Kliping

Modernitas Belum Terlihat

Pulo Gebang Sekadar Tempat Baru Keberangkatan Bus AKAP

JAKARTA, KOMPAS —    Meskipun dirancang sebagai terminal modern, pengoperasian Terminal Terpadu Pulo Gebang di Jakarta Timur masih jauh dari ideal. Hingga Senin (6/2), Pulo Gebang sekadar menjadi tempat baru bagi keberangkatan bus antarkota antarprovinsi atau AKAP dari sejumlah terminal bantuan.

515c62ad66a0498e9558a2cdb22a9b50

Salah satu ketidaknyamanan di terminal ini terlihat dari penjualan tiket bus AKAP. Karyawan penjual tiket bus berkerumun menghadang calon penumpang.

Di gedung terminal tersedia 31 loket. Namun, jumlah itu tak cukup untuk menampung semua perusahaan otobus yang berjumlah lebih dari 70 PO. Akibatnya, karyawan PO menggelar lebih dari 40 meja loket sementara di area kios yang belum digunakan.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Kios itu berada tepat sebelum pintu masuk area keberangkatan. Akibatnya, saat penumpang menuju tempat keberangkatan, mereka langsung dihadang meja- meja penjualan tiket, termasuk karyawan PO. “Masih seperti di Terminal Pulogadung. Penumpang masih dicegat karyawan PO,” kata Rudi (37), penjual tiket bus PO Gunung Mulia.

Rudi mengatakan, PO Gunung Mulia sudah memiliki loket sejak 2015. Namun, karena sebagian besar PO menggelar meja penjualan tiket di dekat pintu masuk keberangkatan, dia juga ikut melakukan hal serupa. Kalau tidak ikut, saya tidak bisa memperoleh penumpang,” katanya.

Untuk menggelar meja-meja penjualan tiket itu, karyawan PO patungan Rp 150.000 untuk setiap PO. Uang itu dipakai untuk membeli karpet plastik sebagai alas lantai kios yang masih berupa lantai beton kasar dan untuk membeli spanduk.

“Mungkin anggaran pemerintah belum ada. Jadi, kami swadaya membuat loket sementara ini,” ujar Rudi.

Baca juga :  Bagaimana Bendungan Ciawi dan Sukamahi Bisa Kurangi Banjir di Jakarta?

Minim informasi

Informasi petunjuk arah bagi penumpang juga masih minim. Untuk menjangkau area keberangkatan, misalnya, hanya tersedia papan petunjuk arah di lantai dasar yang menunjukkan bahwa area keberangkatan berada di lantai dua.

Setelah mencapai lantai dua, tak tersedia lagi papan petunjuk menuju area keberangkatan itu. Penumpang harus bertanya kepada petugas atau karyawan PO di lantai dua. Jika bertanya ke karyawan PO, calon penumpang hampir pasti diminta untuk membeli tiket bus. Permintaan itu disampaikan karyawan PO dengan nada agak memaksa.

Demikian pula untuk calon penumpang angkutan kota. Tak tersedia papan petunjuk arah dan jurusan angkutan dalam kota yang memadai.

Beberapa penumpang kesulitan mencari angkutan kota, seperti metromini dan KWK. “Di mana ya saya bisa dapat angkot? Saya tidak punya kartu, jadi tidak bisa naik bus transjakarta,” kata Parmin (35), yang baru tiba dari salah satu daerah di Jawa Tengah.

Parmin akhirnya memutuskan keluar dari gedung terminal. Padahal, angkutan kota yang dibutuhkan Parmin berada satu lantai dengan area bus transjakarta.

31588eac3cf24b0e8bebf039dd9603c2 f8d1348ce3ec48d0a8a45a978d6884f5

Menurut Kepala Operasional Unit Pelaksana Teknis Terminal DKI Jakarta Syamsul Mirwan, semua bus AKAP tidak boleh lagi beroperasi di terminal bantuan, yakni Rawamangun, Pinang Ranti, Grogol, Muara Angke, Tanjung Priok, Tanah Merdeka, dan Pasar Minggu. “Terminal bantuan dikembalikan pada fungsinya sebagai terminal dalam kota,” katanya.

Bus-bus AKAP jurusan Jawa didorong ke Terminal Pulo Gebang, sedangkan bus jurusan Sumatera dipusatkan di Kalideres, Jakarta Barat, dan Kampung Rambutan untuk bus AKAP tujuan Jawa Barat.

Sebelumnya, Kepala Terminal Pulo Gebang Ismanto mengatakan, Pulo Gebang kini masih dalam penataan. “Petunjuk arah untuk penumpang di dalam terminal itu masih kurang. Namun, kami berusaha memenuhinya dengan bertahap,” katanya.

Baca juga :  Dinas SDA Siagakan 451 Pompa

Di Terminal Tanjung Priok, kemarin, bus AKAP tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menaikkan penumpang.

Agen PO Pahala Kencana Tanjung Priok, Agus (58), mengatakan, jumlah bus Pahala Kencana yang berangkat dari Terminal Tanjung Priok berangsur-angsur berkurang karena manajemen takut diberi sanksi oleh pemerintah. “Biasanya empat sampai lima pemberangkatan per hari, sekarang hanya dua pemberangkatan per hari,” katanya.

Agus mengakui, para agen sudah menerima sosialisasi pemindahan ke Terminal Pulo Gebang. Namun, kepastian tenggat pemindahan bagi bus-bus yang selama ini berhenti di Terminal Tanjung Priok belum jelas.

Lebih aman

Salah satu keunggulan Pulo Gebang adalah keamanan di terminal. Ketler Panjaitan (56), salah satu karyawan PO, mengatakan, petugas keamanan di dalam terminal dapat bertindak cepat jika ada keributan.

Ia mencontohkan, sebelumnya ada karyawan PO yang memukul penumpang. Setelah dilaporkan kepada petugas keamanan, karyawan PO itu dilarang masuk Terminal Pulo Gebang. “Sampai sekarang karyawan PO itu tidak pernah muncul,” katanya.

Sadino (50), penumpang tujuan Solo, Jawa Tengah, juga merasakan keamanan di dalam Terminal Pulo Gebang jauh lebih baik dibandingkan Pulogadung. “Kalau di Terminal Pulogadung, saya harus berhati-hati. Banyak copet dan penodong di sana,” katanya.

Selain masalah keamanan, hal yang berbeda baru tampak pada pemisahan jalur penumpang dengan jalur bus AKAP. Tak lagi dijumpai penumpang lalu lalang di antara bus.

Sementara di lantai dasar gedung terminal, yang merupakan area komersial, mulai digunakan pedagang. Namun, kios berukuran 6 meter x 5 meter itu hanya digunakan sebagian dan selebihnya pedagang menggunakan area kosong di tengah untuk memajang barang dagangannya. Akibatnya, suasana di dalam terminal menjadi tidak nyaman dan tampak berantakan.

Baca juga :  Gubernur Kritik Usulan Sosialisasi di Musrenbang Jakarta Barat

12d9762c08554aa4b41ccaaa41751eb3

 

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button