Kliping

Jalan Diperlebar Bukan Solusi

JAKARTA, KOMPAS — Pelebaran Jalan Simprug Golf II di Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, bukan solusi mengatasi kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut. Warga lebih memilih adanya penataan dan penertiban jalan.

Jalan Simprug Golf II menghubungkan Jalan Asia Afrika dekat Senayan City dan Jalan Teuku Nyak Arief ke arah Kebayoran. Dengan lebar 2 meter sampai 4 meter saat ini, Jalan Simprug Golf II dinilai terlalu sempit. Kendaraan yang menuju Kebayoran harus lewat bergantian karena ujung jalan yang menyempit seperti leher botol.

Di lapangan, hingga akhir pekan kemarin, kendaraan yang melintas harus berhati-hati karena sisi jalan dipenuhi pedagang gerobak, warung-warung kecil, dan parkir motor liar. Akibatnya, kerap terjadi kepadatan kendaraan arah dari dan ke Jalan Terusan Hang Lekir 1 serta Jalan Simprug Golf I dan II.

Tarmo (30), ojek berbasis aplikasi, mengatakan, pelebaran jalan justru membuat jumlah kendaraan yang melintas semakin banyak. Padahal, rata-rata kepadatan lalu lintas di Jalan Simprug Golf II terjadi hanya pagi dan sore hari atau situasi tertentu.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

“Bukan masalah jalan dilebarin atau enggak, tetapi penataan jalannya,” kata sopir ojek yang kerap mangkal di daerah Senayan itu.

Dia menyarankan jalan sepanjang 1 kilometer itu dibuat satu arah. Misalnya, hanya bagi kendaraan dari arah Jalan Asia Afrika, sementara arah sebaliknya berputar melalui Jalan Sinabung. Jalan Simprug Golf II menjadi jalur alternatif terpendek yang menghubungkan kawasan Senayan-Kebayoran.

Taufik (40), satpam salah satu perumahan dekat Jalan Simprug Golf II, mengatakan, perlu adanya penataan parkir motor dan pedagang gerobak, terutama di persimpangan menuju Jalan Hang Lekir 1. Kemacetan terjadi karena mobil harus bergantian untuk belok. Akibatnya, akses keluar-masuk perumahan juga terhambat.

Menurut Taufik, pelebaran jalan berpotensi menciptakan titik kemacetan baru. Sebab, jalan tersebut menghubungkan dua jalan utama yang kerap macet. “Kalau dilebarin, bukan jalan alternatif, melainkan jalan utama,” katanya.

Baca juga :  DPRD DKI Tolak Anggaran Rp 4,7 Miliar untuk Pulau Payung, Isinya Villa Swasta

Pelebaran direncanakan sepanjang 800 meter yang terdiri dari jalur masing-masing 7,5 meter. Pelebaran jalan bakal memakan lahan yang dihuni oleh 3.065 jiwa atau 437 keluarga sepanjang Jalan Simprug Golf II, seperti diungkap di Kompas, Jumat (7/10).

Sosialisasi

Anhan (22), warga RW 008, menuturkan, saat ini kepadatan lalu lintas di sepanjang Jalan Simprug Golf II mulai berkurang. Sebab, hanya kendaraan dari arah Jalan Tentara Pelajar yang bisa berbelok. Sementara kendaraan dari jembatan layang Permata Hijau diarahkan ke Kebayoran. Jembatan layang itu dibangun agar tidak ada lagi persimpangan sebidang dengan jalur rel kereta api di kawasan tersebut. Namun, saat jembatan berfungsi, kemacetan justru makin menjadi di Jalan Simprug Golf II.

Jalan Simprug Golf II berada di sisi permukiman padat. Rumah-rumah semipermanen berukuran sekitar 4 meter× x 3 meter berjejer di sisi jalan. Kawasan itu sempat terbakar pada 3 Juli. Tercatat 265 bangunan di tiga RT terbakar.

“Beberapa minggu setelah kebakaran ada kabar penggusuran. Ternyata untuk pelebaran jalan,” kata Anhan, yang baru mengetahui informasi itu dua pekan lalu.

Camat Kebayoran Lama Sayid Ali menyatakan, warga telah mendapatkan sosialisasi pembebasan lahan dari petugas kelurahan pada Juli. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah provinsi. Pembebasan lahan dilakukan karena permukiman dianggap menghalangi arus lalu lintas dua jalan utama. “Waktunya belum tahu, tunggu surat-surat dari pemerintah,” katanya.

Sayid menambahkan, dua alat berat berada di lokasi sejak dua pekan lalu. Pelebaran jalan dimulai dari lahan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Jalan Teuku Nyak Arief.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button