Kliping

Wargamu Asetmu

Isu hangat melanda Singapura tak lama setelah Liu Thai Ker mengatakan negara itu harus bersiap menampung 10 juta penduduk, dua kali lipat jumlah saat ini.

Isu itu turut dibicarakan dalam perhelatan World Cities Summit 2016 di Singapura, 10-13 Juli. Sebagian orang melihat target itu terlalu ambisius. Sebagian lagi, terutama mereka yang mengikuti perkembangan negeri ini, justru amat optimistis.

Liu (78), arsitek sekaligus bapak penata Singapura modern itu, mengatakan, ia berani menargetkan kotanya tumbuh dan menampung begitu banyak orang karena dengan demikian pertumbuhan ekonomi negeri itu akan terjamin.

“Untuk menampung 10 juta penduduk itu harus dipersiapkan infrastrukturnya semenjak sekarang. Pembangunan infrastruktur besar membutuhkan tenaga kerja berbagai tingkatan dan menggerakkan ekonomi yang tak terbatas,” katanya.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Sebanyak 10 juta penduduk menjadi mimpi besar yang bisa dijabarkan dalam perencanaan detail serta target dekade per dekade pembangunan. Liu membayangkan, dengan tingkat pertumbuhan 1 persen saja, Singapura akan punya target pembangunan hingga setidaknya 100 tahun lagi. Ini menjadi penjamin kelangsungan dan fondasi negeri itu di masa depan.

Dalam sejarahnya, negeri seluas 719,1 kilometer persegi ini telah terbiasa memiliki target tinggi dan bekerja keras lintas sektor. Luas Singapura, seperti data Kementerian Dalam Negeri 2015, setara dengan DKI Jakarta yang seluas 664,01 kilometer persegi. Bedanya, kini Jakarta telah dihuni 9,9 juta jiwa.

Sekitar 50 tahun lalu, Singapura berupa pulau kecil berawa dengan sungai rusak dan kotor serta penduduk berpendidikan rendah dan miskin. Kini, Singapura menjadi salah satu kota termaju dan terkaya di dunia. Kebutuhan area publik, hutan kota, air bersih, jaminan pendidikan, perumahan, kesehatan, hingga hari tua warganya terpenuhi. Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan, kunci sukses mereka adalah kerja sama antara pemerintah, kaum profesional dan swasta, serta warganya yang erat.

Pemerintah Singapura pun menyadari, pertambahan penduduk tak bisa hanya berdasarkan jumlah kelahiran bayi dari warga negaranya. Kaum imigran juga didamba untuk terus datang dan menetap. Hanya, Singapura terkenal dengan ketatnya aturan administrasi kependudukan.

Baca juga :  BPAD Monitoring Aset Lahan di Penggilingan

Bagaimana dengan Jakarta? Tentu tidak perlu takut dengan urbanisasi karena sangat susah membatasi orang datang selama “wangi” uang besar ada di Ibu Kota. Visi dan misi besar serta program pembangunan yang jelas dari seorang pemimpin Jakarta dipertaruhkan agar segenap warganya menjadi amunisi pembangunan kota yang tak akan pernah habis.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button