Kliping

Pacu Kapasitas Angkutan Umum

Prosesi mudik tahun ini diawali dengan sejumlah kabar baik: pengoperasian tol baru, pengujian kelayakan bus, penambahan kapasitas kereta dan pesawat, serta pengecekan stasiun, terminal, dan bandara. Namun, kisah duka pemudik masih berulang terkait kemacetan dan kecelakaan.

Para penumpang pesawat udara yang tiba menunggu giliran untuk mendapatkan taksi di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (10/7). Kepadatan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan  terjadi lagi  pekan ini bersamaan dengan berakhirnya libur sekolah.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI.
Para penumpang pesawat udara yang tiba menunggu giliran untuk mendapatkan taksi di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (10/7). Kepadatan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan terjadi lagi pekan ini bersamaan dengan berakhirnya libur sekolah.

Selain pengguna bus yang turun 2,7 persen, moda angkutan umum lain tumbuh positif. Pengguna angkutan udara bahkan diprediksi naik paling tinggi, yakni 7,6 persen. Namun, pertumbuhan itu berkejaran dengan pengguna kendaraan pribadi, terutama sepeda motor yang diperkirakan naik 50 persen jadi 5,6 juta unit.

Sebagian pemudik seperti tak punya banyak pilihan. Mereka memilih kendaraan pribadi karena faktor ekonomi dan fleksibilitas, selain karena angkutan umum tidak cukup kapasitasnya. Dampaknya, jalanan dipenuhi kendaraan pribadi. Macet telah membuat sebagian pemudik sangat menderita di jalanan.

Sejumlah kalangan mengapresiasi pengoperasian jalan tol baru. Namun, jalan tol bukan solusi tepat untuk mengakomodasi pergerakan jutaan orang. Sejumlah pengamat mendesak pemerintah memacu kapasitas dan kualitas moda angkutan umum.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Tahun ini, kereta api diperkirakan mengangkut 5,3 juta orang, naik dari 5,1 juta orang tahun lalu. Namun, kapasitasnya belum optimal dan masih bisa dilipatgandakan untuk menekan kendaraan pribadi. Ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit menyebutkan, ada dua masalah penyelenggaraan kereta terkait mudik dan balik Lebaran 2016. Pertama, kapasitas kereta yang terbatas. Kedua, soal sistem pemesanan tiket yang sulit diakses calon penumpang. Pemerintah perlu berkontribusi dalam pengembangan kereta.

Investasi dalam infrastruktur juga harus ditempuh pemerintah, terutama dalam pembuatan rel ganda (double track) di jalur selatan Jawa, khususnya di Kroya- Kutoarjo, Jawa Tengah. Ini untuk mendukung kereta rangkaian panjang yang kini hanya bisa melintas di jalur utara.

Baca juga :  Pemprov DKI Akan Keluarkan Pergub soal Pengelolaan RPTRA Kalijodo

Ahli transportasi Unika Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno menambahkan, kapasitas stasiun harus didorong maksimal. Hingga Sabtu (9/7), volume penumpang mudik yang diangkut dari Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen, Jakarta, mencapai 551.158 orang. Padahal, kedua stasiun berpotensi mengangkut sekitar 1 juta penumpang pada arus mudik.

Laut-udara

Di moda transportasi udara, keterlambatan penerbangan masih menjadi masalah. Di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, misalnya, tercatat 947 keterlambatan penerbangan sejak Jumat (24/6) hingga Sabtu (9/7). Selain keterlambatan, penumpukan penumpang masih jadi pekerjaan rumah.

Sementara di angkutan laut, keterbatasan jumlah kapal dan buruknya kondisi kapal masih jadi masalah pada Lebaran 2016. Kisah ratusan orang yang batal mudik dari Ambon ke Seram Bagian Timur, Maluku, karena tidak kebagian tempat di kapal PT Pelni, Sabtu (25/6), menjadi contoh masalah itu.

Demikian pula cerita ratusan orang yang tidak bisa mudik ke Banda dan pulau-pulau di tenggara Maluku karena kapal KM Tidar penuh sesak, Senin (4/7). Mereka sempat meluapkan kemarahannya kepada petugas pelabuhan, bahkan sempat terjadi baku hantam. Selang sepekan, Minggu (3/7), ratusan orang yang hendak mudik ke Kepulauan Banda Naira dan pulau-pulau di tenggara Maluku juga harus membatalkan keinginannya. Cerita ini berulang setiap Lebaran dan Natal.

Di wilayah barat, rute baru feri Jakarta-Bandar Lampung, Lampung, belum sesuai harapan. Kapal sepi penumpang, jadwal tak pasti, dan sosialisasi minim. Padahal, feri yang dioperasikan PT Atosim Lampung Pelayaran itu diharapkan bisa memecah kepadatan di jalur penyeberangan Merak-Bakauheni.

(GER/FRN/C01/C05/C09/ C08/C06/SEM)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button