Kliping

Kampung Iklim untuk Siasati Perubahan Iklim

Setiap perubahan menuntut kemampuan makhluk hidup untuk beradaptasi jika ingin bertahan. Demikian pula terhadap perubahan iklim yang terjadi sekarang ini, yang mengakibatkan bencana, seperti banjir rob di pesisir pantai dan tanah longsor. Upaya beradaptasi dan mengurangi dampak dari bencana alam ini mulai banyak dilakukan masyarakat lokal.

Aktivis lingkungan membentuk konfigurasi tulisan dalam kampanye
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN.
Aktivis lingkungan membentuk konfigurasi tulisan dalam kampanye “Climate Act Now” di Taman Bungkul, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (22/12/2009). Dengan wajah dicat warna bendera 15 negara peserta Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen beberapa waktu lalu, mereka mengkritik tak adanya keputusan mengikat dan langkah nyata mengurangi pemanasan global. Mereka menyerukan perlunya mitigasi lingkungan dengan melakukan tindakan pencegahan pemanasan global di kehidupan sehari-hari.

Saat ini di beberapa daerah mulai bermunculan kesadaran masyarakat untuk mengurangi bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Sejumlah kelompok masyarakat adat dan petani lokal mengembangkan strategi adaptasi terhadap pergeseran musim tanam akibat perubahan iklim.

Masyarakat adat Kasepuhan, Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten, misalnya, mampu beradaptasi dengan pola cuaca yang berubah. Ada dua cara yang dilakukan, yaitu mengubah jadwal tanam padi secara periodik dan mengelola hasil panen dengan sistem lumbung.

Hal demikian dilakukan pula oleh masyarakat adat Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Mereka menyesuaikan pola tanam dan melakukan diversifikasi pangan (Kompas, 28 Januari 2016).

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Keberhasilan kegiatan adaptasi perubahan iklim ini tidak lepas dari munculnya tokoh-tokoh penggerak yang menjadi agen perubahan. Tidak harus orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi yang lebih mendasar adalah kemauan yang kuat dari inisiator lokal tersebut.

Iswanto (46), pria kelahiran Gunung Kidul dan dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan di Politeknik Kesehatan, Yogyakarta, misalnya, mulai hijrah ke Dusun Sukunan pada 1997. Wilayah Dusun Sukunan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, ini termasuk daerah perbatasan dengan Kota Yogyakarta. Kondisi ekonomi masyarakatnya menengah ke bawah. Mereka bekerja sebagai buruh bangunan, petani, atau pegawai.

Baca juga :  Pemprov DKI Akan Tempatkan 10 Petugas Keamanan di RPTRA Kalijodo

Kegelisahan Iswanto berawal dari melihat perilaku masyarakat di kampungnya yang memiliki kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai, selokan, bahkan ke sawah. Selain itu, dia juga prihatin dengan perilaku membakar sampah sehingga menimbulkan kekumuhan dan penyakit ISPA di daerah tersebut. Konflik sosial akibat perilaku ini pun kadang terjadi.

Sebagai penduduk pendatang pada saat itu, ia prihatin melihat situasi tersebut. Tidak mudah mengenalkan perilaku hidup sehat. Cibiran dan cemoohan kerap diterima karena dianggap tidak mungkin mengubah kebiasaan masyarakat setempat.

Supaya sosialisasi berhasil, ia mulai dari diri sendiri dan keluarga terlebih dulu. Kemudian ia mengajak masyarakat lewat tokoh masyarakat dan kelompok siskamling. Akhirnya, masyarakat bersedia memilah sampah di rumah masing-masing kemudian dikelola bersama. Kemudian pada 2004 beberapa warga sepakat untuk membentuk komunitas.

content
,

Produk hasil pengelolaan sampah tersebut akhirnya berkembang dan dapat menggerakkan perekonomian di Dusun Sukunan dan sekitarnya. Sejak 2008, Dusun Sukunan menyatakan diri sebagai Desa Wisata Lingkungan. Warga setempat dapat menikmati kue ekonomi yang dihasilkan dari kegiatan edukasi pengelolaan sampah ini, misalnya dengan membuka warung makan dan menyediakan rumahnya sebagai homestay.

Beberapa warga memakai rumahnya untuk etalase produk pengelolaan sampah, seperti penyediaan pupuk kompos, nutrisi organik, dan kerajinan daur ulang. Bahkan, hasil kerajinan daur ulang dari Sukunan sudah merambah negara asing. Pada 2004, produk daur ulang dari kemasan plastik mulai diekspor ke Australia, Perancis, Amerika, Jepang, dan negara lain di Eropa.

Inisiatif lokal juga dilakukan Rahmad Tobadiyana (50) dari Dusun Serut, Kabupaten Bantul, yang berawal dari bencana gempa 2006 yang memorakporandakan Dusun Serut. Bencana tersebut menggugah Kepala Dusun Serut ini untuk melakukan adaptasi terhadap kemungkinan munculnya bencana yang sama.

Baca juga :  Pembuatan IPAL Komunal Kemayoran Sudah 80 Persen

Ia mulai mencoba memanfaatkan limbah ternak, rumah tangga, dan industri tahu di sekitar rumahnya untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pupuk tersebut kemudian dimanfaatkan untuk bertanam padi dan aneka umbi-umbian untuk ketahanan pangan.

Belajar dari bencana 12 tahun lalu, masyarakat kesulitan akses mendapatkan bahan pangan. Oleh karena itu, dia berpikir wilayahnya harus memiliki ketahanan pangan dalam menghadapi bencana. Sekarang, warganya mulai meniru apa yang dilakukan Pak Toba sehingga wilayah ini menjadi salah satu pusat pembelajaran pertanian organik di Kabupaten Bantul.

Program Kampung Iklim

Sebagai bentuk apresiasi atas kegiatan yang dimotori para pelaku lingkungan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuat Program Kampung Iklim. Menurut Nur Masripatin, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah mengembangkan Program Kampung Iklim sejak 2012. Program ini untuk memberi penghargaan atas upaya masyarakat di lingkungan. Itu diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2012 tentang Program Kampung Iklim.

Target Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai tahun 2019 membentuk 2.000 kampung iklim. Program ini merupakan bentuk apresiasi kepada masyarakat yang melakukan kegiatan adaptasi perubahan iklim. Misalnya, dengan membuat peraturan desa yang berkaitan dengan lingkungan atau membuat organisasi yang mengelola lingkungan.

Bayangan pesawat terbang di areal persawahan yang sebagian sudah dipanen di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat (10/8/2012). Lembaga-lembaga internasional memperingatkan bahwa harga pangan secara global mengalami kenaikan. Indonesia harus mempunyai ketahanan pangan yang mandiri di tengah konsumsi yang terus meningkat sebagai dampak peningkatan jumlah penduduk dan kelas menengah, belum lagi faktor dunia seperti fluktuasi harga akibat dampak perubahan iklim.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Jumadi (53) melubangi mulsa yang digunakan untuk menutup tanah yang akan ditanami seledri di Desa Kaponan, Pakis, Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/11/2015). Perubahan iklim yang berdampak antara lain pada pergeseran musim membuat petani tradisional harus semakin mencermati kondisi alam untuk menentukan awal masa tanam karena aturan Pranata Mangsa semakin sukar digunakan sebagai patokan. Pranata Mangsa merupakan penunjuk waktu tanam yang ilmunya diwariskan secara turun temurun oleh leluhur.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Tipe lokasi Program Kampung Iklim paling tidak ada empat, yaitu masyarakat desa pesisir pantai, masyarakat desa tepi hutan, masyarakat perkotaan, dan masyarakat desa pertanian/perkebunan. Strategi adaptasi yang dilakukan masyarakat tersebut ada yang dengan kesadaran sendiri, ada pula yang mendapat dorongan dari pihak luar, seperti lembaga swadaya masyarakat atau dunia usaha.

Setiap tahun, usulan kampung iklim dari daerah semakin banyak. Pada 2012, usulannya sebanyak 71 lokasi dan pada 2016 bertambah hampir empat kali lipat. Pada tahun ini sudah ada usulan sebanyak 278 daerah yang masih dalam tahap verifikasi.

Baca juga :  Di Lebaran Betawi, Presiden Jokowi Akan Bertamu ke "Rumah" Wali Kota

Dalam program ini, lokasi yang diusulkan kabupaten, kota, atau provinsi harus melalui tahap seleksi terlebih dulu. Setidaknya memenuhi persyaratan ada kegiatan adaptasi, mitigasi, dan ada komunitas lokal serta aspek keberlanjutan. Penilaian tertinggi akan memperoleh trofi dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sampai 2015 sudah ada 35 lokasi yang mendapat trofi kampung iklim dari 626 lokasi yang diusulkan.

Iswanto dari Dusun Sukunan dan Rahmad Tobadiyana dari Dusun Serut merupakan agen-agen perubahan yang muncul dari masyarakat lokal. Berkat kontribusi merekalah, kedua lokasi ini menjadi salah satu kampung iklim yang pertama sejak program tersebut digulirkan, bahkan semakin berkembang.

Namun, program ini perlu dievaluasi. Beberapa pelaku lingkungan yang menjadi agen perubahan di daerahnya membutuhkan wadah untuk saling berbagi dengan pelaku lingkungan lain-wadah untuk diseminasi ilmu dan mengembangkan potensi daerah masing-masing.

Harapannya, program ini tidak sekadar memberikan penghargaan kepada masyarakat, kemudian berhenti begitu saja. Keberlanjutan kegiatannya juga perlu dipertimbangkan. Kegiatan adaptasi dan mitigasi yang dilakukan masyarakat lokal membutuhkan komitmen dari pihak-pihak yang terlibat, seperti pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

(LITBANG KOMPAS)

Penurunan harga bahan bakar batubara yang sangat signifikan membuat aktivitas tambang fosil itu lesu seperti tampak dari atas pesawat Kamis (4/2/2016), sesaat sebelum mendarat di Berau, Kaltim. Ini disebabkan menurunnya permintaan batubara dari negara-negara tujuan seperti Tiongkok dan India. Di sisi lain, pemerintah berusaha meningkatkan permintaan batubara dari dalam negeri untuk membuka pasar dengan membangun pembangkit listrik tenaga uap. Upaya ini ditentang aktivitas lingkungan karena akan meningkatkan emisi gas rumah kaca yang tak konsisten dengan semangat memerangi perubahan iklim.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO
Potret dari udara menggambarkan sebuah rumah yang nyaris tenggelam tergenang rob di Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara, Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (4/4/2016). Rob dan penurunan permukaan tanah mulai dirasakan oleh warga di kawasan tersebut sejak tahun 2007. Sebagian besar warga di tempat itu pindah rumah karena hunian mereka tidak bisa lagi diselamatkan dari terjangan air rob.
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Banjir rob menggenangi kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (7/6/2016). Dalam beberapa hari terakhir sejumlah kawasan di pesisir utara Jakarta terkena banjir rob saat pasang laut.
KOMPAS/RADITYA HELABUMIBanjir rob menggenangi kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (7/6/2016). Dalam beberapa hari terakhir sejumlah kawasan di pesisir utara Jakarta terkena banjir rob saat pasang laut.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button