Kliping

Warga Butuh Kepastian: Sebagian Penghuni Rusun Kembali ke Rumah Bukit Duri

Di lapangan, bangunan yang akan terkena pembongkaran sudah ditandai. Rumah-rumah kontrakan juga mulai ditinggalkan penyewa.

“Ada lima rumah kontrakan di sini, sudah sepi semua,” kata Rochimah, warga RT 011 RW 010 Kelurahan Bukit Duri, Kamis (14/7).

Menurut Rochimah, warga sudah dipanggil tiga kali untuk sosialisasi relokasi. Mereka juga sudah menyerahkan surat-surat terkait rumah dan lahan yang mereka tempati. Namun, belum ada informasi pasti akan nasib mereka.

Rochimah dan beberapa tetangganya yang terkena relokasi juga memutuskan tidak mengambil jatah rusun di Rawa Bebek, Jakarta Timur. Mereka tetap akan tinggal di rumah mereka di Bukit Duri yang terkena pembongkaran sebagian. Kendati demikian, mereka pasrah dan tak melawan apabila rencana relokasi direalisasikan.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Belum adanya kepastian bagi warga ini berbeda dengan keterangan Pemerintah Kota Jakarta Selatan yang memastikan pembongkaran akan dilakukan pada Juli ini. Pemkot Jakarta Selatan juga mengklaim ada tambahan 84 keluarga yang bersedia pindah ke Rusunawa Rawa Bebek.

Beberapa warga Bukit Duri yang sudah pindah ke Rusunawa Pulogebang dan Cipinang juga terlihat kembali ke lokasi yang sudah dibongkar. Dua di antaranya adalah kakak beradik Rohmah (79) dan Mariani (63).

Kemarin, keduanya berada di rumah lama yang sudah dibongkar separuhnya di RT 012 RW 010 Bukit Duri.

Mariani yang sudah mengambil jatah Rusunawa Pulogebang mengatakan kembali sejak sepekan terakhir karena butuh mengobati katarak yang ia derita di rumah sakit di Manggarai. Ia juga mengeluh tidak bisa bergerak di rusun karena penglihatannya terbatas.

Baca juga :  Curhat Penghuni Rusun Pesakih soal Tarif Air yang Berbeda-beda

“Di sana, ada tangga dua susun. Juga jauh dari warung atau toko. Mata saya sudah sulit melihat jadi tak bisa ke mana-mana di sana. Di sini lebih enak karena tak ada tangga. Saya bisa berjalan bebas kalau mau beli apa-apa karena dekat,” tuturnya.

Rohmah mengaku tak bisa bergerak bebas di rusunawa di Kebon Nanas, Cipinang, karena kesulitan harus naik tangga tiga lantai. Ia hanya berkunjung ke rusunawa setiap hari.

Di sisi lain, Rohmah juga merasa sangat berat karena harus membayar sewa Rp 360.000 per bulan. “Saya sudah tidak kerja lagi di sana,” katanya.

Istikomah (45), warga RT 006 RW 012 Bukit Duri, mengatakan, rusun di Rawa Bebek sangat jauh dari pusat keramaian. “Saya seperti dibuang kalau mau pindah ke sana,” ujarnya.

Sekitar 79 keluarga RT 006 RW 012 dan RT 011 RW 010 bersama Ciliwung Merdeka yang dipimpin Sandyawan Sumardi mengajukan gugatan publik (class action) terhadap rencana relokasi hunian bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri. Gugatan itu masih bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Warga menggunakan jalan inspeksi Sungai Ciliwung yang telah selesai dibangun di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, sedangkan di sisi seberang deretan bangunan masih memenuhi bantaran Ciliwung di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (14/7). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menertibkan bangunan yang masih berdiri di bantaran sungai untuk melanjutkan proyek normalisasi Ciliwung.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Pemasangan turap beton di bantaran Sungai Ciliwung yang telah ditertibkan dari bangunan tempat tinggal warga di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (14/7). Proyek normalisasi bantaran Sungai Ciliwung di wilayah Bukit Duri kembali dilanjutkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menertibkan bangunan yang masih berdiri di bantaran sungai.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Adapun total warga yang akan terkena relokasi setidaknya berjumlah 460 keluarga di RW 009, 010, 011, dan 012 Bukit Duri.

Sandyawan mengatakan, warga sebenarnya tak keberatan direlokasi. Namun, mereka tidak mau dipindahkan ke rusun yang berbayar dan jauh aksesnya. Relokasi ke rusunami, kata Sandyawan, akan mematikan sumber ekonomi warga sekaligus menambah beban pengeluaran.

Sebelumnya, warga yang tergabung di Ciliwung Merdeka sudah mengajukan usul untuk direlokasi ke lahan yang disebut Setia Ciliwung. Warga bahkan sudah bersedia membayar 30 persen pembangunan perumahan di lokasi tersebut.

Baca juga :  PDAM Tirta Patriot Pasok Air Baku dari Kali Bekasi

Lurah Bukit Duri Mardi Youce mengatakan, relokasi akan didahului dengan surat peringatan yang berjarak sekitar 11 hari antara surat peringatan pertama hingga ketiga.

Terus berlanjut

Pembongkaran dan revitalisasi sebagian kawasan bantaran Sungai Ciliwung di Bukit Duri terlihat terus berlangsung. Revitalisasi terlihat dilakukan di Jembatan Tongtek dan RT 012 RW 010, yang ditinggalkan penghuninya, Februari.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Kamis, menyatakan, pemindahan penduduk dari kawasan Bukit Duri akan terus dilakukan karena Pemprov DKI akan melakukan penataan di kawasan tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan menjelaskan, penataan kawasan sungai di wilayah Bukit Duri jadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane. Namun, normalisasi sungai dan pembebasan lahan menjadi kewenangan dinas tata air.

Normalisasi sungai, ujar Teguh, belum bisa dilakukan karena warga belum sepenuhnya pindah ke rusun. “Kami targetkan tahun ini semua selesai,” ucapnya.

Untuk kebutuhan relokasi ini, sebanyak 400 unit di empat blok Rusunawa Rawa Bebek sudah disiapkan. Kendati rusun siap dihuni, belum ada akses jalan ke rusunawa sehingga pengunjung harus lewat timbunan tanah merah. Kepala Unit Pengelola Rumah Susun Rawa Bebek Darnawati Simbiring, Kamis, mengatakan, setiap unit memiliki luas 36 meter persegi dan berisi dua kamar tidur, satu kamar mandi, beranda, dan ruang tengah. “Setiap unit dapat dihuni satu keluarga beranggotakan empat sampai enam orang,” ujarnya.

Waduk Pluit

Di Rumah Pompa Waduk Pluit, Jakarta Utara, terdapat dua kabel yang korsleting dari 18 kabel yang ada. Kabel itu mengalirkan listrik ke empat pompa yang sejak beberapa bulan terakhir tidak beroperasi.

Koordinator Rumah Pompa Waduk Pluit Joko menyampaikan, pihaknya pernah melakukan pengetesan kabel yang menuju ke empat pompa. “Artinya, kemungkinan besar yang korsleting hanya dua kabel. Yang lain masih bagus. Hanya memang posisinya ada yang di bawah tanah sehingga sulit untuk dicek,” kata Joko.

Baca juga :  PT MRT Minta Persetujuan Tambahan Dana hingga Revisi Perda ke DPRD

(IRE/ILO/JAL/HLN/MDN)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button