Kliping

Siaga Banjir hingga Juni

Tanggul Jebol, Banjir Bandang Melanda Caringin, Bogor

Jakarta, KompasSejumlah tempat di Jabodetabek, khususnya di kawasan bantaran kali, masih rawan dilanda banjir hingga Juni meskipun puncak musim hujan telah lewat. Hari Minggu (13/3), air bah melanda sebuah desa di Kabupaten Bogor, Jawa barat, karena tanggul darurat jebol.

Banjir bandang menerjang permukiman warga di Kampung Cukanggaleuh RT 005 RW 005, Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Minggu, sekitar pukul 10.00. Banjir itu terjadi setelah tanggul darurat di sungai kecil yang berada di proyek pembangunan Jalan Tol Cisuka (Ciawi-Sukabumi) di Desa Caringin jebol.

Kepala Polsek Caringin Ajun Komisaris Haryanto mengatakan, akibat banjir itu, setidaknya dua rumah warga dan satu bangunan majelis taklim rusak berat. “Ada juga warga yang kehilangan 500 ekor ayam dan 1.500 ekor lele karena kandang dan empangnya hancur,” ujar Haryanto, Minggu siang.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Tinggi air bah yang menerjang permukiman warga sekitar 1,5 meter. Sejumlah warga hanyut terseret banjir, tetapi dapat diselamatkan.

Haryanto mengatakan, jarak lokasi tanggul yang jebol dengan permukiman warga sekitar 1,5 kilometer. Menurut dia, PT PIM, subkontraktor dari PT Posco (salah satu kontraktor pembangunan Tol Cisuka), tengah melakukan pembersihan lahan tol. Untuk lalu lintas kendaraan proyeknya, dilakukan pembendungan dan peninggian lahan di kali kecil (susukan) yang berada di lokasi proyek. Agar air tetap mengalir, dipasang gorong-gorong.

“Rupanya, gorong-gorong itu terlalu kecil untuk menyalurkan air. Sepanjang Sabtu kemarin, hujan sangat tinggi. Gorong-gorong tidak mampu menyalurkan debit air yang besar, dan tanggul tidak dapat menahan, sehingga bobol,” katanya.

Kepala Desa Ciherang Pondok Aldi berharap pihak pelaksana proyek jalan tol tersebut bersedia memberikan ganti rugi kepada warga yang terkena air bah.

Baca juga :  Bangunan yang Langgar Aturan di Jagakarsa Segera Dibongkar

Hujan deras juga menyebabkan tembok pagar setinggi 5 meter roboh di Kota Bogor, Sabtu (12/3). Satu orang tewas dalam peristiwa itu.

Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor Ganjar Gunawan mengatakan, peristiwa itu terjadi saat hujan deras dan angin kencang.

Terus waspada

Di Jakarta, Kepala Bidang Informatika dan Pengendalian BPBD DKI Jakarta Bambang Surya Putra, Sabtu, menjelaskan, DKI Jakarta terus mewaspadai dampak musim hujan.

Menurut Bambang, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, Maret ini, DKI Jakarta sudah mulai memasuki musim kemarau. Namun, karena diperkirakan terjadi musim kemarau basah, kondisi sungai-sungai di Jakarta dan masyarakat yang tinggal di sekitar sungai tetap harus waspada.

“Karena musim kemarau basah, masih ada air, kita terus memperpanjang masa siaga,” ujarnya. Masa siaga akan dilanjutkan sampai bulan Juni.

Bambang menambahkan, hujan intensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur wilayah DKI Jakarta dalam tiga hari ke depan. Sementara di sebagian wilayah Bekasi dan Bogor, sesuai perkiraan BMKG, berpeluang diguyur hujan lebat, terutama pada siang atau sore dan malam hari.

Kondisi itu berpotensi memicu genangan, terutama di daerah aliran sungai di DKI Jakarta dengan muka tanah rendah. Data BPBD DKI menunjukkan, hingga Minggu pagi, banjir masih terjadi di 16 RW di tujuh kelurahan dengan 2.038 keluarga terdampak, terutama di sekitar aliran Kali Ciliwung, seperti Bidara Cina, Kampung Melayu, dan Cawang (Jakarta Timur), serta Tebet dan Rawajati (Jakarta Selatan).

Bahkan, pada Sabtu, pukul 12.00, BPBD DKI mencatat ada dua lokasi pengungsian, yakni di Kampung Melayu dan Pondok Pinang, dengan total 151 pengungsi.

Kepala BPBD Jakarta Timur Iwan Samosir menambahkan, berdasarkan informasi BMKG, hingga akhir Maret, curah hujan di kawasan hulu Ciliwung masih tinggi.

Baca juga :  Menko Maritim Teken Surat Penghentian

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, akhir pekan kemarin, menegaskan, untuk penanganan banjir Jakarta, ia memutuskan untuk membuka terus Pintu Air Manggarai.

“Pengaturan banjir di Jakarta harus mengutamakan aliran di tengah dan utara sehingga air hanya numpang lewat,” ujarnya.

Untuk penanganan banjir di daerah utara, Basuki memastikan akan terus melakukan pembongkaran rumah-rumah liar di sekitar waduk.

“Semua akan saya bongkar, sambil menunggu kesiapan rumah susun,” ujar Basuki.

(MKN/RTS/HLN/MDN)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button