Kliping

Tengahi Konflik Operator-Transjakarta

JAKARTA, KOMPAS — Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta perlu menengahi konflik kepentingan antara operator bus sedang dan PT Transportasi Jakarta terkait rute bus. Persoalan pembiayaan bus juga harus dicarikan jalan keluar.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Dewan Transportasi Kota Jakarta Leksmono Suryo Putranto, Jumat (16/9), berpendapat, campur tangan Dishubtrans penting untuk menghindari gesekan di lapangan.

Soal kesulitan sebagian pemilik bus juga bisa disiasati dengan membantu pembiayaan agar operator lama bisa terlibat dalam skema pengelolaan baru di bawah PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Kepala Bidang Angkutan Jalan dan Perkeretaapian Dishubtrans DKI Jakarta Massdes Arouffy mengatakan, supaya operator lama juga bisa memberikan pelayanan prima bagi pengguna angkutan umum, operator dipersilakan bergabung dalam manajemen Transjakarta. ”Dalam pertemuan terakhir dengan para operator, hitung-hitungan yang disampaikan jelas,” ujarnya.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Dari lima operator bus sedang, baru Kopaja yang bergabung dengan Transjakarta.

Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono menambahkan, banyak pemilik bus sedang dari Kopaja dan Metromini yang menyatakan berminat bergabung. Mereka juga menyatakan siap memenuhi syarat, seperti menyetor uang muka Rp 150 juta untuk pembelian bus baru.

”Ada banyak, kok, yang setuju. Tidak semua berkeberatan. Selain komitmen melayani, operator angkutan umum idealnya punya modal,” ujarnya.

Salah seorang pemilik kopaja di trayek T57 Blok M-Kampung Rambutan, Johannes (49), menyatakan tak sanggup untuk membayar uang muka.

Hadang transjakarta

Dalam dua pekan terakhir, sejumlah sopir kopaja dan metromini menghadang transjakarta yang beroperasi di rute yang sama. Mereka merasa ”dimatikan” dan penghasilan anjlok.

Baca juga :  Dinas KPKP Beri Pembinaan Ketahanan Pangan Kepada 135 Anggota TNI

Direktur Operasional PT Metromini Muryadi mengatakan, aksi ini tidak dikoordinasi perusahaan sebagai payung pemilik-pemilik metromini yang masih beroperasi. ”Beberapa sopir metromini memang mencegat dan mengganggu bus transjakarta yang jalan di trayek mereka. Kami tak dapat mencegahnya,” katanya di Jakarta, kemarin.

Menurut Muryadi, setidaknya ada dua trayek metromini yang saat ini tumpang tindih dengan trayek bus pengumpan transjakarta, yaitu S69 jurusan Blok M-Ciledug dan S71 jurusan Blok M-Bintaro Kodam. Saat ini, masih ada sekitar 1.500 bus metromini beroperasi di Jakarta.

Peremajaan satu bus saja, kata Muryadi, membutuhkan sekitar Rp 30 juta. ”Sebagian besar dari kami tak ada yang punya modal sebesar itu. Jadi, kami berutang dulu untuk dapat memenuhi aturan peremajaan itu,” katanya.

Muryadi mengatakan, menurut kesepakatan dengan Dishubtrans sebelumnya, angkutan umum konvensional seperti metromini dan kopaja diberi waktu hingga 2018 untuk meremajakan armada. Tetapi, sebelum waktu berakhir, bus transjakarta sudah dioperasikan di trayek mereka.

Akibatnya, pemilik dan awak angkutan umum konvensional terancam semakin sulit memperoleh pendapatan. ”Kalau memang seperti itu, dulu tidak perlu diberi waktu sekalian sehingga kami tidak telanjur berutang,” ujarnya.

Di sisi lain, para pemilik metromini berkeberatan dengan modal bergabung PT Transjakarta yang ditetapkan Rp 150 juta. Para pemilik meminta modal bergabung diturunkan sehingga sesuai kemampuan mereka.

Serangkaian pembicaraan telah dilakukan pemilik metromini dengan Dishubtrans ataupun dengan PT Transjakarta, tetapi belum tercapai kesepakatan. Muryadi mengatakan, selama belum ada kesepakatan, gangguan di trayek yang tumpang tindih akan terus terjadi.

Sementara Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph mengatakan, bus transjakarta yang beroperasi di rute kopaja ataupun metromini memiliki izin trayek dan sesuai prosedur. (IRE/HLN/MKN)

Baca juga :  Inovasi Bayar Sewa Rusun

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button