Kliping

Mudah atau Sulitkah Akses ke Berbagai Fasilitas Umum di Rusun Rawa Bebek?

1641300photostudio-1476092315933780x390

JAKARTA, KOMPAS.com –  Rusun Rawa Bebek menjadi tempat relokasi sejumlah warga yang terkena dampak penertiban atau penggusuran, seperti yang terjadi di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Sejumlah wargaBukit Duri yang terdampak proyek normalisasi sungai Ciliwung itu kini menempati rusun yang berlokasi di Cakung, Jakarta Timur tersebut.

Pindah ke tempat baru, warga Bukit Duri berarti harus menghadapi kondisi yang berubah pula, misalnya terkait akses ke fasilitas-fasilitas umum seperti moda transportasi, sekolah, pasar, atau rumah sakit.

Chaeroh (41), warga asal Bukit Duri yang kini menempati Blok Gelatik Rusun Rawa Bebek misalnya menghadapi beragam kendala setelah pindah ke rusun. Ia merasa kesulitan ke pasar karena jaraknya yang lumayan dari rusun.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

“Ke Pasar Ujung Menteng sini enggak ada angkutannya. Naik busway(baca: transjakarta) mana bisa. Mau pakai angkutan mana ada di depan rusun,” kata Chaeroh kepada Kompas.com di Rusun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, Senin (10/10/2016).

Untuk ke pasar ia akhirnya mesti menumpang ojek. Itu pun mesti mencari sesama warga rusun yang mau serabutan sebagai tukang ojek. Tarifnya sekali jalan biasanya Rp 10.000. Jadi untuk pergi-pulang (PP) ke pasar ia harus mengeluarkan ongkos Rp 20.000.

Ia juga mengatakan letak sekolah anaknya jauh dari rusun. Chaeroh punya anak,  yang kecil kelas 1 SD dan yang besar kelas XII SMK. Anaknya yang masih SD telah dipindahkan ke SDN 05 Pulogebang. Dari rusun ke sekolah, anaknya mesti naik ojek. Ongkos ojek untuk pergi pulang sebesar Rp 20.000.

Sementara anaknya yang SMK tak bisa dipindahkan ke sekolah di Cakung karena sudah akan ujian. Putranya itu terpaksa harus sewa kos di dekat sekolah di Bukit Duri.  Untuk Chaeroh mesti merogok koceknya lebih dalam.

Baca juga :  Anies Siapkan Tim untuk Tindak Lanjuti Putusan MA soal Swastanisasi Air

Bus sekolah belum tersedia di rusun Rawa Bebek yang baru. Bus sekolah hanya disediakan di rusun Rawa Bebek lama, yang khusus bagi para lajang.

Sejauh ini, Chaeroh juga belum tahu di mana rumah sakit terdekat yang bisa diakses. Tidak ada informasi dari pihak rusun tentang hal itu.

Ia mengatakan, moda transportasi dari rusun ke pusat kota ada dua alternatif. Bisa dengan bus transjakarta atau kereta api. Di Rusun Rawa Bebek, setiap satu jam ada feeder bus transjakarta yang beroperasi mulai pukul 05.00-22.00 WIB.

Sementara stasiun kereta commuter line terdekat adalah Stasiun Cakung dan Klender.

Dari rusun, warga transit di halte Wali Kota Jakarta Timur atau Penggilingan untuk kemudian bisa ke berbagai tempat di Jakarta. Warga rusun naik transjakarta secara gratis. Hanya saja warga belum punya kartu khusus sehingga jika menumpang transjakarta dari luar menuju rusun, mereka masih harus membayar tarif Rp 3.500.

“Belum tahu kapan dibagikan kartunya. Jadi cuma dari sini ke luar saja yang gratis. Dari luar ke sini masih bayar,” kata Chaeroh.

Salim (70), warga Bukit Duri yang tinggal blok rusun yang sama dengan Chaeroh mengatakan, dengan adanya layanan transjakarta ke rusun, masalah transportasi ke tengah kota jadi cukup mudah.

“Sebenarnya transportasi gampang. Dari sini enggak pernah pakai ongkos, ada transjakarta gratis,” kata Salim.

Kebijakan tarif gratis itu, kata Salim, sangat membantu. “Kalau mau dihitung, misalnya saja setelah dipindah ke sini transport mesti bayar, biaya sewa (rusun) sama (biaya) transpor bakal gedean transpor. Bisa Rp 1 juta sebulan. Tapi untungnya (naik) transjakarta gratis,” kata Salim.

Letak stasiun kereta yang dekat, lanjut Salim, juga memudah mereka untuk bisa pergi ke mana saja di Jabodetabek.

Baca juga :  Diminati di Ibu Kota, Promo Tarif Listrik Rp 1 Rambah Bandung

Yang menjadi masalah buat dia adalah akse ke sekolah anak dan ke rumah sakit. Cucunya yang masih SD enggan pindah ke sekolah di Cakung sehingga masih harus pergi-pulang ke Bukit Duri naik transjakarta.

Nangis dipindahin ke sini. Kami mau paksa, nanti trauma. Setiap hari naik transjakarta ke Bukit Duri. Waktu tempuh bisa sejam atau dua jam,” kata Salim.

Ia juga masih kebingungan jika harus berobat. “Kalau ada urusan mendadak bingung juga masalah transportasi ke rumah sakit. Kalau ke puskesmas di kelurahan enggak bisa naik transjakarta,” ujar Salim.

Salim dan Chaeroh mengatakan, tinggal di Bukit Duri lebih mudah dari sisi akses. Ke stasiun Stasiun Tebet tidak jauh. Sekolah anak juga tidak perlu naik angkutan, cukup berjalan kaki dari rumah. Ke rumah sakit terdekat juga mudah. Di Kampung Melayu misalnya ada RS Hermina. Ke pasar apalagi, di dalam pemukiman Bukit Duri terdapat pasar dan masih ada Pasar Jatinegara. Tempat kerja juga dekat.

“Suami saya jual daging di Pasar Balimester, sekarang di rusun pulang pergi sih pakai transjakarta, capeknya aja paling,” kata dia.

Warga berharap ada angkutan di depan rusun yang disediakan pemerintah.

Mereka juga kini memikirkan biaya sewa. Dulu ketika tinggal di bantaran Ciliwung mereka  tidak pusing memikirkan biayawa sewa. Sampai saat ini, tarif sewa rusun belum ditetapkan pengelola. Warga masih tinggal secara gratis selama tiga bulan pertama, setelah itu baru bayar sewa.

Namun biaya air dan listrik mereka harus bayar mulai dari sekarang.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button