Kliping

Kisruh akibat Tumpang Tindih

Penguatan Kewenangan BPTJ Dipandang Perlu untuk Mengurai Masalah

JAKARTA, KOMPAS — Protes awak angkutan kota K56 jurusan Cileungsi-Cawang atas operasi bus transjakarta, pekan lalu, serta sejumlah kasus serupa sebelumnya, dinilai terjadi karena karut-marutnya pengaturan trayek. Pemerintah didesak segera mengevaluasi dan mengatur ulang rute angkutan umum.

dd84b25999c24245bace8a749c9422aa

Para sopir angkot K56 datang ke Balai Kota Jakarta, Jumat (23/12), menuntut peninjauan ulang transjakarta rute Depok-Cawang. Sebab, sejak transjakarta beroperasi di rute itu, Juni 2016, pendapatan mereka turun. Mereka menilai bus-bus transjakarta itu mengambil sebagian besar penumpang mereka di Mal Cibubur Junction, Ciracas, Jakarta Timur.

Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Sumarsono pun menanggapi tuntutan itu. Dia meminta PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menghentikan sementara operasi di Cibubur Junction sampai ada jalan keluar.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Sebelumnya, penolakan terhadap operasi transjakarta di rute tertentu juga sempat disampaikan awak angkutan di dalam provinsi. Para sopir dan kernet Kopaja T57 rute Blok M-Kampung Rambutan dan Metromini S69 rute Blok M-Ciledug, misalnya, memprotes operasi transjakarta yang berimpitan dengan rute mereka, September 2016.

Guru Besar Ilmu Transportasi dan Rekayasa Lalu Lintas Universitas Tarumanagara Leksmono Suryo Putranto, Minggu (25/12), berpendapat, konflik antaroperator terjadi akibat tumpang tindihnya rute angkutan umum. Sejumlah protes dan penolakan mengindikasikan adanya persoalan terkait dengan pengoperasian rute-rute baru transjakarta.

Menurut Leksmono, pembukaan rute baru idealnya mengacu pada hasil kajian yang matang dan rencana induk transportasi. Dia menganggap operasi sebagian rute baru transjakarta terburu-buru. Operator lama dirugikan karena terimbas langsung oleh persaingan.

Setahun terakhir, PT Transjakarta memang agresif membuka rute-rute baru serta menggantikan bus-bus operator lama dengan armada baru. Cara ini diharapkan menarik pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Baca juga :  Hutan Kota Kampung Dukuh di Jakarta Timur Terbengkalai

Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono menyebutkan, sterilisasi koridor, penambahan armada, serta perluasan rute membuat grafik jumlah pengguna naik. Pada Januari 2016, rata-rata jumlah penumpang 275.000 orang per hari. Sementara pada November 2016 jumlah penumpang naik jadi rata-rata 402.000 orang per hari.

Menyayangkan

Kalangan penumpang di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menyayangkan penghentian operasi bus transjakarta yang mencapai Cibubur Junction itu. Ria (37), salah satunya, kini harus menumpang angkot dulu agar dapat melanjutkan perjalanan dengan bus transjakarta menuju Jakarta Pusat tempat ia bekerja.

“Sebelum dihapus, bisa langsung naik bus transjakarta dari depan Cibubur Junction. Sekarang harus naik angkot dulu ke Cililitan untuk naik bus transjakarta,” ujarnya.

Ia berharap agar trayek transjakarta hingga Cibubur Junction bisa dioperasikan kembali karena membantu warga yang bermukim di pinggiran Jakarta.

Sekretaris Dewan Transportasi Kota Jakarta David Tjahjana berpendapat, pada kasus protes awak K56 ini, peran Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sangat diperlukan untuk mengatur ulang trayek. Baik David maupun Leksmono menilai BPTJ perlu diperkuat kewenangannya terkait tugas-tugasnya.

“Jika hanya bisa mengimbau dan tanpa kewenangan memberikan sanksi, problem pengaturan lintas wilayah bakal sulit ditangani,” kata Leksmono.

Penumpang KRL naik

Dalam perkembangan lain, selama musim libur hari raya Natal, penumpang KRL Commuter Line meningkat 10 persen dari hari biasa. Akhir pekan lalu, terpantau jumlah pengguna KRL Jabodetabek meningkat dibandingkan dengan Sabtu-Minggu biasanya. Jumlah pengguna pada Sabtu (24/12)-Minggu (25/12) berkisar 690.000-720.000 pengguna setiap hari. Pada akhir pekan normal, jumlah penumpang rata-rata 650.000-700.000 pengguna per hari.

Vice President Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Eva Chairunisa, Senin (26/12), mengatakan, meski musim liburan, tak ada pengurangan jumlah perjalanan KRL. PT KCJ tetap mengoperasikan 881 perjalanan per hari.

Baca juga :  ITF Ditargetkan Beroperasi pada 2019

Untuk memastikan pelayanan berjalan dengan baik, PT KCJ juga menambah jumlah petugas pelayanan, keamanan, dan kebersihan di sejumlah stasiun besar, seperti Bogor, Manggarai, Juanda, dan Jakarta Kota, yang kerap dipadati pengguna musiman. Jajaran manajemen PT KCJ pun terjun langsung ke lapangan melalui posko-posko di sejumlah stasiun besar hingga 8 Januari 2017.

“Melihat banyaknya pengguna pada musim liburan ini, PT KCJ mengimbau pengguna untuk selalu memperhatikan keberadaan dan keselamatan anak-anak,” ujar Eva.

Untuk libur panjang akhir pekan Tahun Baru, PT KCJ juga telah menyiapkan perjalanan KRL tambahan khusus pada malam pergantian tahun sebanyak 21 perjalanan. Tiap-tiap rangkaian tambahan terdiri atas delapan kereta dan diperkirakan bisa menampung 1.600-2.000 penumpang. Operasional KRL juga akan diperpanjang hingga pukul 02.00.

KCJ juga menyarankan kepada pengguna agar memakai kartu multitrip dengan sistem saldo supaya tak perlu mengantre lama. Namun, bagi pengguna tiket harian berjaminan pergi pulang (THB PP) disarankan membeli tiket untuk perjalanan pergi sekaligus perjalanan pulang di stasiun keberangkatan. Dengan menggunakan THB PP, pengguna tak perlu lagi mengantre di loket untuk isi ulang tarif perjalanan pulangnya.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button