Kliping

Banjir Mengintai di Kali Sunter yang Belum Dinormalisasi

Pembangunan turap yang memagari Kali Sunter sampai saat ini masih belum rampung seperti terlihat di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin (10/4). Pada sisi kanan jembatan, sungai menyempit dan pembangunan turap belum dilanjutkan karena terkendala pembebasan lahan. Normalisasi Kali Sunter sepanjang 20 kilometer pada tahun 2011-2014 baru tercapai 60 persen. (KOMPAS/RIZA FATHONI)
Pembangunan turap yang memagari Kali Sunter sampai saat ini masih belum rampung seperti terlihat di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin (10/4). Pada sisi kanan jembatan, sungai menyempit dan pembangunan turap belum dilanjutkan karena terkendala pembebasan lahan. Normalisasi Kali Sunter sepanjang 20 kilometer pada tahun 2011-2014 baru tercapai 60 persen. (KOMPAS/RIZA FATHONI)

Normalisasi Kali Sunter yang baru mencapai 60 persen dari target rencana 20 kilometer mulai dari hulu ke hilir membuat sejumlah titik, terutama di Cipinang Melayu dan Cipinang Muara, Jakarta Timur, terus tergenang banjir. Selain karena kali belum ditanggul, banjir di wilayah itu juga disebabkan lokasinya rendah. Warga setempat mencatat banjir besar terjadi sejak 1975.

Daud Budiman (78), warga RT 004 RW 004 Cipinang Melayu, sedang duduk di teras rumah yang berada 10-15 meter dari bantaran Kali Sunter. Rumah Daud berada di seberang kali sehingga untuk mencapainya harus melintasi jembatan sederhana dari kayu dan besi tua. Sejak tinggal di rumah itu pada 1975, Daud mencatat pasang-surut luapan banjir dari Kali Sunter.

“Tahun 2002, banjirnya parah sampai jendela rumah saya (sekitar 2 meter) terendam semua. Tahun ini masih banjir, tetapi hanya 1 meter. Kami semua harus mengungsi di Universitas Borobudur,” ujar Daud.

Tak jauh dari rumah Daud terlihat tanggul beton yang menjadi pembatas kali belum terpasang sempurna. Kali yang sudah bertanggul terlihat lebih dalam. Sementara itu, kali yang masih alami tanpa tanggul beton terlihat menyempit dan lebih dangkal. Di sisi kiri dan kanan kali, warga dan Pemerintah Provinsi DKI memagari kali dengan batu kali dan bambu.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Sekitar 1975, air Kali Sunter masih digunakan untuk mengairi sawah. Kawasan di sekitar Cipinang Melayu sebagian besar adalah areal persawahan. Bahkan, di RW 004 yang kini menjadi permukiman padat penduduk pernah ada bendungan yang fungsinya menampung air untuk persawahan. Bendungan itu kini sudah hilang dan berganti menjadi jembatan besi. Lokasinya masih berada di RW 004.

Baca juga :  Negara Harus Hadir dalam Perencanaan Tata Ruang Nasional

Seingat Daud, Kali Sunter di Cipinang Melayu pernah dua kali dikeruk, yaitu tahun 2002- 2004. Namun, Daud menduga aliran Kali Sunter menuju perumahan Cipinang Indah, Jakarta Timur, tidak lancar karena gorong-gorong menyempit dan banyak tersumbat lumpur.

Saat hujan lebat, air yang mengalir ke Cipinang Indah sangat lambat sehingga ruas di Cipinang Melayu cepat meluap. Badan kali tak siap menampung limpahan air yang melimpah dari daerah hulu. Akibatnya, pada musim hujan awal 2017 membuat tidak kurang dari 100 keluarga mengungsi. Warga mengungsi di kantor Kelurahan Cipinang Melayu dan Universitas Borobudur.

Normalisasi belum selesai

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) Teuku Iskandar mengatakan, rencana normalisasi Kali Sunter dari hulu ke hilir sejak 2011-2014 baru terlaksana 60 persen dari total target 20 km. Normalisasi belum rampung karena kendala pembebasan lahan. BBWSCC menargetkan tahun ini normalisasi Kali Sunter selesai.

“Normalisasi Kali Sunter masuk dalam program prioritas yang berkelanjutan. Pembebasan lahan menjadi tanggung jawab Pemprov DKI,” kata Iskandar, Selasa (4/4).

Kali Sunter membentang sepanjang 37 km dari Cicaheum, Depok, hingga ke Lagoa, Jakarta Utara. Wilayah hulu di Cicaheum berupa daerah tangkapan air (catchment) terbuka.

BBWSCC menargetkan proyek normalisasi itu akan selesai pada 2017 sembari melihat perkembangan pembebasan lahan dan kesiapan rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Program yang dimulai pada 2011- 2014 itu sempat terhenti dan realisasi anggarannya Rp 462 miliar. Saat ini, fokus normalisasi Kali Sunter adalah di area Kelurahan Cipinang Melayu di mana aliran Kali Sunter akan bertemu dengan inspeksi saluran Kalimalang.

Saat Kompas menyusuri aliran Kali Sunter di Pondok Bambu, Jakarta Timur, aliran kali ini ternyata juga bertemu dengan Kali Cipinang. Setelah itu, kali mengalir ke Kanal Timur. Di Kanal Timur, aliran Kali Sunter terhenti. Air Kali Sunter masuk ke Kanal Timur dan mengalir hingga ke muara di Marunda, Jakarta Utara.

Baca juga :  Pompa Tetap Disiagakan meskipun Normalisasi Ciliwung Rampung, Mengapa?

Joko Santang, operator pintu air di Kanal Timur, menuturkan, pintu air yang seharusnya mengalirkan air Kali Sunter ditutup sejak 2014. Alasan penutupan pintu air itu adalah karena ada banyak keluhan warga Kelapa Gading, Jakarta Utara. Warga menilai, banjir di kawasan mereka akibat pintu air di Kanal Timur dibuka.

Rumah Joko yang berada di RT 009 RW 003 Pondok Bambu, Duren Sawit, menurut rencana juga akan masuk dalam wilayah yang dinormalisasi. Rumahnya berada hanya beberapa meter dari bantaran kali. Menurut rencana, lahan yang akan dibebaskan seluas 10 meter persegi dari bantaran kali. Warga sudah diberi sosialisasi di kantor Kelurahan Pondok Bambu.

“Saya memiliki akta jual beli (AJB). Kami sudah dua kali rapat, masih dibahas apakah akan ada ganti rugi atau hanya dipindahkan ke rumah susun?” kata Joko.

Meski belum terlalu paham dengan dampak normalisasi kali, sebagian warga Cipinang Melayu berharap Kali Sunter dinormalisasi. Sebab, nyaris setiap tahun kawasan tersebut langganan terendam banjir. Banjir dari tahun ke tahun juga semakin parah.

Empi (50), warga RT 003 RW 003 Cipinang Melayu, mengatakan, pada 1983 banjir di Kali Sunter merendam semua rumah di kawasan itu sampai ke genteng.

Setelah itu, banjir besar kembali melanda pada 2002. Banjir masuk hingga menutup pintu rumah warga. Ia berharap, kapasitas gorong-gorong dan saluran air ditingkatkan sehingga air mengalir lancar. Selain itu, dia juga berharap program tanggul dilanjutkan.

(DIAN DEWI PURNAMASARI/JOHANES GALUH BIMANTARA/GESIT ARIYANTO)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2017, di halaman 28 dengan judul “Banjir Mengintai di Kali Sunter yang Belum Dinormalisasi”

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button