Kliping

Perubahan Trayek APTB Menuai Pro dan Kontra

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunda pemberlakuan pembatasan layanan APTB hingga seminggu atau dua minggu ke depan sambil menunggu kesiapan armada bus pengganti. Peraturan tersebut masih saja menuai pro dan kontra.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Bus APTB (angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta) masih beroperasi di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2016). Mulai 1 Maret 2016 Kementerian Perhubungan menetapkan kebijakan perubahan operasional APTB.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Bus APTB (angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta) masih beroperasi di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2016). Mulai 1 Maret 2016 Kementerian Perhubungan menetapkan kebijakan perubahan operasional APTB.

Dalam surat edaran dinas perhubungan ditegaskan bahwa tarif bus angkutan penghubung terintegrasi bus transjakarta (APTB) hanya boleh beroperasi hingga halte transjakarta terluar, seperti Halte Cawang-UKI dan BNN. Pasalnya, trayek-trayek antarkota tersebut belum memiliki izin dari Kementerian Perhubungan. Selain itu, pengelola APTB juga dilarang untuk memungut biaya tambahan.

Terkait dengan tarif tambahan, Nanang, kenek APTB Ciawi-UKI-Tanjung Priok, mengatakan pihaknya merugi. Sebelum peraturan diberlakukan, penumpang yang naik dari halte transjakarta masih ditarik bayaran sebesar Rp 5.000. “Tapi mau bagaimana lagi? Kalau melanggar, bisa dilarang beroperasi,” ujarnya.

Monic, seorang penumpang, mengeluhkan pembatasan trayek yang nantinya tetap akan berlaku. Saat ditemui di Halte Bundaran Senayan, ia bercerita bahwa baru mengetahui peraturan baru tersebut. Setiap Sabtu, Monic menggunakan APTB rute Blok M-Cileungsi dari Halte Bundaran Senayan menuju tempatnya mengajar piano di Taman Laguna Cibubur, Bekasi.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Jika nanti peraturan diberlakukan, APTB menuju Cileungsi hanya diperbolehkan beroperasi hingga Halte Cawang UKI. “Padahal, saya harus sampai di Cibubur pukul 08.00. Berarti, saya harus berangkat dari sini sebelum pukul 06.00,” ujar Monic.

Walaupun terdapat angkutan kota dengan jurusan sama, moda tersebut enggan dipilih karena sering berhenti terlalu lama menunggu penumpang, tidak aman, dan tidak dilengkapi penyejuk udara.

Berdasarkan pantauan Kompas, Halte Bundaran Senayan, dari Senin (7/3/2016) sore hingga malam, dilalui oleh transjakarta rute Blok M-Kota, transjakarta menuju PGC, APTB jurusan Jakarta-Bogor, dan APTB rute Ciputat-Kota. Dibandingkan dengan transjakarta, frekuensi datang bus APTB rata-rata 1 bus setiap 30 menit. Tidak tertera pengumuman mengenai pembatasan trayek APTB.

Berbeda dengan Monic, Novi, penumpang APTB lain, merasa tidak terlalu terganggu dengan peraturan baru tersebut. Pasalnya, jurusan yang biasa ia lalui, yaitu Pasar Rebo-Tanjung Priok, tidak mengalami perubahan trayek. “Biasanya, saya naik APTB Tanjung Priok-Ciawi, lalu transit di Cawang UKI menuju Pasar Rebo,” ujarnya.

Baca juga :  Bank Sampah di Cipete Utara Hasilkan Tiga Ton Sampah Daur Ulang

Ia menambahkan, sekarang tidak perlu bayar tambahan Rp 5.000 sehingga bisa lebih berhemat. Saat ditemui, Novi sedang menunggu bus di Halte Cawang UKI.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button