Kliping

Jambu Air dari Muara Ciliwung

Ciliwung bukan sekadar sungai. Cerita tentang Jakarta dan perjuangan warganya mengalir seiring liukan sungai yang membelah kota. Saat ini, di salah satu muara anak Ciliwung, orang-orang berupaya bersinergi dengan sungai. Berusaha menepis stigma dengan menjadi warga berdaya.

1a3934d4f05a43eba806cec635331bb0

Sabtu (12/11) siang, Kampung Tongkol yang berdekatan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa tampak ramai. Anak-anak kecil berlarian, bermain di jalanan selebar lebih kurang 5 meter yang tak rata. Ada yang dilapis konblok, ada yang masih jalan tanah. Anak muda sibuk menyiapkan perahu, membuat mural di tembok, atau sekadar menemani tamu yang datang. Orang tua mempersiapkan makanan dan minuman, juga membakar ikan.

Warga lain bercengkerama di bale-bale depan rumah di bawah pohon jambu air atau mangga yang tumbuh di tepian sungai. Aliran anak Ciliwung mengalir cukup deras. Di seberang sungai, Sri Rohayati (52) mengumpulkan jambu air yang dipetik Narso (57), tetangga Sri di RT 004 RW 001, Lodan, Pademangan, Jakarta Utara.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

”Mau bawain jambu buat ibu- ibu di tempat festival,” ujar Sri. Di siang yang terik, rasa manis dan air dari buah itu menghilangkan dahaga.

Narso, buruh, menempati rumah bercat merah berukuran 3 meter x 5 meter. Dua rumah dari situ, rumah Sri terimpit rumah di kiri-kanannya, hanya berukuran 3 meter x 2 meter. Begitu masuk ke rumah Sri, pintu kamar mandi menyambut. Tangga kayu berada di sisi kiri, tepat di atas kompor. Alat masak digantung di tembok. Lantai dua adalah hamparan kasur dan lemari. ”Kalau tidur, kaki pas di tembok. Tetapi enggak apa-apa, daripada tidak punya rumah,” ujar ibu dua anak ini. Anak Sri tidak menetap di Jakarta.

Baca juga :  Ambrolnya Tembok Perimeter Selatan yang Munculkan Dugaan Korupsi...

Rumah bercat kuning terang itu ditempati Sri sejak 1985. Perlahan, dia membangun rumah berlantai dua. Sebelum tahun 2015, rumah Sri jauh lebih panjang. Setahun lalu, rumah itu dipotong 3 meter. Hal yang sama dilakukan seluruh warga di RW 001 yang terletak di bantaran anak Ciliwung ini.

Mereka memperjuangkan penataan kampung sendiri dibimbing beberapa komunitas pemerhati sungai dan pelestari kampung. Rumah-rumah kini menghadap sungai, bantaran jauh lebih lebar, bersih, dan hijau. Di bagian yang mepet sungai, warga menanam tanaman, seperti pare, pepaya, dan jambu air.

Sungai dan manusia

69217e6da9434da8bb0f5287b8d47452

Perayaan Hari Ciliwung 2016 dipusatkan di wilayah muara, meliputi Kampung Tongkol, Kerapu, dan Lodan di RW 001, yang semuanya di bantaran sungai. Sejumlah kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu dan Minggu. Lomba penataan dan kebersihan kampung mengawali, disusul lomba mural, dan balap perahu. Kegiatan ini ditutup panggung gembira pada Minggu malam. Warga secara swadaya mempersiapkan acara tersebut.

Ketua RT 008 RW 001 Andi Amir menuturkan, perayaan ini sebagai puncak kegiatan warga yang dilakukan selama ini. Itu sekaligus untuk membuat masyarakat semakin menghargai dan menjaga sungai yang melintasi perkampungan mereka. Selain mengimbau agar tidak membuang sampah ke sungai, sejumlah hal juga diajarkan dalam keluarga. Salah satunya dengan mengambil makanan tidak berlebihan.

”Selain tidak mubazir, sampah yang dihasilkan juga tidak banyak. Kami juga ada pelopor- pelopor yang ditantang untuk tidak berbelanja dengan kantong plastik. Berharap nantinya ini menyebar dan menjadi modal sosial,” katanya.

Konsep penataan kampung seperti ini telah diusulkan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Terhitung sudah dua tahun mereka berusaha agar tetap bisa menetap dan diakui pemerintah sebagai warga ”legal”. Namun, usulan itu belum disetujui pemerintah. ”Seperti mau meminang gadis, maka kami memperbaiki diri. Kalau kami menuntut tetapi tak bikin apa-apa juga salah,” kelakar Amir.

Baca juga :  Upaya Ekstra Olah Limbah

Oswar Muadzin Mungkasa, Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, mengapresiasi gagasan dan inisiatif warga. Hal itu adalah contoh semangat baik yang harus disebarkan ke daerah lain, apalagi dirangkaikan dengan peringatan Hari Ciliwung. Namun, berbicara aturan yang berlaku, tinggal di suatu wilayah tanpa izin tetap melanggar.

”Jadi, kalau bicara daerah ini akan digusur, ya tetap (digusur) selama aturannya seperti sekarang. Namun, mungkin bukan dalam waktu dekat karena bukan prioritas.,” kata Oswar, yang hari itu didaulat menjadi juri penataan kampung.

Sebelumnya, Ketua Ciliwung Institute Sudirman Asun menjelaskan, solusi pemerintah menyeragamkan solusi membuat permasalahan tidak selesai. ”Solusi yang ada, dengan tanggul dan normalisasi malah solusi semu, memindahkan warga ke rusunawa juga menghilangkan warga dengan narasi sungai, dan mencabut warga dari akar sosialnya,” katanya.

Sungai bukan sekadar jalur air, melainkan bagian tidak terpisah dari kehidupan warga. Warga di bantaran sungai ini berusaha memperbaiki diri, lingkungan, dan sungai sembari berharap pemerintah mempunyai solusi yang lebih adil dan tidak seragam. Jika pemerintah tetap bersikeras, pohon-pohon di bantaran akan berganti beton. Manisnya jambu air di tengah guyubnya kampung tidak lagi terasa.

Artikel terkait

Leave a Reply

Cek juga
Close
Back to top button