Kliping

Menemukan Oase di Tepian Kali Grogol

Di balik gedung-gedung megah Jakarta, tak jauh dari bisingnya lalu lintas Jalan Sultan Iskandar Muda (Arteri Pondok Indah), Jakarta Selatan, kehidupan warga yang masih begitu dekat dengan sungai ibarat oase yang mengejutkan sekaligus menyejukkan.

Jembatan untuk pejalan kaki di atas sodetan Kali Grogol yang terlihat asri di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Rabu (1/6).
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Jembatan untuk pejalan kaki di atas sodetan Kali Grogol yang terlihat asri di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Rabu (1/6).

Setiap sore, Suwandi (70) bisa ditemui tengah menyusuri rerumputan di bantaran Sungai Grogol di Kampung Margaguna, Gandaria Utara, Jakarta Selatan. Kawasan ini termasuk bagian dari Kali Grogol yang mengalir hingga ke Jakarta Utara.

Sebaris pohon mahoni besar menaungi langkah Suwandi. Masih dengan seragam oranye dan sepatu bot karet hitamnya, Suwandi, yang bekerja sebagai petugas Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Dinas Kebersihan di Pintu Air Pondok Indah itu, selalu mencari tanaman obat-obatan sebelum pulang dari tugasnya.

“Saya sedang cari daun ciplukan. Ini sudah dapat biji mahoni dan daun meniran,” kata Suwandi menunjukkan segenggam daun meniran segar yang baru saja dipetiknya, 31 Mei lalu.

Pinjaman Online

Bantaran Kali Grogol selebar sekitar 10 meter di kawasan belakang pusat perbelanjaan Ranch Market Pondok Indah itu berisi beragam tanaman yang tumbuh liar. Kendati tak didukung penelitian ilmiah, Suwandi meyakini ramuan daun meniran dan biji mahoni yang berasa pahit itu dapat mencegah sakit pinggang yang dulu sering menderanya.

Tak hanya untuk keperluan pribadi, Suwandi juga terkadang menerima pesanan obat herbal. Sore itu, Suwandi mengumpulkan lebih banyak daun ciplukan (Physalis angulata L) untuk dijual kepada salah satu kenalannya yang sudah memesan jauh- jauh hari. “Lumayan dapat tambahan uang belanja,” ujarnya.

Di titik itu, suasana Kali Grogol terasa menenangkan. Jauh dari kesan sungai yang keruh, kumuh, dan penuh sampah yang selama ini seolah menjadi ciri khas sungai-sungai di Ibu Kota.

Warga duduk tenang di sekeliling pintu air itu sambil memancing. Anak-anak terlihat bercengkerama di sisi lainnya menghabiskan sore dengan mandi-mandi. Air di sungai selebar 20-25 meter itu masih bersih.

Pintu air tua membingkai lanskap ini. Warga sekitar mengingat pintu air beratap kayu itu dibangun tahun 1970-an. Pintu ini merupakan bagian dari pembangunan saluran sodetan yang mengalirkan air Kali Grogol ke Kali Pesanggrahan.

Sampai sekarang, pintu itu masih berfungsi untuk mencegah banjir Kali Pesanggrahan dan Kali Grogol di kawasan tersebut.

Di sudut lain bantaran itu, sebidang kebun sayur dan patio dari daun labu siam menaungi gazebo kayu dan sebuah dermaga kecil. Lokasinya berada di seberang kompleks pertokoan bunga Jalan Margaguna Raya.

Syaifuddin (41), yang membuat kebun sayur itu, mengatakan, kebun itu rutin disiram dengan air Kali Grogol secara bergantian oleh petugas kebersihan sungai. Ada beberapa tanaman di sana, antara lain cabai, labu siam, terung, dan jagung. Di sela-selanya tumbuh bunga kana. “Kalau ada orang butuh, bisa ambil sendiri di sini. Tapi, ya, sedikit saja,” ucapnya.

Dilarang menebang

Kondisi sungai yang masih terjaga di tengah kota ini terlihat sejak sungai itu melintasi Jalan TB Simatupang hingga ke saluran sodetan Kali Grogol menuju Pesanggrahan. Sodetan ini sebenarnya buatan pemerintah pada era 1970-an. Namun, setelah puluhan tahun, kondisinya tampak seperti sungai alami.

Saluran ini berawal dari Pintu Air Pondok Indah, melintas di bawah Jalan Sultan Iskandar Muda dekat kantor Aquarius, dan berkelok-kelok di kawasan Kelurahan Pondok Pinang, hingga bertemu Kali Pesanggrahan di ujung Jalan Jati Indah.

Alurnya berupa tebing terjal sedalam sekitar 20 meter yang rimbun oleh pohon buah-buahan, seperti sukun, jambu air, dan mangga. Sesekali biawak terlihat melintas atau berjemur dengan tenang di bebatuan alami yang berlumut di dasar tebing.

Sebuah jembatan dengan pagar besi melengkung bercat kuning terlihat anggun menghubungkan Jalan Jati Indah dengan Kompleks Perhubungan.

Nur Siti (28), salah satu warga yang tinggal di pinggir sungai di Jati Indah, mengatakan, kondisi sungai yang bersih tersebut baru terwujud baru-baru ini. Tiga tahun lalu, sampah rumah tangga masih menumpuk di ujung jembatan. Banyak bangunan liar berdiri di bantaran.

“Dulu di sini tempat orang buang sampah dari mana-mana. Baunya minta ampun, busuk sekali,” ujar Nur yang merasa sangat bersyukur dengan kondisi sungai sekarang.

Menurut dia, baru 1-2 tahun terakhir bangunan-bangunan liar itu dibongkar pemerintah setempat. Tumpukan sampah diangkut, diikuti larangan membuang sampah ke sungai. Sama seperti di Pintu Air Pondok Indah, orang yang membuang sampah sembarangan ke sungai itu diancam denda hingga Rp 500.000.

Tak hanya itu, lanjut Nur, ketua RT setempat juga melarang warga menebang pohon di tebing sungai. Sebab, penebangan yang pernah terjadi menyebabkan dinding tebing longsor dan membahayakan jalan di atasnya. “Kalau masih ada yang berani nebang, diomelin sama Pak RT,” kata Nur.

Lurah Pondok Pinang Hendi Nopriyadi mengatakan, gerakan menjaga kebersihan sungai ini dimulai sekitar dua tahun terakhir. Larangan menebang pohon di tebing sungai dimaksudkan untuk mencegah longsor.

Hasilnya cukup memuaskan karena warga juga turut mendukung. Sejak diberlakukan, limpahan air yang masih kerap terjadi saat hujan turun di beberapa lokasi lebih cepat surut.

“Sungai Grogol di kawasan ini sebenarnya jarang sekali meluap. Namun, kalau kondisinya tak terjaga, juga akan berpengaruh ke sungai dan saluran air lain yang terhubung dengan Grogol,” katanya.

Lebih jauh ke selatan, suasana asri juga terlihat di bantaran Kali Grogol di tepi Jalan Duta Indah I, kompleks perumahan Pondok Indah. Sungai selebar sekitar 10 meter itu masih sangat alami, lengkap dengan bebatuan kali dan jeram.

Pohon-pohon besar juga masih berdiri menjulang di kanan kiri sungai itu. “Dulu sungai ini kotor. Baru 4-5 bulan terakhir bersih seperti ini,” ucap Ribut Suparman (61), warga asli kawasan tersebut.

Perekat warga

Bagi warga tepian sungai itu, sungai yang terjaga kebersihannya lebih dari sekadar saluran air yang membelah permukiman mereka. Sungai juga menjadi pusat aktivitas yang merekatkan relasi warga.

Kegiatan memancing di Pintu Air Pondok Indah, misalnya, menjadi ajang berbagi obrolan ringan tentang berbagai masalah dan bertukar kabar soal Kampung Margaguna. Setiap peringatan 17 Agustus, beragam perlombaan digelar di sekitar sungai. “Kami ini tetanggaan dengan mal, tapi justru jarang banget ke sana. Lebih sering juga di sini,” kata Ahmad Lutfi (30), warga setempat, mengacu pada kompleks Mal Pondok Indah yang terletak sekitar 300 meter dari pintu air tersebut.

Jati Indah, lokasi di dekat titik pertemuan Kali Grogol dan Pesanggrahan, pun terlihat menjadi tempat warga berkumpul. Beberapa tempat duduk disediakan di atas karpet hijau yang digelar di bawah naungan pohon randu.

Kali di bagian ini masih terjaga asri karena warga sekitar tak mengabaikannya. Bangunan dan perumahan dibangun menghadap sungai. Tak terlihat saluran pembuangan rumah tangga masuk ke sungai. Di banyak tempat, sungai terabaikan karena menjadi bagian belakang bangunan dan permukiman.

(IRE/DHF)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button