Kliping

Benahi Program Trotoar

DKI Diminta Gandeng 20 Instansi Terkait Jalur Pejalan Kaki

JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan dan pelebaran trotoar di 42 lokasi di Jakarta tahun ini dinilai memiliki potensi masalah. Selain perencanaan yang tidak melibatkan semua instansi dan lembaga pemangku, desain dan rancangannya dianggap belum ramah bagi penyandang disabilitas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu membenahi programnya.

82c26b6b0d174833965d0ec60dc919df

Pegiat Komunitas Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, Rabu (7/12), berpendapat, perencanaan revitalisasi trotoar belum mengakomodasi seluruh pemangku. Padahal, ada setidaknya 20 instansi atau lembaga yang berkepentingan di trotoar baik swasta maupun pemerintah, antara lain dinas bina marga, dinas pertambangan dan energi, dinas perhubungan, serta PLN, Telkom, dan Perusahaan Gas Negara.

Pemprov DKI Jakarta melalui dinas bina marga dan suku dinas bina marga berencana merevitalisasi trotoar di 49 titik di lima kota administrasi tahun ini. Namun, tujuh di antaranya ditunda karena terkendala, antara lain, bentrok dengan proyek lain di lapangan dan sebagian pelaksana tak sanggup menyelesaikannya sampai akhir tahun.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

“Apakah ada jaminan trotoar yang dibangun dan diperlebar saat ini tidak dibongkar lagi ke depan? Sementara belum ada kesepahaman dengan pemangku lain. Desain juga belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas, seperti petunjuk jalur yang terputus ataupun muka trotoar terlalu tinggi di beberapa titik,” paparnya.

Infrastruktur untuk utilitas juga dinilai belum memadai. Menurut Alfred, lubang dan terowongan untuk menanam kabel atau jaringan di ruas trotoar yang dibangun di Tanah Abang, Jakarta Pusat, misalnya, terlalu sempit dan sebagian dipenuhi sampah ataupun lumpur.

Baca juga :  Begini Cara Mudah Hitung KLB

Kepala Seksi Pembangunan dan Peningkatan Dinas Bina Marga DKI Jakarta Ricky Janus menyatakan, rancangan dan data teknis trotoar yang akan dibangun dibuka kepada publik dalam dokumen lelang. Selain diperlebar, beberapa titik trotoar dilengkapi lubang khusus untuk utilitas air, listrik, dan gas. Kebutuhan titik untuk tiang lampu lalu lintas, penerangan jalan umum, dan rambu juga diakomodasi sehingga kelak trotoar tidak dibongkar pasang lagi.

Total panjang trotoar di seluruh jalan arteri dan kolektor di DKI Jakarta, kata Ricky, mencapai 2.600 kilometer. Selama ini, pembangunan dan pemeliharaan trotoar terkendala anggaran. Karena itu, revitalisasi diprioritaskan di kawasan pusat-pusat kegiatan serta pertemuan moda transportasi publik.

Di Jakarta Pusat, pembangunan trotoar di Jalan Bungur, Senen, mencapai tahap akhir. Trotoar dibangun sepanjang Jalan Bungur hingga Jalan Gunung Sahari. Namun, trotoar yang sudah dilengkapi alat bantu bagi penyandang tunanetra itu justru beralih fungsi menjadi tempat parkir ataupun diokupasi pedagang kaki lima.

Bekasi dan Bogor

Di Kota Bekasi, penataan trotoar juga gencar dilakukan. Proyek penataan trotoar 1,4 km di sisi barat Jalan Ahmad Yani, misalnya, menelan anggaran Rp 27 miliar dari APBD Kota Bekasi 2016. “Untuk sisi timur akan ditata pada 2017 dengan jumlah anggaran yang sama,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi Tri Adhianto, Rabu.

Dari Bogor, Rabu pagi, Wali Kota Bogor Bima Arya meresmikan Tepas Salapan Lawang Dasakerta (TSLD) sebagai ikon Kota Bogor. Ikon ini berlokasi di persimpangan Tugu Kujang, Bogor Tengah. TSLD dibangun dengan dana APBN Rp 2,8 miliar melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pembangunannya diselaraskan dengan program pelestarian kota-kota pusaka di seluruh Indonesia, termasuk Kota Bogor.

Baca juga :  Dari 69 Gedung yang Kena Razia Air di Sudirman-Thamrin, Baru 4 yang Sudah Penuhi Ketentuan

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button