Kliping

Penurunan Biaya Pemakaman Belum Efektif

Program Pelayanan di PTSP Kurang Tersosialisasi, Calo Kuburan Terus Beraksi

JAKARTA, KOMPAS — Kurangnya sosialisasi pengurusan makam, warga yang enggan mengurus sendiri pemakaman, serta persebaran dan luas taman makam di Jakarta yang tak merata, menjadi celah bagi calo menjaring untung. Upaya membuat murah prosesi pemakaman pun belum efektif.

4b622ce8af0146b789b0b707c15518cf

Kondisi lokasi pemakaman yang terbuka, dapat diakses dari berbagai penjuru, membuat setiap orang mudah keluar masuk tempat pemakaman umum (TPU). Dengan bebas calo-calo bergentayangan, siap menyedot jutaan rupiah dari warga yang sedang berduka.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Wismi alias Katemi (57) harus menanggung beban biaya pemakaman suaminya Rp 2,3 juta. Biaya sebesar itu atas permintaan seorang calo kuburan, Rahmat.

Katemi, ibu tiga anak, Selasa (1/3), mengaku, jeratan calo itu dia alami pada 21 Februari lalu saat dia memakamkan suaminya, Suhadi (57), yang meninggal karena sakit kanker paru-paru. Saat itu, kata Katemi, anaknya, Andi (25), meminta pertolongan kepada Rahmat yang selama ini dikenal baik sebagai tetangga.

Kendati terhadap tetangga sendiri, Rahmat tetap pasang biaya tinggi. Andi mengatakan, sebelumnya, dia diminta membayar Rp 4 juta untuk fasilitas pemakaman, tenda, rumput, dan nisan.   Karena ekonomi keluarganya pas-pasan, Andi berkali-kali menawar. “Dari Rp 4 juta, kami tawar, hingga disepakati Rp 2,3 juta,” kata Andi.

Biaya itu dipenuhi Katemi dengan menggunakan tabungan milik Dewi (23), adik Andi.

Namun, setelah pemakaman berlangsung, Katemi dan anak- anaknya mengetahui bahwa pemakaman di Jakarta tidak perlu membayar sampai jutaan rupiah, tetapi cukup Rp 100.000. Berkat bantuan kerabatnya, kasus itu dilaporkan ke Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur.

Baca juga :  Warga Minta Putusan PTUN Segera Dieksekusi

Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Timur Maria Nurhayati mengatakan, atas laporan itu dia dapat menemukan Rahmat karena calo itu memang sudah dikenal kerap berada di TPU Utan Kayu.

Rahmat diminta mengembalikan biaya pemakaman kepada Katemi, tetapi hanya separuh yang dikembalikan, Rp 1,3 juta. Uang Rp 1 juta lagi tidak dikembalikan karena telah digunakan untuk pembelian peralatan pemakaman.

“Kami mengenal Rahmat yang memang kerap beredar di kawasan TPU Utan Kayu. Namun, dia bukan petugas harian lepas di bawah dinas kami,” ujar Maria.

Tak pernah tahu

Katemi mengaku tak pernah mengetahui jika biaya pemakaman di Jakarta sudah sangat terjangkau jika mau mengurus sendiri ke Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang ada di setiap kelurahan. Bahkan, warga tidak perlu datang ke TPU untuk mencari lahan kuburan, tetapi cukup ke PTSP di kelurahan.

“Saya, kan, tidak paham kalau ada seperti itu,” katanya. Menurut dia, jika biaya pemakaman Rp 1 juta saja, warga biasa sepertinya masih memaklumi dan berupaya memenuhi.

TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
TPU Tanah Kusir.
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Masih banyak memang warga yang memasrahkan kepada calo ataupun kenalan untuk mengurus pemakaman. Dimas Aji Prakoso (28) rela membayar Rp 2,5 juta kepada pekerja makam di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, untuk pemakaman kakaknya, Umi Setyaningsih, yang meninggal di usia 30 akibat sakit lupus.

Dimas mengaku, dia dan keluarga sengaja menggunakan jasa pekerja makam agar kakaknya dapat dimakamkan di TPU Karet Bivak. Sebab, banyak kerabatnya yang dimakamkan di sana.

Kakaknya dimakamkan di Blok AA II Unit Islam. Sesuai Peraturan Daerah DKI Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pemakaman, seharusnya Dimas hanya membayar Rp 80.000 untuk biaya pemakaman dan retribusi makam selama 3 tahun di Blok AA II itu. Namun, Dimas mengaku tidak tahu aturan tersebut. Dia tidak mau repot, dan ingin segera memakamkan kakaknya.

Baca juga :  Pemanfaatan Gedung Kuno Perlu Sinergi

“Memangnya aslinya harganya berapa, ya? Saya kurang tahu. Pokoknya, saya minta tolong sama pengurus makam keluarga saja, sih,” katanya.

Sosialisasi biaya pemakaman dan fasilitasnya memang minim sekali. Di kelurahan ataupun sebagian besar TPU tidak dijumpai paparan informasi dan program sosialisasi yang jelas.

Lahan TPU cukup

Kepala Bidang TPU Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Siti Hasni mengaku sudah banyak memasang spanduk peringatan agar warga tidak menyerahkan urusan pemakaman kepada calo di TPU.

Dia menjelaskan, biaya pemakaman itu sudah termasuk jasa penggalian liang, tenda, dan alat pengeras suara. Namun, jika ingin yang lebih besar, warga harus menyediakan sendiri.

Menurut Siti, lahan makam siap pakai sebenarnya cukup, tetapi keluarga jenazah sering kali menunjuk satu TPU dan tidak mau mengikuti rekomendasi petugas karena alasan kedekatan dengan tempat tinggal. Jadi, ada TPU yang sebenarnya sudah penuh, tetapi tetap disasar warga.

Di TPU Prumpung, Jakarta Timur, yang ada di pinggir Jalan DI Panjaitan, contohnya, dengan lahan seluas 5 hektar telah dipadati hampir 15.000 kuburan. Itu berarti ada 3 jasad yang dikuburkan pada setiap meter persegi. Sebaliknya, di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, di pinggiran kota, memiliki banyak area kosong.

Siti mengatakan, hingga saat ini, dari 598,5 hektar areal pemakaman yang tersebar di 78 TPU masih menyisakan 48 hektar yang siap untuk lahan makam. Dengan rata-rata 88-130 jasad dimakamkan setiap bulan di Jakarta, areal itu cukup memenuhi kebutuhan pemakaman hingga dua tahun ke depan.

“Dengan catatan, warga bersedia memakamkan kerabatnya di TPU yang masih memiliki lahan yang luas,” ujarnya.

(MKN/DEA/MDN/UTI/C10)

Artikel terkait

Leave a Reply

Cek juga
Close
Back to top button