Kliping

Pemuda untuk Kota Layak Huni

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah belum sepenuhnya melibatkan kaum muda dalam pengembangan perkotaan. Padahal, peran aktif kaum muda dapat menjadikan Ibu Kota dan kota besar lain sebagai tempat yang aman, nyaman, dan sejahtera.

“Anak muda adalah kekuatan terpendam yang belum dimanfaatkan pemerintah untuk mewujudkan kota layak huni,” ucap Wicaksono Sarosa, pakar pengembangan perkotaan, seusai diskusi “Our Urban Our Dream”, di Jakarta, Rabu (3/8).

Dalam survei “Our Urban Our Dream 2030”, yang dilakukan Kemitraan Habitat dengan dukungan Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, 655 responden berusia 15-24 tahun mendefinisikan kota layak huni sebagai kota yang aman, nyaman, bersih, ramah, dan sejahtera.

Selain itu, kota layak huni juga harus terbebas dari polusi dan banjir. Adapun transportasi umum yang disediakan harus layak pakai dan terintegrasi. Survei dilakukan pada April-Juli 2016.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Menurut Wicaksono, untuk merealisasikan kota layak huni, harus ada peningkatan jumlah ruang terbuka di kota besar seperti Jakarta. Minimnya ruang terbuka di Jakarta dan sekitarnya menghambat kaum muda untuk berinteraksi dengan berbagai kalangan. “Kalau anak muda tidak diberi ruang terbuka untuk berinteraksi, mereka tidak akan memberi perhatian terhadap masalah perkotaan,” ujarnya.

Ruang terbuka yang dimaksud adalah tempat seperti taman, gelanggang pemuda, dan hari tanpa kendaraan bermotor.

Pengamat perkotaan dan ahli lanskap dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengatakan, ada dua hal yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk menumbuhkan kepedulian kaum muda pada permasalahan perkotaan. Pertama, kaum muda harus dikenalkan pada permasalahan perkotaan, seperti banjir, permukiman kumuh, dan kemacetan. Dalam hal ini, pemda bisa memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi.

Kedua, pemda perlu bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk menyelenggarakan sayembara yang berhubungan dengan pengembangan perkotaan. Contohnya, kaum muda ditantang untuk menciptakan aplikasi terkait penataan kota. “Para pemuda harus dipancing rasa penasarannya dengan cara menyenangkan untuk menciptakan kota layak huni,” ujar Nirwono.

Baca juga :  Kaji Ulang Raperda Reklamasi, Anies: Situasi Kini Beda dengan Dulu

Urbanisasi

Dalam survei tersebut, muncul temuan bahwa mayoritas responden memandang urbanisasi berdampak negatif pada pengembangan perkotaan. Namun, Wicaksono menyatakan, perpindahan orang dari desa ke kota bisa memberi dampak positif bagi terciptanya kota layak huni.

“Pendatang memiliki sudut pandang baru dan memberi solusi yang sebelumnya tidak terpikirkan warga kota,” lanjutnya.

Agar bisa berkontribusi pada pembangunan kota layak huni, orang yang hendak datang ke Ibu Kota atau kota besar lainnya harus diberi pelatihan untuk mendapatkan keterampilan serta pengetahuan tentang kota yang akan ditempatinya.

Masalah urbanisasi memang menjadi topik hangat yang dibicarakan pada pertemuan terkait lingkungan dan perkotaan tingkat dunia. Pandangan terhadap soal ini pun kini berubah. Gelombang urbanisasi menyumbang sumber daya manusia, sebuah potensi penggerak dan sasaran pembangunan yang tidak akan pernah habis. (C04)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button