Kliping

Waspadai Masalah Pasca Relokasi

Warga Terdampak Penertiban Khawatir Kehilangan Rezeki dan Relasi Sosial

JAKARTA, KOMPAS — Penertiban kawasan yang dihuni secara liar dilakukan berturut-turut oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam setahun terakhir. Di samping hasil positif berupa kawasan yang makin tertata, sebagian warga terdampak relokasi justru makin terdesak di tempat baru. Hal ini menghantui warga target penertiban berikutnya.

Rusunawa Rawa Bebek di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (2/4). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah rusunawa untuk relokasi warga yang terdampak revitalisasi di sejumlah tempat di Jakarta. Sebanyak 250 unit di Rusunawa Rawa Bebek disiapkan untuk relokasi warga di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara.
Rusunawa Rawa Bebek di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (2/4). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah rusunawa untuk relokasi warga yang terdampak revitalisasi di sejumlah tempat di Jakarta. Sebanyak 250 unit di Rusunawa Rawa Bebek disiapkan untuk relokasi warga di kawasan Luar Batang, Jakarta Utara.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
 

Di kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (2/4), sebagian warga ikut serta dalam sosialisasi dan dialog yang digelar Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

“Kami mendengarkan semua suara warga di sini. Yang kami tangkap, tidak ada sosialisasi ke warga Pasar Ikan tentang penggusuran. Semua akan kita tampung. Nanti bagaimana warga akan bergerak,” kata Matthew Michele Lenggu dari LBH Jakarta seusai berdialog dengan warga.

Warga Pasar Ikan, khususnya kawasan Aquarium, dan LBH Jakarta memiliki dokumen tahun 1996 yang menyatakan akan ada penertiban di Aquarium RT 001 dan RT 012, tetapi tidak terjadi karena kemudian kawasan itu dinyatakan bukan hunian ilegal. Warga yang tinggal di kawasan itu mengetahui bahwa ada empat rumah yang ada sejak dulu tanpa direnovasi, yang dulunya diyakini merupakan kompleks perumahan polisi belanda.

Pinjaman Online

Marlinah (38), warga RT 001 RW 004, sebagai wakil warga yang bertemu dengan pihak LBH Jakarta, mengatakan, warga datang untuk mendengarkan pengarahan serta opsi hukum yang disampaikan LBH. “Kita tidak akan melawan. Kita menggunakan bantuan hukum agar kita diberikan keadilan. Penggusuran harus memperhatikan warga,” tutur Marlinah.

Wakil dari Pemuda Aquarium, Jamiad (22), menambahkan, bantuan hukum bagi warga diperlukan untuk menuntut agar penggusuran lebih memperhatikan nasib mereka ke depan.

Bagi warga Pasar Ikan, ada dua keputusan. Sebagian warga penghuni daratan mendapatkan hak untuk pindah ke rumah susun sederhana sewa (rusunawa) karena memiliki KTP DKI Jakarta. Sementara warga penghuni kali dianggap ilegal dan akan dipulangkan ke daerah asal. Kedua hal itu tetap menakutkan karena sama-sama tidak menjamin kelangsungan hidup mereka.

Kekhawatiran serupa dirasakan warga Bukit Duri, kampung di bantaran Kali Ciliwung di Jakarta Selatan. Masuk ke lorong- lorong lebih dalam di kampung di bantaran kali itu, keresahan warga lebih kental di RW 010 dan RW 011, Kelurahan Bukit Duri. Sekitar 140 keluarga di sana sudah menerima surat pemberitahuan dan undangan sosialisasi relokasi. Relokasi ini menurut rencana dilakukan pada Mei.

Pasangan Kosim (83) dan Jumani (74) yang membuka warung nasi di rumah mereka menuturkan, kalau harus pindah dari lingkungan itu dan berpisah dari tetangga, usaha yang selama ini menghidupi mereka akan mati. Ini karena selama ini para pelanggan adalah tetangga mereka.

Apalagi, di usia renta, memulai usaha baru di lingkungan baru betul-betul tak terpikirkan lagi. Tak hanya itu, terpisah dari lingkungan yang sudah mereka kenal selama puluhan tahun ini berarti kehilangan dukungan sosial yang sangat penting bagi mereka. “Kalau tetangga baru, kami belum kenal, bagaimana nanti kalau ada apa-apa,” ujar Jumani.

Demikian juga bagi Atikah (42), warga yang sudah mengontrak sekitar lima tahun di daerah itu. Ia butuh tetangganya untuk menitipkan anaknya tanpa biaya. Ia kerap harus menitipkan anak saat harus bekerja menjadi buruh cuci, sementara suaminya bekerja sebagai tukang bangunan.

Pindah bareng

Dari kekalutan warga ini, terlihat pentingnya komunitas yang sama bagi keberlangsungan kehidupan mereka. Pentingnya dukungan sosial inilah yang mendorong sekitar 38 dari total 140 keluarga yang akan direlokasi dari Bukit Duri untuk mendaftar masuk ke Rusunawa Pulogebang, Jakarta Timur.

Sebelumnya, Kampung Pulo, kampung tetangga di seberang Ciliwung, mengalami relokasi itu. Disusul 97 keluarga di Bukit Duri mengalami nasib yang sama pada Januari lalu. Sebagian dari mereka kini tinggal di Rusunawa Pulogebang.

Namun, hingga pekan pertama April, belum ada kepastian ke-38 keluarga itu dapat menyewa di Pulogebang. “Kalau masih ada unit, ya, mereka bisa masuk. Kami masih menunggu informasi kepastian bisa atau tidaknya,” ujar Lurah Bukit Duri Mardi Youce.

Sosialisasi relokasi di kantor Kelurahan Bukit Duri pada pertengahan Maret lalu minim diskusi. Warga yang akan direlokasi nyaris tak memperoleh kesempatan untuk menyuarakan keresahan, apalagi harapan mereka. Sosialisasi lebih didominasi pemerintah memberikan instruksi warga untuk menyiapkan diri.

Direktur Komunitas Ciliwung Merdeka Sandyawan Sumardi yang mendampingi warga Bukit Duri menilai relokasi perkampungan di DKI Jakarta belum meletakkan warga sebagai subyek. Ini terlihat dari minimnya diskusi. Pemindahan tak mengindahkan relasi sosial dan ekonomi warga yang sudah terbentuk dalam komunitas di perkampungan. Padahal, dua hal ini merupakan aspek mendasar dari ketahanan hidup mereka.

“Di kampung, mereka hanya mengeluarkan Rp 75.000-Rp 150.000 per bulan biaya tempat tinggal. Di rusunawa, sewanya Rp 500.000-Rp 700.000 sebulan. Dari mana mereka bisa memenuhinya, sementara penghasilan berkurang?” ujar Sandyawan.

Ruang-ruang sempit di rusunawa membuat warga sulit membangun usaha. Di Bukit Duri tercatat ada 30 sektor ekonomi informal, antara lain warung, pengolahan ayam potong, pembuatan tempe, dan pembuatan sapu. Mereka memanfaatkan rumah sebagai ruang produksi. Sektor-sektor ini terancam mati kalau relokasi tak mendukung. (IRE/C07)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button