Kliping

Pencahayaan Pun Dituntut Lebih Pintar

Penduduk yang terus tumbuh dan memenuhi kota membuat kebutuhan pencahayaan kian besar. Pencahayaan yang hemat energi menjadi keharusan untuk menekan beban biaya. Tidak cukup itu, pencahayaan juga terhubung dengan segala sesuatu, membuat hidup lebih mudah.

Eric Rondolat, Chief Executive Officer Philips Lighting, memberikan keterangan dalam konferensi pers di pameran Light+Building di Messe Frankfurt, Frankfurt, Jerman, pertengahan Maret lalu.
KOMPAS/AMANDA PUTRI. Eric Rondolat, Chief Executive Officer Philips Lighting, memberikan keterangan dalam konferensi pers di pameran Light+Building di Messe Frankfurt, Frankfurt, Jerman, pertengahan Maret lalu.

Bayangkan, di sebuah kota, petugas dapat memantau ribuan hingga ratusan ribu lampu jalan atau lampu kota. Semua dikendalikan dengan program di komputer. Dari layar bisa terlihat mana saja lampu yang menyala serta lampu yang mati atau rusak, mana lampu yang paling hemat energi, dan lampu mana yang mengonsumsi energi paling besar.

Tidak hanya memantau, petugas juga dapat mengendalikan dari jarak jauh lampu yang dibuat menyala terang untuk mencegah kejahatan di tempat rawan serta lampu yang akan diredupkan untuk membuat suasana teduh dan romantis atau sekadar menghemat listrik.

Itu adalah sekilas gambaran City Touch, program yang diluncurkan Philips Lighting sejak tahun 2012. Hingga kini ada 530 kota di 33 negara yang telah memanfaatkannya. Ini adalah sistem yang memungkinkan otoritas perkotaan mengendalikan pencahayaan kota secara cerdas, efektif, dan efisien.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Bayangkan semua lampu di kota terdata, baik dari jenis, warna, maupun konsumsi energinya. Data dapat diakses real time. Jika dibutuhkan, perbaikan tidak akan membutuhkan waktu lama karena langsung dapat diketahui permasalahannya. Waktu dan tenaga tidak terbuang untuk kontrol berkala dan pengecekan secara fisik.

Chief Executive Officer Philips Lighting Eric Rondolat dalam perhelatan Light+Building di Frankfurt, Jerman, pertengahan Maret lalu, mengatakan, setidaknya 20 persen dari penggunaan listrik dunia adalah untuk penerangan. Kini, fungsi lampu tidak cukup sekadar menerangi, tetapi juga terkoneksi dan memiliki nilai lebih, seperti memberi rasa aman dengan pencahayaan yang terang di tempat sepi, memberi mood.

“Kombinasi antara penggunaan lampu LED dan sistem yang terkoneksi menghemat energi 50-80 persen. Ini sangat besar mengingat biaya penerangan sebuah kota tidak sedikit. Saat ini, tidak lebih dari 12 persen lampu jalan di kota menggunakan lampu LED dan kurang dari 2 persennya telah terkoneksi,” kata Eric.

Sistem ini menawarkan lampu yang memiliki sinyal frekuensi radio yang dapat mengirimkan data melalui sinyal GSM ke komputer. Sistem ini mampu menyimpan detail informasi dari setiap lampu, memonitor konsumsi listrik, mendeteksi lampu yang tidak berfungsi dengan baik, dan memberi tahu pusat sistem apabila ada komponen yang perlu diperbaiki.

Baca juga :  Djarot Paparkan Manfaat Big Data

Kota Los Angeles di Amerika Serikat adalah kota pertama yang menerapkan City Touch. Di Indonesia, City Touch telah diterapkan di Jakarta. Sebanyak 1.300 lampu dari 190.000 lampu di Jakarta telah menggunakan sistem ini. Proyek serupa telah diterapkan di Solo dan Surabaya serta akan dimulai di Semarang.

Presiden Direktur Philips Lighting Indonesia Chandra Vaidyanathan mengatakan, penghematan di sebuah kota sangat signifikan mengingat masih banyak lampu jalan yang menggunakan lampu pijar dengan konsumsi daya bisa mencapai 200 watt hingga 400 watt.

Begitu pula dengan sistem City Touch. Lampu dibuat berkelompok dengan sistem kabinet yang memungkinkan operator mengendalikan sekelompok lampu itu. “Anda hanya butuh sistemnya, termasuk lampu LED. Pengontrol GSM sudah termasuk di dalamnya. Tidak perlu mengganti kabel dan jaringan yang sudah ada, hanya perlu menambahkan connector node ke jaringan lampu. Ini sama seperti Anda membeli ponsel pintar dan terkoneksi ke Wi-Fi,” tutur Chandra.

Di lingkup rumah, Philips Lighting menawarkan sistem serupa, yaitu Philips Hue. Sistem ini memungkinkan pemilik rumah menyalakan atau mematikan lampu meskipun tidak di rumah, juga memberi efek psikologis dari warna dan kekuatan penerangan. Bangun tidur, misalnya, lampu menyala seperti cahaya matahari terbit, berwarna kuning dan perlahan-lahan berubah semakin terang, membuat tubuh tidak kaget dengan suasana yang tiba-tiba terang. Setelah bangun dan mandi, lampu kemudian berangsur-angsur menyala semakin terang.

Jika Anda lupa mematikan lampu saat berangkat kerja dan tidak ada orang di rumah, ada jenis lampu yang dapat mendeteksi gerakan sehingga akan mati otomatis jika rumah kosong. Sistem ini memungkinkan lampu menyala jika tiba-tiba rumah dimasuki pencuri.

Inovasi juga dilakukan perusahaan lampu dari Jerman, Osram. Dalam siaran pers saat pameran Light+Building, CEO Lighting Solution Osram Eladio Pulido mengatakan, permintaan solusi kota pintar terus naik. Osram menawarkan sistem Street Light Control yang memungkinkan lampu penerangan jalan terkontrol dan termonitor setiap waktu. Sistem ini memungkinkan lampu jalan dimatikan, diredupkan, atau dinyalakan sesuai waktu atau cuaca.

Baca juga :  Beban Sosial Jakarta Masih Berat

(AMANDA PUTRI N)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button