Kliping

Perbaikan Perlu Dilakukan

Transjakarta dan KRL Masih Jadi Andalan, Prasarana Perlu Dilengkapi

JAKARTA, KOMPAS — Bermukimnya sebagian besar pekerja Jakarta di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi meningkatkan kebutuhan akan transportasi publik. Kebutuhan ini akan terus bertambah seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di kawasan sekitar Jakarta. Untuk itu, perbaikan angkutan umum mendesak dilakukan demi mencegah semakin parahnya kemacetan.

Penumpang bus antarkota yang tiba di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, berpindah menggunakan bus transjakarta di Halte Kalideres, Selasa (12/7). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meningkatkan layanan angkutan umum, termasuk bus transjakarta, untuk meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI. Penumpang bus antarkota yang tiba di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, berpindah menggunakan bus transjakarta di Halte Kalideres, Selasa (12/7). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meningkatkan layanan angkutan umum, termasuk bus transjakarta, untuk meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum.

Di Tangerang Selatan, sekalipun banyak diminati oleh warga, khususnya di Serpong dan Ciputat, operasional bus transjakarta belum memiliki prasarana berupa halte bus yang memadai. Pemerintah belum merencanakan pembangunan halte tinggi untuk menunjang bus yang memiliki pintu tinggi itu.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Tangsel Wijaya Kusuma, Selasa (12/7), mengatakan, Pemkot Tangsel belum menganggarkan pembangunan halte bus transjakarta rute BSD-Grogol dan Ciputat-Bundaran HI. Padahal, diakuinya, peminat bus transjakarta di kedua rute itu sangat tinggi.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

“Peminatnya sangat banyak. Kalau pagi dan sore hari, selalu penuh. Karena itu, sekarang PT Transjakarta sudah menambah armadanya. Waktu uji coba, frekuensi bus 30 menit-45 menit sekali. Sekarang, setiap 10 menit-15 menit ada bus yang datang,” kata Wijaya.

Selain itu, bus pengumpan, yaitu Trans Anggrek yang disiapkan oleh Pemkot Tangsel, saat ini diperpanjang rutenya dari Pondok Cabe-Stasiun Rawa Buntu menjadi Pondok Cabe-Giant BSD. Dengan begitu, bus ini sekaligus menjadi pengumpan bagi transjakarta.

Wijaya mengakui, dengan lima bus, peminat Trans Anggrek belum begitu banyak. Kebanyakan penumpang bus ini adalah para pelajar dan pegawai negeri sipil.

Kepala Dishubkominfo Kota Tangsel Sukanta mengatakan, untuk menyediakan transportasi massal, Pemkot Tangsel bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama pengembang untuk menyediakan prasarana, seperti halte bus. Beberapa kerja sama dengan perusahaan dan pengembang telah dijajaki.

Baca juga :  Kerja Sama Antarnegara untuk Membangun Perumahan

Saat ini, untuk transportasi dalam kota, warga memanfaatkan angkot sebab tak ada bus kota di Tangsel. Warga juga memakai kendaraan pribadi menuju Jakarta atau ke stasiun KRL.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Tangerang Wahyudi Iskandar mengatakan, Pemkot Tangerang berencana membangun terminal terpadu antarmoda angkutan di Poris Palawad. Terminal ini menyatu dengan Stasiun Kereta Api Batu Ceper.

Nantinya, tempat ini menjadi pusat seluruh moda transportasi, baik angkutan kota (angkot), bus antarkota antarprovinsi, KRL, maupun kereta bandara.

Pengelolaan disatukan

Hingga kini, dua angkutan massal yang menghubungkan lintas provinsi di Jabodetabek dan banyak diandalkan adalah KRL dan bus transjakarta. Untuk menjaring penumpang, kedua moda angkutan umum ini disubsidi oleh pemerintah.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan, migrasi ke Jakarta dengan sendirinya memberikan kontribusi pada kepadatan dan kemacetan lalu lintas. Ketersediaan angkutan umum menjadi jalan keluarnya.

content

“Agar warga mau bermigrasi dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, Pemerintah Provinsi DKI berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas angkutan umum,” tuturnya.

Sejak awal 2016, kata Andri, angkutan umum diintegrasikan dalam pengelolaan PT Transportasi Jakarta. Pada 2017 ditargetkan seluruh angkutan umum di Jakarta masuk pengelolaan PT Transjakarta dan seluruhnya dibayar rupiah per kilometer.

Menurut Andri, dari 48 trayek bus besar, kini tinggal 10 trayek yang belum diintegrasikan dengan bus transjakarta. Sementara untuk bus sedang, dari 84 trayek, masih ada 46 trayek yang belum diintegrasikan dalam bus transjakarta.

Bus-bus dari Bodetabek juga akan diintegrasikan dengan bus transjakarta. Dari 17 trayek eks angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB), ada 11 trayek yang kini dilayani bus transjakarta. Nantinya, trayek akan dikembangkan menjadi 21 trayek.

Baca juga :  Pelayaran dan Wisata Kepulauan Seribu Perlu Dibenahi

Hanya eks rute APTB Jakarta-Bogor belum bisa diganti dengan transjakarta karena biaya operasionalnya tinggi. Subsidi (public service obligation/PSO) belum cukup karena rute Jakarta-Bogor merupakan yang terjauh dibandingkan dengan rute ke daerah lain.

“Selain Bogor, kami akan terus menambah trayek sehingga warga di Bodetaek yang datang ke Jakarta untuk bekerja tidak lagi dengan kendaraan pribadi, tetapi menumpangi angkutan umum,” ucapnya.

Anggaran PSO yang digunakan untuk membayar rupiah per kilometer ke operator bus yang berkontrak dengan PT Transjakarta pun ditingkatkan dari Rp 1,6 triliun pada tahun ini menjadi Rp 3,2 triliun pada 2017. Dengan PSO, tarif transjakarta dipatok Rp 3.500 untuk seluruh rute.

Humas PT Transjakarta Prasetia Budi mengatakan, pihaknya mengantisipasi kenaikan penumpang dengan menambah bus. Saat ini, ada 850-880 bus beroperasi setiap hari. Jumlah penumpang bus transjakarta berkisar 375.000-380.000 orang per hari.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono menjelaskan, penumpang dari Bekasi tergolong besar. Dari Bekasi Barat ke Tosari, rata-rata 1.824 penumpang per hari.

1,2 juta penumpang

Vice President Komunikasi Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Eva Chairunisa, Selasa, mengatakan, kedatangan warga pendatang di Jabodetabek sudah termasuk dalam proyeksi kenaikan jumlah penumpang. KRL disiapkan mengangkut 1,2 juta penumpang di tahun 2019. Kini, pengguna KRL rata-rata 850.000 penumpang per hari.

Untuk meningkatkan kapasitas angkut, PT KCJ menambah jumlah kereta yang beroperasi. Tahun ini, mereka menargetkan tambahan kereta sebanyak 60 unit. Adapun PSO KRL yang dikucurkan pemerintah pusat tahun ini mencapai Rp 1,1 triliun.

(MDN/HLN/PIN/UTI/ILO/C11/*)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button