Kliping

Tunggakan Retribusi PKL Capai Rp 300 Juta

JAKARTA, KOMPAS — Tunggakan retribusi pedagang kaki lima di Kota Tua mencapai Rp 300 juta. Tunggakan itu merupakan akumulasi tagihan 382 pedagang selama 10 bulan. Sistem penagihan retribusi akan dibenahi untuk meningkatkan potensi pendapatan asli daerah. Di sisi lain, pengunjung ke area PKL di Jalan Cengkeh, Kota Tua, masih minim.

Kepala Suku Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perdagangan (KUMKMP) Jakbar Sonar Sinurat mengatakan, PKL Kota Tua berjualan di lokasi sementara yang diatur oleh Surat Keputusan Wali Kota Jakarta Barat Tahun 2015. Pedagang yang berjualan di lokasi sementara wajib membayar retribusi Rp 3.000 per hari.

Pedagang diminta menabung sejumlah uang di Bank DKI untuk dipotong secara otomatis setiap harinya (autodebet).

”Nah, dulu itu banyak pedagang yang menitipkan pembayaran retribusi ke koperasi. Akhirnya banyak yang telat bayar. Padahal, kalau sudah telat 3 bulan, rekening akan ditutup Bank DKI,” ujar Sonar kepada wartawan, Kamis (15/9).

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Awalnya, ada 415 PKL yang tergabung dalam koperasi Penawaskata. Namun, pedagang yang aktif, memiliki kartu tanda anggota, dan membayar retribusi di Bank DKI hanya 328 orang.

Sistem pembayaran retribusi akan diperbaiki Suku Dinas KUMKMP, antara lain dengan meminta pembaruan kerja sama dengan Bank DKI supaya rekening pedagang tidak ditutup saat mereka telat membayar selama tiga bulan. Selain itu, pembayaran juga akan diperketat dengan berdasarkan nama dan alamat pedagang. Pedagang diharapkan membayar langsung tanpa menitipkan ke koperasi atau perwakilan lain.

Jika dioptimalkan, total pendapatan dari PKL Kota Tua bisa mencapai Rp 34 juta per bulan.

Omzet turun

Baca juga :  DPRD DKI: Sedianya RPTRA Diatur dalam Perda

PKL di Kota Tua yang direlokasi ke lahan di Jalan Cengkeh mulai beradaptasi. PKL mendapatkan fasilitas tenda besar dan kecil, listrik, gerobak, dan wastafel pencuci piring.

Kendalanya, saat hujan, jalan yang sudah diperkeras dengan pasir itu becek. Beberapa tenda pedagang juga bocor dan tempias saat hujan lebat.

Junaedi (42), pedagang kopi dan rokok, mengatakan, saat berjualan di Jalan Kali Besar Timur, omzetnya Rp 2,5 juta per malam, terutama saat akhir pekan. Ia dan istrinya biasa berjualan pada pukul 17.00 hingga dini hari. Pada hari biasa, Junaedi bisa mengumpulkan Rp 700.000-Rp 800.000 per hari.

Saat pindah di Jalan Cengkeh, omzetnya baru Rp 500.000 pada akhir pekan. ”Di sini masih sepi. Belum banyak sepeda motor yang parkir di sini. Pedagang juga banyak yang masih tutup,” ujar Junaedi, yang sudah lima tahun berjualan di Kota Tua.

Pedagang berharap pemerintah memasang spanduk atau papan penunjuk arah lokasi PKL PKL di Jalan Cengkeh. Penunjuk arah ini bisa dipasang di sekitar Plaza Museum Fatahillah sebagai informasi bagi pengunjung Kota Tua. Pedagang juga berharap ada rekayasa lalu lintas supaya arus pengunjung terpusat di Jalan Cengkeh. (DEA)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button