Kliping

Warga Tawarkan Pilihan Solusi

Oswar Mungkasa: Rusunawa bagi Nelayan di Pasar Ikan-Luar Batang

JAKARTA, KOMPAS — Hingga Selasa (8/11), atau sekitar enam bulan sejak rumah mereka diratakan dengan tanah, warga kawasan Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, belum mendapat sosialisasi apa yang akan dibangun di lahan bekas rumah mereka tersebut.

81e2e225d8804332b8a5f803577cb373

Menurut salah satu warga yang bertahan di lahan gusuran tersebut, Dharma Diani (40), sedikitnya ada 119 keluarga yang masih bertahan di Kampung Akuarium, kawasan Pasar Ikan. Mereka tinggal di tenda-tenda darurat dan bedeng-bedeng semipermanen yang terbuat dari papan bekas atau tripleks.

Sehari-hari, kebutuhan listrik mereka dapatkan dari lampu jalan, generator set, ataupun menarik kabel dari Kampung Luar Batang di sebelahnya.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

“Ada beberapa orang yang dulu sudah pindah ke rusun, tetapi sekarang balik lagi ke sini. Di sana mereka tidak punya pekerjaan, jadi tak sanggup bayar sewa rusun,” ujar Diani kepada para wartawan dari sejumlah kota di Indonesia dan Jerman, Selasa. Para wartawan itu adalah peserta Dialog Media Jerman-Indonesia 2016 yang diselenggarakan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta dan Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit.

Edi Ruliyanto (45), warga lain yang masih bertahan di Pasar Ikan, menambahkan, hingga enam bulan setelah penggusuran, belum jelas apa yang akan dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di tempat tersebut.

“Sosialisasi (tentang apa yang akan dibangun) belum ada. Saya ngobrol sama (pekerja) yang memasang sheet pile, (mereka) juga tidak tahu,” kata Edi.

Pekerjaan pembangunan yang berjalan kemarin hanya pemasangan sheet piledengan alat berat di saluran yang memisahkan Pasar Ikan dengan Luar Batang. Selain itu, sejumlah pekerja tampak melanjutkan pembangunan tembok beton setinggi 2 meter yang mengelilingi kawasan Pasar Ikan.

9774aa95b6114b4eadb0f3853d2c0ab2 b158bcc6a66a45c7969d902f1d26988c

Kawasan permukiman di Pasar Ikan dibongkar pada 11 April 2016. Waktu itu, Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan mengatakan, kawasan Pasar Ikan akan dibangun menjadi sentra wisata bahari yang tersambung dengan Kota Tua Jakarta (Kompas, 13/4). Meski demikian, Pemprov DKI mengakui belum ada rencana induk terkait penataan kawasan tersebut (Kompas, 27/4).

Ketidakpastian kelanjutan penataan kawasan itu membuat warga menduga-duga rencana Pemprov. Diani mengaku mendapat informasi bahwa penggusuran ini dilakukan agar bisa dibangun jalan menuju kompleks apartemen dan ke Pulau H, salah satu pulau reklamasi.

Menurut Diani, saat ini proses gugatan kelompok (class action) warga Pasar Ikan atas penggusuran ini masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pada saat bersamaan, warga juga hendak mengajukan usulan solusi berbagi lahan kepada Pemprov.

Gambar rancangan yang dipamerkan warga berupa konsep rumah susun panggung empat lantai yang dibangun di sisi barat Pasar Ikan. Di depannya ada lahan buat taman yang terintegrasi dengan cagar budaya Pasar Heksagon. “Kami baru dapat rancangan ini dua minggu lalu dari Rujak Center. Ini mau ketemu Pak Oswar (Oswar Muadzin Mungkasa, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup), tapi beliau masih sibuk,” katanya.

Menata rusunawa

Oswar, saat jadi pembicara di seminar “Urbanization, Urban Housing, and Housing Finance in Indonesia”, Senin (7/11), di Jakarta, mengatakan, saat ini DKI baru pada tahap membenahi bantaran sungai, waduk, dan pantai dari okupasi liar. “Kami baru membenahi bantaran dan warga yang selama ini menghuninya dipindahkan. Kami menyebutnya relokasi,” katanya.

Terkait rencana penataan di Pasar Ikan dan Luar Batang, Oswar menambahkan, DKI telah berencana membangun rusunawa bagi nelayan yang terpaksa harus direlokasi. “Rusunawa itu nantinya menghadap ke laut. Warga bisa melihat perahu-perahunya dari jendela unit rusunnya. Lokasi rusunawa juga masih di kawasan itu,” katanya.

Dalam penjelasannya, Oswar juga mengakui masih banyak rusunawa milik pemerintah perlu dibenahi. “Rusunawa-rusunawa yang kini sudah dihuni akan ditata. Alternatifnya, mungkin satu lantai di bagian tengah dikosongkan untuk ruang terbuka bagi penghuni,” katanya.

Oswar menyatakan, rata-rata subsidi pemerintah untuk membangun rusunawa mencapai 80 persen. Padahal, tiap tahun ditargetkan membangun 50.000 unit rusun. Menghindari kebangkrutan, DKI pun menggandeng pihak swasta untuk membangun rusunawa. Bisa melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau skema lain yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kampung

Prof Johan Silas dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, yang juga menjadi pembicara di seminar yang sama, mengingatkan pentingnya pelestarian dan pemberdayaan kampung di kota. Arsitek lulusan ITB yang juga penata kota dan pakar permukiman itu turut andil dalam penataan Kota Surabaya di Jawa Timur. Surabaya kini adalah kota bagi semua dengan kampung berkelas dunia.

“Kota-kota di Indonesia, juga di Asia pada umumnya, dibentuk dari kampung-kampung. Kampung ini adalah desa yang berkembang mengurban. Kampung adalah ciri khas kota kita yang dihuni berbagai kelas masyarakat. Asal ditata dengan baik, kota justru tambah cantik dan ketahanannya teruji,” kata Johan.

Johan mengingatkan, penataan kota jangan sampai menggusur kampung. Surabaya bisa menjadi salah satu contoh penataan kota berbasis kampung yang berhasil di Indonesia.

9a7059896b114a05a4a53a71314c7334

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button