Kliping

DKI Jangan Tergesa

Penghapusan “3 in 1” Bisa Menambah Kemacetan

JAKARTA, KOMPAS — Penghapusan kebijakan tiga orang per kendaraan di jalan protokol DKI Jakarta berpotensi menambah kemacetan karena ketidaksiapan infrastruktur. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diingatkan untuk tidak tergesa-gesa menangani persoalan serta mengantisipasi potensi kemacetan akibat kebijakan itu.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Aktivitas pekerja proyek pembangunan stasiun bawah tanah untuk kereta MRT di Stasiun Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (31/3). Saat ini, kontraktor Shimizu, Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Konstruksi sedang melanjutkan pengeboran terowongan dari Stasiun Senayan menuju Stasiun Istora.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Aktivitas pekerja proyek pembangunan stasiun bawah tanah untuk kereta MRT di Stasiun Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (31/3). Saat ini, kontraktor Shimizu, Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Konstruksi sedang melanjutkan pengeboran terowongan dari Stasiun Senayan menuju Stasiun Istora.

Pesan itu mengemuka dalam diskusi tentang rencana penghapusan kebijakan3 in 1 (three in one/tiga orang per kendaraan) di Jakarta, Kamis (31/3).

Sekretaris Dewan Transportasi Kota Jakarta David Tjahjana berpendapat, kendaraan pribadi bisa bertambah di jalan dengan adanya penurunan harga bahan bakar minyak sekaligus penghapusan kebijakan tiga penumpang per kendaraan. Pada saat yang sama, moda angkutan umum massal belum cukup baik sebagai alternatif moda transportasi.

Direktur Institut Studi Transportasi Darmaningtyas menambahkan, kemacetan berpotensi bertambah karena pada saat yang sama jalan belum steril. Sejumlah pembangunan infrastruktur juga masih berlanjut dan mengambil badan jalan di kawasan yang diberlakukan pembatasan tiga penumpang per kendaraan.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Anggota Dewan Riset Daerah DKI Jakarta, Trisbiantara, mengingatkan Pemprov DKI untuk tidak reaktif atas problem sosial yang mengawali rencana penghapusan kebijakan tiga penumpang per kendaraan ini. Dia merujuk pada keberadaan joki dengan bayi dan anak.

“Jika sakit perut, jangan makan obat sakit kepala. Saya khawatir warga berontak karena 3 in 1 dihapus dan segera beralih ke ERP (jalan berbayar). Penerimaan warga atas kebijakan baru membutuhkan waktu,” kata Trisbiantara.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah berpendapat, kebijakan tiga penumpang per kendaraan yang sudah berusia 12 tahun tidak efektif dan justru memicu masalah sosial. “Kami mau uji coba dahulu mulai Selasa. Jika nanti terbukti (kebijakan ini efektif), penghapusan 3 in 1 bisa lanjut,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Risyapudin Nursin menyampaikan agar Pemprov DKI memikirkan kembali secara matang rencana penghentian kebijakan tiga penumpang per kendaraan. Perlu diperhitungkan dampak penghentian sistem itu terhadap kepadatan lalu lintas di Jakarta selama jam sibuk karena sebagian besar pengguna jalan belum bermigrasi ke angkutan umum.

Baca juga :  Sidak Sumur Resapan, Gubernur DKI Minta Pengelola Kawasan Industri Kooperatif

Penanganan kemacetan yang paling efektif, kata Risyapudin, adalah dengan memperbaiki sistem angkutan umum di Jakarta sehingga pengguna jalan benar-benar bermigrasi ke angkutan umum. Setelah itu, sistem tiga penumpang per kendaraan di jalan protokol bisa dihentikan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, kebijakan tiga penumpang per kendaraan harus tetap dihentikan meskipun sistem penggantinya, yaitu ERP, diperkirakan dilaksanakan tahun depan. Ia menilai aturan ini tidak lagi efektif mencegah kemacetan. Justru kebijakan ini menimbulkan permasalahan baru, seperti maraknya joki, eksploitasi anak yang dibawa joki, dan potensi kejahatan lain.

MRT jalan terus

Sementara pembangunan terowongan kereta MRT terus berlangsung dengan beroperasinya tiga tunnel boring machine, yaitu Antareja I, Antareja II, dan Mustikabumi I. Untuk jalur Patung Senayan hingga Istora, pengeboran dilakukan menggunakan mesin Antareja I dan Antareja II. Antareja I telah menggali 658,5 meter dan Antareja II 354 meter. Mustikabumi I menggali dari Bundaran Hotel Indonesia ke Dukuh Atas sepanjang 37,5 meter.(MDN/IRE/MKN)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button