Kliping

Menuju Kota Ramah Pejalan Kaki

Wajah kota Jakarta terus mencari bentuknya. Di tengah tren kota-kota megapolitan dunia yang semakin ramah terhadap ruang publik, kawasan-kawasan pusat bisnis Jakarta pun dituntut menghadirkan kenyamanan akses publik dan gedung-gedung pencakar langit yang saling terhubung.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Kawasan pedestrian di Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta, Senin (16/5).
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Kawasan pedestrian di Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta, Senin (16/5).

Pengembangan kawasan pusat bisnis di Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit yang terkoneksi dan ramah ruang publik sebenarnya bukanlah konsep baru. Koridor Satrio sepanjang 1,6 kilometer yang terbentang dari simpang Jalan Sudirman-Jalan Prof Dr Satrio hingga mulut Jalan Casablanca telah lama digadang menjadi sabuk wisata dan belanja internasional (Satrio Shopping Belt) yang ramah pejalan kaki.

Terinspirasi kisah sukses “Orchard Road” Singapura, koridor yang terletak di jantung segitiga emas kawasan Thamrin-Gatot Subroto-Sudirman itu sejak tahun 1990-an didesain memberikan perlakuan istimewa bagi pejalan kaki, antara lain penyediaan jalur pedestrian selebar 11,5 meter. Jika terlaksana, koridor itu diyakini memberikan efek domino bagi pertumbuhan properti secara keseluruhan, berupa pertumbuhan ritel, hotel, ataupun apartemen sewa.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tahun 2010-2011 pernah menyebut kawasan Satrio Shopping Belt bakal dibangun selayaknya Orchard Road, tersambung dengan kawasan Superblok Mega Kuningan yang lebih dulu ada. Di sinilah pusat belanja kelas menengah ke atas, apartemen, dan gedung perkantoran premium akan terkoneksi dan menjadi magnet mobilitas kaum urban untuk bekerja, berbelanja, ataupun menetap di satu kawasan.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Tak mengherankan jika Satrio Shopping Belt menjadi ladang garapan sejumlah pengembang sekaliber Grup Ciputra, Duta Pertiwi (Sinarmas Land), dan Agung Podomoro. Di samping pula enam pengembang besar yang juga mendapat izin membangun koridor itu, yaitu Grup Asiatic, Jakarta Setiabudi International, Putera Surya Perkasa, Jakarta Land, serta Grup Hatmohadji dan Kawan (Grup Haka), Grup Danamon, dan Mega Kuningan.

Harus ditata kembali

Namun, badai krisis moneter tahun 1997-1998 menghantam megaproyek Satrio Shopping Belt. Sejumlah pengembangan proyek terhenti. Aset lahan pengembang masuk dalam pengelolaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional ataupun berganti kepemilikan karena terlilit kredit bank. Kebangkitan ekonomi pascakrisis sejak 2002 hingga kini masih belum mampu mengembalikan megaproyek sesuai rancangan awal.

Pakar perencanaan kota dari Institut Teknologi Bandung, Mohammad Danisworo, yang pernah menjabat Ketua Tim Pembuat Urban Design Guide Lines Satrio Shopping Belt, menyebutkan, kawasan itu semula dirancang dengan berorientasi kepada pedestrian dan desain gedung sedemikian rupa untuk menghadirkan interaksi yang dekat dengan pejalan kaki. Namun, pelaksanaan konsep itu mundur akibat krisis.

Terdata hanya beberapa proyek gedung yang dibangun dengan menerapkan konsep ramah pejalan kaki, antara lain Ciputra World dan Kuningan City. Koridor Satrio Shopping Belt bahkan dinilai mengalami kemunduran dengan kehadiran raksasa beton Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang sepanjang 7,5 km yang hampir menutup kawasan. Pilar penyangga jalan pun mengimpit area untuk pejalan kaki.

Di negara beriklim tropis, ujar Danisworo, ada kecenderungan masyarakat tidak bisa berjalan kaki terlalu jauh karena cepat lelah. Karena itu, dibutuhkan jalur pedestrian yang lebih pendek dan terlindung dalam gedung.

Menyediakan jalur pedestrian di dalam gedung sudah banyak ditemukan di kota-kota besar dunia. Di Singapura yang hawanya terik, pengunjung dan wisatawan bisa dengan leluasa berjalan-jalan di keliling “Kota Singa” itu tanpa kepanasan dengan memanfaatkan jalur pedestrian di bawah gedung. Jalur pedestrian yang terlindung bahkan menumbuhkan ruang komersial dengan hadirnya kios atau gerai di sepanjang koridor pejalan kaki.

“Perlu pemikiran ulang mengenai perencanaan Satrio Shopping Belt. Akses harus ditata kembali,” ujar Danisworo.

Danisworo menambahkan, kota Jakarta telah sekian lama mempertontonkan potret ketidakadilan dengan memberikan tempat lebih terhormat bagi kendaraan ketimbang manusia. Areal parkir di sejumlah lahan perkantoran dipertahankan tetap lebar, tetapi jalur pedestrian di muka gedung dibiarkan sempit.

Sementara itu, keberadaan dinding dan pagar pemisah antargedung membuat kota semakin tidak ramah bagi pejalan kaki. Ditambah lagi jalur pejalan kaki di depan perkantoran belum berfungsi optimal karena kerap terkooptasi oleh lapak pedagang kaki lima hingga parkiran ojek.

Hidupkan kembali

Harapan kemudahan akses bagi ruang publik muncul dengan hadirnya proyek transportasi massal cepat (MRT) di koridor Jalan Sudirman-Thamrin. Penumpang MRT nantinya diarahkan keluar-masuk stasiun melalui gedung perkantoran ataupun mal di sepanjang Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin. Di samping juga pelebaran jalur pedestrian hingga selebar 12 meter-14 meter. Jika digarap serius, koridor itu bisa menyalip Satrio Shopping Belt.

Pengembangan koridor Sudirman-Thamrin yang ditopang jalur MRT dapat menjadi stimulus untuk menghidupkan kembali Satrio Shopping Belt. Dari pemberhentian stasiun MRT di simpang Sudirman-Satrio, penumpang bisa melanjutkan perjalanan ke koridor Satrio dengan kendaraan umum. Untuk itu, jaringan transportasi yang terintegrasi perlu disiapkan.

Diakui Danisworo, penguasaan sebagian besar lahan di Ibu Kota oleh pengembang dan pemilik lahan membutuhkan komitmen pemerintah untuk merangkul pemilik lahan gedung agar menyediakan akses publik.

“Tak berlebihan jika lahan perkantoran yang dibebaskan untuk jalur pedestrian memperoleh insentif berupa pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan dari pemerintah daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Savills Indonesia Jeffrey Hong mengemukakan, pengembangan shopping belt tidak harus berwujud pertokoan mewah, melainkan pertokoan yang ditopang oleh fasilitas penunjang seperti rumah sakit, hotel, apartemen sewa yang mendorong bisnis dan sektor pariwisata tumbuh.

Beberapa proyek gedung di koridor Satrio kini telah menjadi ikon kawasan, seperti Sinarmas Land dengan properti multifungsi ITC Kuningan-Mal dan Apartemen Ambassador, Jakarta Land, dengan Wisma Metropolitan dan World Trade Center 1&2, serta Grup Ciputra dengan kehadiran Ciputra World Jakarta dan Lotte Shopping Avenue.

Menurut Jeffrey, masih ada peluang menghidupkan kembali Satrio Shopping Belt selayaknya Orhard Road Singapura. Tingkat kunjungan tak harus terkait dengan turis asing, tetapi juga pasar lokal. “Keberhasilan konsep shopping beltsama halnya dengan membuat orang rela menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Ikatan Ahli Perencana Bernardus Djonoputro berpendapat, perlu ada desain tertentu dan detail supaya orang dapat bergerak di sebuah koridor tanpa hambatan. Dibutuhkan kajian matang misalnya untuk membangun trotoar yang lebih lebar ataupun menyiasati ketika pejalan kaki harus bersilangan dengan arus kendaraan, tetapi pejalan kaki tetap merasa nyaman.

Tanpa desain yang detail, Bernardus mencontohkan, pergerakan mobil dari Central Park menuju Taman Anggrek yang tersendat. “Masak mobil itu harus lewat jalan sempit di sebelah kali. Seharusnya difasilitasi pemerintah daerah, dua pengembang swasta itu, kan, memikirkan juga akses jalan di antara dua mal itu,” katanya.

Ketika dua mal yang bersebelahan saja tidak terkoneksikan dengan baik, maka bagaimana pula dengan sebuah koridor jalan dengan panjang berkilo-kilometer.

Di samping itu, perlunya membangun halte-halte bus feeder di Jalan Dr Satrio. Dengan demikian, masyarakat dapat digelontorkan ke koridor itu dengan angkutan umum, tidak harus selalu dengan kendaraan pribadi.

Meski akses jalannya berliku dan tidak dapat melindungi pejalan kaki dari hujan, koridor jalan di antara Ratu Plaza dan Plaza Senayan bisa menjadi contoh. Atau dari Plaza Senayan menuju Senayan City menjadi salah satu contoh di mana masyarakat dapat bergerak di antara dua gedung itu dengan berjalan kaki.

(BM LUKITA GRAHADYARINI/HARYO DAMARDONO)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button