Kliping

Wika Kontraktor Utama Proyek LRT

JAKARTA, KOMPAS — Direktur Utama PT Jakarta Propertindo Satya Heragandhi, Rabu (21/12), memastikan PT Wijaya Karya merupakan BUMN Karya yang memenangi beauty contest yang dilakukan Jakpro. Wika terpilih setelah melalui serangkaian proses pemilihan dan bisa mulai melakukan pekerjaan.

Seperti telah diberitakan, Jakarta Propertindo (Jakpro) mendapat penugasan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun kereta ringan (LRT) yang akan dipakai sebagai angkutan massal pendukung Asian Games 2018. Dengan penugasan itu, Jakpro boleh menunjuk BUMN Karya yang menjadi kontraktor utama LRT.

Untuk menggarap proyek penugasan itu, Jakpro memiliki dua dasar hukum, Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Perpres No 99/2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Perkeretaapian Umum di Wilayah DKI Jakarta. Satu lagi adalah Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2016 tentang Perubahan Ketiga atas PP No 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

Satya menjelaskan, Jakpro memenuhi langkah-langkah sesuai PP No 54/2016 tersebut untuk melakukan penunjukan BUMN Karya. Proses dimulai pada Oktober dengan menyebar undangan kepada sembilan BUMN Karya. Namun, yang memenuhi undangan dan menyerahkan dokumen prakualifikasi hanya enam BUMN. ”Dari enam itu, terpilih tiga BUMN yang memenuhi syarat yang diminta Jakpro, yaitu Waskita Karya, Hutama Karya, dan Wijaya Karya. Jakpro lalu meneruskan proses pemilihan lagi untuk mendapatkan satu pemenang,” ujar Satya.

Sesuai syarat yang diajukan Jakpro, karena LRT merupakan proyek yang betul-betul baru, BUMN Karya juga mesti bermitra dengan kontraktor asing yang berpengalaman dengan teknologi LRT serta dapat membangun dengan cepat.

Waskita Karya menggandeng perusahaan dari Perancis, Hutama Karya menggandeng perusahaan Tiongkok, sementara Wijaya Karya menggandeng perusahaan Korea Selatan. Dari seleksi terakhir Jakpro akhirnya memilih Wijaya Karya (Wika) yang menggandeng Korea Railway Network Authority. ”Surat penunjukan mulai kerja (SPMK) bagi Wika kami terbitkan 20 Desember,” ujar Satya.

Jakpro dan Wika akan segera menindaklanjuti penerbitan SPMK dengan penandatanganan kontrak, juga menyelesaikan proses administrasi yang tersisa. ”Target Januari 2017 konstruksi sudah mulai, manajemen proyek dan konsultan pengawas juga termasuk di dalamnya,” ujar Satya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta Tuty Kusumawati mengatakan, Pemprov DKI mendukung keputusan Jakpro. ”Jika Wika sudah terpilih, berarti sudah mulai bisa bekerja,” ujarnya.

Allan Tandiono, Direktur Proyek LRT, dalam acara dengar pendapat awal Desember, menyebutkan, sebagai proyek fase pertama P102 Kelapa Gading-Velodrom sepanjang 5,6 kilometer dan terdiri atas enam stasiun.

60 MW untuk MRT

Untuk kelancaran operasional transportasi massal cepat (MRT), PLN Distribusi Jakarta Raya berkomitmen memasok listrik hingga 60 MW. Pasokan ditargetkan bisa dimulai akhir 2017. Nyoman Astawa, Kepala Divisi Operasi PLN Regional Jawa Bagian Barat, seusai penandatanganan surat perjanjian jual-beli tenaga listrik antara PLN dan PT MRT, kemarin, menjelaskan, dari simulasi, daya yang dibutuhkan saat waktu sibuk berbeda dengan waktu di luar waktu sibuk.

Saat peak hour diperkirakan daya yang dibutuhkan sekitar 60 MW. Di luar waktu sibuk, daya yang dibutuhkan 40 MW. Dari sisi harga, MRT akan membayar Rp 1.300 per kWh. ”MRT merupakan layanan pelanggan premium silver karena memerlukan pasokan yang lebih tinggi dari pelanggan biasa,” ujarnya.

Agung Wicaksono, Direktur Operasional dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, menyatakan, dari simulasi awal, MRT Jakarta akan beroperasi 19-20 jam. Waktu sibuk pukul 05.30-09.00 dan 16.00-19.00. ”Saat waktu sibuk, kereta akan datang setiap lima menit,” ujarnya. (HLN)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button