Kliping

Hujan Deras, Sejumlah Kali Meluap

JAKARTA, KOMPAS — Kali Krukut dan Kali Mampang meluap setelah hujan deras yang mengguyur Jakarta, Rabu (20/7). Beberapa kawasan di Mampang Prapatan, Kemang, dan Jalan Bangka, Jakarta Selatan, terendam selama beberapa jam. Akibatnya, sejumlah jembatan dan jalan tak bisa dilalui.

Air setinggi 50 sentimeter menggenangi Jalan Kemang Utara IX, Bangka, Jakarta Selatan, Rabu (20/7). Genangan tersebut akibat meluapnya Kali Krukut yang melintasi kawasan tersebut setelah hujan deras mengguyur Ibu Kota.
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Air setinggi 50 sentimeter menggenangi Jalan Kemang Utara IX, Bangka, Jakarta Selatan, Rabu (20/7). Genangan tersebut akibat meluapnya Kali Krukut yang melintasi kawasan tersebut setelah hujan deras mengguyur Ibu Kota.

Hingga kemarin sore, beberapa lokasi masih terendam, seperti di Jalan Wijaya Timur Dalam Raya, Kelurahan Petogogan, Kecamatan Kebayoran Baru; permukiman di bantaran Kali Krukut di kawasan Bangka, Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan; dan Jalan Kemang Utara. Ketinggian air 40 sentimeter-60 sentimeter.

Sarno (45), warga Jalan Wijaya Timur Dalam Raya, mengatakan, air mulai naik sekitar pukul 14.00. Selain sungai meluap, saluran-saluran air di situ pun tak memadai untuk menampung air hujan.

Banjir di Jalan Wijaya Timur Dalam Raya sempat menggenangi jalan sepanjang sekitar 500 meter. Petugas menggunakan mobil bak terbuka milik Kelurahan Petogogan untuk mengangkut sepeda motor serta antar-jemput warga di seputar kawasan yang banjir. Ketinggian air mulai turun sekitar pukul 17.00.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Menurut Sarno, Kali Krukut kerap meluap saat hujan deras dan surut setelah beberapa jam. Banjir bertambah parah saat ada banjir kiriman dari hulu sungai itu. “Ini belum parah karena tidak ada banjir kiriman. Kalau hulu juga hujan, banjir bisa sampai 1 meter dan baru surut setelah beberapa hari,” katanya.

Di Jalan Kemang Utara, banjir sempat mencapai ketinggian 1 meter akibat meluapnya Kali Mampang. Akibatnya, jalan itu tak bisa dilewati.

Kepala Kantor Penanggulangan Bencana Kota Jakarta Selatan Danang Susanto mengatakan, area serapan sangat minim sehingga air hujan hanya bisa dibuang ke sungai. Saat akan masuk ke sungai itu, air tertahan dan meluap.

Hingga sore, kata Danang, status Sungai Krukut siaga empat dan masih normal. Banjir baru diwaspadai saat siaga dua.

Baca juga :  Perbaikan Pipa Selesai, Distribusi Air Palyja Normal Secara Bertahap

Pompa air

Untuk pompa air di Jakarta Selatan, hingga kemarin, hanya satu yang rusak, yaitu pompa air di Pondok Labu. Kawasan ini juga terancam banjir saat Kali Krukut meluap. “Untuk pompa di terowongan Pondok Indah yang panelnya dicuri, kini sudah berfungsi lagi,” kata Danang.

Di Jakarta Barat, delapan pompa stasioner masih rusak dan sedang diperbaiki.

Salah satunya di rumah pompa Kyai Tapa, Grogol. Satu dari tiga rumah pompa yang berkapasitas 750 liter per detik di situ rusak sejak sebulan terakhir dan sedang diperbaiki oleh PT Asiana selaku pemegang merek.

Petugas rumah pompa Kyai Tapa, Sumarso (32), mengatakan, untuk mengantisipasi curah hujan yang tinggi, lima pompa mobile berkapasitas 300 liter per detik dan 250 liter per detik disiagakan. Pompa-pompa itu menjaga ketinggian air di bak penampung antara 200 cm dan 220 cm.

“Karena hampir setiap hari hujan dan pompa standby terus, maka satu pompa yang rusak ini harus segera selesai diperbaiki supaya beban pompa yang ada tidak terlalu berat,” ujarnya.

Air yang mengalir ke bak penampung rumah pompa Kyai Tapa itu berasal dari kawasan Universitas Trisakti, Universitas Tarumanagara, Jalan Tawakal, Roxy, dan sekitarnya. Air lalu dibuang ke Kali Grogol.

Kendala lain yang dihadapi di rumah pompa itu adalah belum adanya generator set (genset) jika aliran listrik PLN padam. Menurut petugas di rumah pompa itu, aliran listrik masih terhubung dengan instalasi milik warga. Rumah pompa belum memiliki instalasi khusus yang memungkinkan sistem tetap menyala saat listrik padam. Pengadaan mesin generator sebenarnya sudah diusulkan kepada Suku Dinas Tata Air Jakarta Barat sejak 2015, tetapi hingga kini belum terbeli.

Baca juga :  Eks Terminal Pulo Gadung Dinilai Cocok untuk Lokasi Masjid Agung

Hingga awal Agustus

Hujan di wilayah Jabodetabek diprediksi berlangsung hingga awal Agustus. Suhu permukaan air di sekitar Laut Jawa yang tetap hangat diindikasikan jadi salah satu penyebab. Meski begitu, curah hujan diprediksi tidak ekstrem dan membahayakan.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan, kemarin, menyampaikan, anomali cuaca masih terjadi, termasuk di Jabodetabek. “Secara klimatologi, sebenarnya cuaca sedang musim kemarau. Tetapi, karena pengaruh La Nina, juga suhu permukaan laut yang tetap hangat, membuat hujan tetap turun,” kata Dodo.

Curah hujan yang tinggi ini seiring naiknya air pasang hingga siaga 3, dengan ketinggian hingga 176 cm. Air pasang ini juga membuat banjir rob di sejumlah wilayah Jakarta Utara, dari Kamal Muara hingga Cilincing.

(IRE/JAL/DEA)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button