Kliping

Superblok Menjamur dan Jalan yang Makin Terbebani

Pengembangan suatu kawasan seharusnya diimbangi dengan penyediaan akses publik. Muncul dan berkembangnya kawasan superblok, yang di Indonesia diartikan sebagai kompleks pusat perbelanjaan, perkantoran, dan hunian tinggi/apartemen, seharusnya mempertimbangkan aksesibilitas jalan. Tanpa itu, akan muncul kemacetan yang tidak hanya berdampak di lokasi pengembangan, tapi juga memengaruhi arus lalu lintas di sekitarnya.

Sabtu (15/10) sore, kemacetan panjang mengular di Jalan S Parman menuju Mal Taman Anggrek dan kawasan Podomoro City. Kemacetan juga terpantau dari Jalan Arjuna Selatan arah Kembangan. Beberapa mobil terlihat keluar dariexit tol Kebon Jeruk yang berada tepat di depan mal baru, Neo Soho. Seluruh penjuru jalan terlihat penuh oleh mobil. Sepeda motor pun kesulitan mencari celah jalan. Laju bus transjakarta ikut tersendat. Perjalanan dari Palmerah ke Tanjung Duren yang berjarak 4,9 kilometer ditempuh lebih dari satu jam. Padahal, dalam kondisi normal, waktu yang diperlukan hanya sekitar 30 menit.

Di lokasi tersebut setidaknya ada tiga pusat perbelanjaan besar, yaitu Mal Taman Anggrek, Central Park, dan Neo Soho. Central Park dan Neo Soho dikembangkan oleh PT Agung Podomoro Land (APL). Selain itu, ada beberapa apartemen, kondominium, dan hotel yang sudah beroperasi di kawasan itu. Sebagian masih dalam proses pembangunan.

Saat mal tutup sekitar pukul 22.00, lalu lintas kembali macet. Akses di beberapa titik pintu keluar terkunci. “Aduh, macet banget, nih, enggak kaya biasanya. Entar dululah pulangnya kalau sudah nggak macet,” ujar perempuan pengunjung mal.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Berdasarkan data Dinas Penataan Kota DKI Jakarta, wilayah Tanjung Duren Selatan adalah zona campuran yang bisa digunakan untuk perumahan ataupun komersial. Dalam Perda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta, pengembang diwajibkan membangun akses di dalam lingkungan apartemen dengan lebar 15 meter, 14 meter, dan 10 meter. Lebar jalan disesuaikan dengan lokasi zonasi.

Baca juga :  Serapan Anggaran Dinas KPKP Capai 14,92 Persen

Di Jakarta, kondisi serupa ditemukan pula di kawasan Mega Kuningan yang bersilangan dengan Jalan Casablanca dan di Kemang yang bersilangan dengan Jalan Antasari di Jakarta Selatan. Belum lagi kasus adanya mal besar di persimpangan Semanggi yang sampai saat ini memicu kemacetan di Jalan Gatot Subroto.

Gaya hidup

Anggota Staf Informasi Rencana Kota dan Bangunan Dinas Penataan Kota DKI Purwa Septa Dupit T mengatakan, sesuai surat izin penunjukan penggunaan tanah, pengembang seharusnya memenuhi beberapa persyaratan, seperti mengantisipasi kemacetan lalu lintas, menyediakan akses simpul jalan, akses angkutan umum, jembatan penyeberangan, dan lain-lain. Apabila lebar jalan tidak sesuai dengan yang tertera di RDTR, Pemprov DKI bisa melebarkan jalan sesuai dokumen RDTR.

“Pengembang harus menyerahkan fasilitas umum dan fasilitas sosial kepada pemerintah. Jika ternyata jalan masuk dan jalan lingkungan sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku, berarti ada faktor lain yang memengaruhi, misalnya gaya hidup masyarakat perkotaan,” papar Purwa.

Sekretaris Perusahaan APL Justini Omas mengatakan, sebelum Neo Soho dikembangkan, pihaknya sudah melakukan kewajiban termasuk analisis dampak lalu lintas di wilayah itu. Neo Soho dianggap sudah memenuhi aturan itu sehingga mal yang terintegrasi dengan perkantoran itu bisa diluncurkan pada 8 September. “Neo Soho memiliki area parkir lebih kurang 1.900 lot parkir yang terletak di Gedung Neo Soho,” ujar Justini melalui surat elektronik.

Justini menambahkan, pengaturan lalu lintas di sekitar Neo Soho sudah melalui perencanaan dan percobaan simulasi lapangan yang dibantu konsultan ahli. Akses keluar-masuk Neo Soho juga disediakan melalui beberapa titik sehingga pengunjung memiliki pilihan.

Di antara Mal Central Park dan Apartemen Royal Mediterania Garden, Garden Shopping Arcade, Apartemen Mediterania Garden Residence 2, dan Neo Soho, misalnya, terhubung dengan terowongan untuk memudahkan akses bagi para penghuni apartemen. Mal Central Park dan Neo Soho terhubung dengan jembatan Eco-Skywalk. Trotoar dan koridor yang lebar juga tersedia bagi pejalan kaki.

Baca juga :  LRT Dijadwalkan Beroperasi 10 Agustus 2018

Beban kemacetan

Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch Edison Siahaan mengatakan, kemacetan di kota Jakarta saat ini sudah mencapai “gawat darurat”. Study on Integrated Transportation Master Plan Phase II, studi gabungan Bappenas dan JICA, mengungkapkan, kerugian akibat kemacetan mencapai Rp 75 triliun per tahun. Kerugian itu dihitung akibat pemborosan penggunaan bahan bakar dan kerusakan kendaraan akibat kemacetan. Itu masih ditambah kerugian kesehatan dan lingkungan akibat polusi udara yang tinggi.

Psikolog Universitas Indonesia, Amarina Ariyanto, mengatakan, salah satu pemicu stres di kota besar adalah perkembangan yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungan. Agar dampak materiil dan psikologis itu dapat diminimalkan, salah satu caranya dengan menata kota ramah pengguna angkutan umum dan kontrol tegas untuk pengembangan area komersial.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button