosialisasi. Menurut dia, agar lebih berdampak, setidaknya pasar murah digelar sepekan sekali dengan sosialisasi yang gencar. (IRE/DEA)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button