Kliping

Perebutan Trayek Masih Terjadi di Lapangan

Perebutan trayek antara bus kota konvensional di Jakarta dan bus transjakarta terus terjadi terus terjadi di beberapa trayek yang tumpang tindih. Sejumlah sopir metromini dan kopaja di rute yang saling tumpang tindih itu mengancam akan terus mengganggu bus transjakarta di rute mereka sebelum ada kesepakatan.

Dalam dua pekan terakhir, setidaknya sudah dua kali unjuk rasa digelar awak metromini dan kopaja untuk memprotes operasi transjakarta di trayek mereka. Awak Kopaja T57 berunjuk rasa, Senin (5/9), memprotes operasi transjakarta di rute Blok M-Kampung Rambutan yang mereka layani.

Baca juga :  Proses Konsinyasi Ditempuh

Kamis (8/9), giliran awak Metromini S69 jurusan Blok M-Ciledug menggelar aksi protes di kawasan Velbak, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Aksi ini sempat diwarnai ”penyanderaan” tiga bus transjakarta jurusan Blok M-Pesanggrahan, yang melewati Ciledug.

Andi (27), yang sudah empat tahun menjadi sopir metromini jurusan Blok M-Ciledug, mengeluhkan berkurangnya jumlah penumpang sejak bus transjakarta buka rute ke Ciledug. Sebelum transjakarta masuk, dia bisa mengumpulkan uang bersih Rp 120.000-Rp 170.000 per hari. ”Sekarang, dapat Rp 100.000 saja susah. Belum lagibayar setoran,” kata Andi, Selasa (20/9),” kata Andi, Selasa (20/9).

Untuk bergabung dengan Transjakarta, Andi juga mengaku pesimistis bisa diterima. Dia memiliki tato di badan dan bekas tindik di telinga. Selain itu, dia juga tak memiliki ijazah pendidikan, yang menjadi syarat administrasi pendaftaran sopir transjakarta. ”Itu kan ribet. Kita mana bisa?” katanya.

Informasi dari laman resmi PT Transjakarta menyebutkan, ada beberapa persyaratan khusus menjadi pengemudi, antara lain berusia maksimal 47 tahun, berpendidikan minimal SMP, tidak bertato dan bertindik, tidak buta huruf, tidak buta warna, dan bebas narkoba.

Sopir metromini lainnya, Andri (32), mengatakan, wacana penggabungan dengan Transjakarta perlu memperhatikan usia dan kondisi sopir. Mayoritas sopir berusia di atas 40 tahun dan sulit beradaptasi dengan pekerjaan baru. Hal itu menjadi salah satu alasan sopir metromini masih bertahan. Dia berharap pemerintah memiliki kebijakan lain. Misalnya, memudahkan syarat menjadi sopir transjakarta.

Tak bisa mencegah

Direktur Operasional PT Metromini Muryadi menegaskan, aksi unjuk rasa itu tak dikoordinasi perusahaan sebagai payung para pemilik metromini yang masih beroperasi. Akan tetapi, ia mengaku pihaknya tak bisa mencegah awak metromini mengganggu transjakarta yang beroperasi di trayek mereka.

Baca juga :  Pemprov DKI-Yayasan Kehati Bakal Jalin Kerja Sama Pemetaan Hayati

Menurut Muryadi, masih ada sekitar 1.500 bus metromini yang beroperasi di Jakarta saat ini.Sebagian besar dari mereka telah berutang untuk meremajakan armadanya. Sebagian besar dari mereka telah berutang untuk meremajakan armadanya sesuai dengan instruksi Pemprov DKI.

Peremajaan satu bus saja, ujarnya, butuh dana sekitar Rp 30 juta. ”Sebagian besar dari kami tak ada yang punya modal sebesar ini. Jadi, kami berutang dulu untuk memenuhi aturan peremajaan itu,” lanjutnya.

Muryadi mengatakan, serangkaian aksi dan pembicaraan telah dilakukan para pemilik metromini dengan Dishubtrans DKI dan PT Transjakarta. Akan tetapi, hingga kini belum ada kesepakatan yang dinilai berpihak pada angkutan konvensional. Selama belum ada kesepakatan, katanya, gangguan di trayek yang tumpang tindih akan terus terjadi.

Revitalisasi armada

Kepala Bidang Angkutan Darat Dishubtrans DKI Masdes Arroufy, Jumat pekan lalu, mengakui terjadinya gesekan di lapangan itu. ”Memang persaingan di lapangan pasti terjadi. Tetapi, para penumpang pasti bisa memilih. Untuk itu, Dishubtrans mengajak operator bus-bus sedang bergabung dengan Transjakarta,” ujarnya.

Masdes mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama sering mengeluhkan angkutan umum di Ibu Kota yang tidak nyaman, tidak aman, bahkan sudah tidak layak jalan. Untuk mengubah hal itu, Basuki menyerukan agar angkutan umum dikelola dalam satu sistem manajemen Transjakarta.

Baca juga :  Akan Ditinggikan, Begini Kondisi Jalan Pangeran Tubagus Angke

Untuk menerjemahkan arahan itu, Dishubtrans mengundang para operator bus berukuran sedang di Jakarta, yakni Kopaja, Metromini, Kopami Jaya, Koantas Jaya, dan Dian Mitra, untuk duduk bersama dan membicarakan peluang bergabung dengan Transjakarta.

Masdes menjelaskan, dari evaluasi, bus-bus sedang yang dikelola lima operator konvensional itu rata-rata berusia 38-39 tahun. Itu sebabnya, target pertama adalah revitalisasi armada.

”Itu sudah kami lakukan sejak 2014. Namun, yang merespons dan mau bergabung baru Kopaja. Sudah ada 300 bus kopaja yang diremajakan. Sementara peremajaan kendaraan dan peningkatan layanan angkutan umum mendesak dilakukan,” tutur Masdes.

Peremajaan kendaraan, lanjut Masdes, juga diikuti evaluasi rute. Selama ini, bus-bus sedang dari lima operator itu tercatat beroperasi di 93 rute. Dishubtrans menilai rute itu tumpang tindih dan terlalu banyak.

”Akhirnya kami juga mengevaluasi rute itu. Dari 93 rute, setelah evaluasi, tersisa 46 rute yang pas dan bisa melayani warga Jakarta, sekaligus melengkapi rute-rute utama yang dilayani bus-bus besar,” ujar Masdes.

Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph menjelaskan, sesuai izin operasi dari Dishubtrans, rute-rute tersebut bisa diisi dan dilayani oleh bus-bus sedang transjakarta. Bus-bus sedang itu tak lain adalah pengganti bus-bus sedang yang selama ini dioperasikan Kopaja. (C05/IRE/HLN)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button