Kliping

Inovasi untuk Penuhi Kebutuhan Air Bersih

JAKARTA, KOMPAS — Jakarta masih dihantui masalah penyedotan air tanah secara masif dan menjadi salah satu pemicu penurunan muka tanah. Di sisi lain, pasokan air bersih di Ibu Kota susah payah dipenuhi. Selain masyarakat, kebutuhan air bersih yang amat tinggi datang dari perusahaan-perusahaan besar, seperti pengembang. Dibutuhkan investasi cukup besar untuk bisa menutup kebutuhan air bersih itu. Demi menekan biaya dan menjamin keberlangsungan pemenuhan kebutuhan air bersih, diperlukan inovasi teknologi ramah lingkungan.

Pengolahan air laut menjadi air tawar atau seawater reverse osmosis (SWRO) adalah salah satu cara yang bisa dipilih. Pengolahan air seperti ini telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta di wilayah Kepulauan Seribu.

Di wilayah Jakarta Utara, PT Pembangunan Jaya Ancol telah memulai hal ini untuk menutupi minimnya pasokan air perpipaan yang ada. Direktur PT Sarana Tirta Utama (STU) FX Husni menuturkan, menutupi kekurangan pasokan adalah sasaran utama pembuatan SWRO. PT STU adalah anak perusahaan PT Pembangunan Jaya Ancol yang membidangi pengelolaan air.

“Investasinya memang besar, mencapai Rp 50 miliar untuk tiga buah mesin. Akan tetapi, kualitasnya sudah sangat baik, bahkan bisa langsung diminum,” kata Husni, Senin (21/3).

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Setiap hari, SWRO ini menghasilkan air bersih 3.800 meter kubik-4.500 meter kubik. Jumlah ini menutupi sepertiga kebutuhan air di lingkungan PT Pembangunan Jaya Ancol yang mencapai 12.000 meter kubik per hari. Pemenuhan sisa kebutuhan air tetap mengandalkan dari air perpipaan.

Menurut Husni, perjalanan mesin SWRO tidak selalu mulus. “Namun, setahun terakhir mulai normal setelah kami mencari dan menganalisis kelemahan yang terjadi. Baik dari pompa tersumbat, air kotor, atau lainnya. Kami mengupayakan agar pasokan air terpenuhi, kualitas baik, dan tidak menggunakan sumur,” kata Husni.

Baca juga :  Pemerintah kaji wilayah penerima izin pemanfaatan hutan sosial

Mesin pengolah air SWRO di Ancol ini mengambil air langsung dari laut dengan pipa berdiameter 20 inci. Air laut lalu masuk ke kolam penampungan. Agus Riyanto, Manager Reverse Osmosis PT STU, menyampaikan, saat air lebih kotor dari biasanya, akan dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Namun, jika air laut normal, air dialirkan ke kolam pengolahan (dissolved air flotation).

Senin sore, mesin bekerja menjaring kotoran di bagian atas dan bawah kolam. Mesin yang menyalurkan udara juga dialirkan di bagian kolam. “Setelahnya, air lalu dialirkan ke mesin penyaring dan mesin reverse osmosis. Di sini, air bersih akan keluar lalu kami alirkan ke penampungan dan dialirkan ke zona yang ada,” tutur Agus.

Olah air hujan

Mal Central Park, Jakarta Barat, merupakan salah satu perusahaan swasta yang memiliki alat pengolah air limbah dan penampung air hujan. Air bekas cuci tangan pengunjung dan air hujan diolah menjadi air untuk menyiram toilet dan tanaman.

Media and Public Relation Officer Central Park Fransisca Amanda mengatakan, kebijakan itu diterapkan sejak 2009. Beberapa gedung serumpun dengan Mal Central Park, di antaranya Mediterania Garden I, II, III, Agung Podomoro Land Tower, kantor pemasaran, Hotel Pullman, CP Residence, dan gedung yang baru dibangun, Neo Soho, sebagian besar menerapkan kebijakan ramah lingkungan. Air hujan ditampung dan diolah untuk menyiram toilet yang ada di gedung-gedung tersebut. Namun, baru kompleks Central Park yang menerapkan air bekas cuci tangan diolah untuk menyiram toilet dan tanaman di sekitar Taman Tribeca.

Air bekas pakai dari Hotel Pullman, Central Park, Central Park Residence, Agung Podomoro Land Tower juga ditampung lalu diolah menjadi air daur ulang. (JAL/DEA)

Baca juga :  Gubernur Panen Raya Padi di Cakung

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button