Kliping

Jajaran Direksi MRT Jakarta Dirombak

JAKARTA, KOMPAS — Jajaran direksi PT MRT Jakarta mengalami perombakan, Senin (17/10). Direktur Utama Dono Bustami digantikan Wiliam P Sabandar dan Direktur Operasi dan Pemeliharaan Mohamad Nasyir digantikan Agung Wicaksono.

Sekretaris Perusahaan PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah membenarkan adanya pergantian tersebut. Sebelumnya, pada Senin sore, siaran pers terkait pergantian ini juga sudah dipasang di laman resmi PT MRT Jakarta.

Dalam siaran pers yang diterbitkan PT MRT Jakarta disebutkan, serah terima jabatan direksi PT MRT Jakarta itu dilakukan sebagai bagian dari penyegaran manajemen PT MRT Jakarta. Penggantian itu tertuang dalam Keputusan Sirkuler Para Pemegang Saham PT MRT Jakarta tanggal 14 Oktober 2016.

Acara serah terima jabatan direksi PT MRT dihadiri Kepala Badan Pembinaan Badan Usaha Milik daerah dan Penanaman Modal DKI Jakarta, PD Pasar Jaya, Komisaris, Direksi, serta Kepala Divisi dan Departemen PT MRT Jakarta.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Deputi Gubernur DKI Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Soetanto Suhodo, Senin, mengaku belum mengetahui adanya pergantian itu. Meski demikian, Soetanto menyebutkan, hal itu perlu dilakukan setelah evaluasi kinerja PT MRT secara periodik oleh para pemegang saham.

Hal paling mencolok dari kinerja PT MRT dan sudah diberitakan adalah terjadinya penundaan penyelesaian proyek. Sejak awal, koridor selatan-utara dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia tersebut dijadwalkan sudah beroperasi pada saat pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta.

Namun, sejumlah masalah terjadi saat pembangunan masih berjalan. Penuntasan atas masalah tersebut dinilai tidak maksimal.

Masalah lain adalah adanya kesalahan pemasangan 57 gelagar jalur layang di Jakarta Selatan dan masalah pembebasan lahan di wilayah Lebak Bulus dan Fatmawati yang tak kunjung tuntas.

Berbagai masalah itu berdampak pada perkiraan mundurnya proyek pembangunan MRT hingga 2019. Adapun biaya pembangunan proyek berjalan (cost run) juga membengkak.

“Pembengkakan biaya-biaya bisa terjadi di antaranya akibat adanya nilai tukar yang terus meningkat, juga naiknya harga barang-barang keperluan proyek,” ujar Soetanto.

Dengan adanya semua masalah tersebut, pemegang saham menilai komunikasi dari PT MRT selaku manajemen proyek atau pihak yang berwenang menyelenggarakan pembangunan tidak baik.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button