Kliping

Prosedur Buka Pintu Air Diubah

Aliran Ciliwung Lebih Cepat Dibagi ke Jalur Tengah dan Kanal Barat

JAKARTA, KOMPAS — Terhitung mulai Rabu (2/3), Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah prosedur pembukaan Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, yang berlaku sejak tahun 1973. Perubahan prosedur ini untuk menyeimbangkan beban saluran-saluran Kali Ciliwung ke tengah dan barat.

Prosedur yang berlaku selama ini menetapkan Pintu Air Manggarai menuju aliran tengah baru dibuka ketika tinggi air mencapai 750-900 sentimeter (cm). Kini, air akan dialirkan ketika tinggi muka air 200 cm.

“Mulai Rabu ini, Pak Gubernur mengubah regulasi. Hari ini test case-nya. Jika mengacu aturan 1973, ada pembagian ketinggian pintu air, antara 700-900 cm. Maka, mulai hari ini, semua berlaku sama. Pintu-pintu air dibuka dengan ketinggian 200 cm,” ujar Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendrawan, Rabu.

Menurut Teguh, prosedur baru ini langsung diterapkan saat musim hujan karena bisa langsung dievaluasi. “Kami ingin tangani genangan dan pastikan seluruh saluran air lancar,” ujar Teguh.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Pantauan di Pintu Air Manggarai, Kamis siang, menunjukkan, seluruh pintu air dalam kondisi dibuka. Ketinggian air di pintu air tercatat 665 cm. Fajar, operator pintu air, mengatakan, tiga pintu menuju Kanal Banjir Barat (KBB) selalu dibuka penuh, sedangkan satu pintu menuju Ciliwung-Kota baru dibuka penuh hari Rabu. “Biasanya hanya dibuka setinggi 20-an cm,” ujar Fajar.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menilai prosedur yang berlaku sejak 1973 itu bertujuan mengamankan sejumlah obyek vital, seperti Istana Negara, Monumen Nasional, dan kawasan perkantoran dan perniagaan di pusat. Namun, prosedur itu dinilai membuat beban tak seimbang karena sebagian besar air dialirkan ke KBB.

Dengan prosedur baru ini, selain ke KBB, beban aliran Kali Ciliwung terbagi ke aliran tengah menuju muara melalui saluran Ciliwung Lama di Jalan Gunung Sahari dan ke Waduk Pluit melalui saluran di Jalan Gajah Mada. Hal itu dinilai akan mengurangi risiko genangan dan banjir di wilayah barat Jakarta.

Menurut Basuki, pengelolaan air di aliran tengah makin baik pasca normalisasi Waduk Pluit di Penjaringan, Jakarta Utara. Pengerukan endapan dan penambahan luas genangan membuat kapasitas waduk bertambah.

 

Sungai dan saluran air menuju waduk seluas sekitar 60 hektar itu, seperti Opak, Pakin, dan Jelakeng, telah dinormalisasi sehingga aliran air lebih lancar. Meski demikian, sistem polder belum terbangun utuh di pesisir utara. Kondisi itu membuat pengendalian banjir tak optimal.

Mulai surut

Di Tangerang, banjir yang merendam sejumlah kawasan permukiman mulai surut, Kamis. Banjir sempat merendam 9 dari 29 kecamatan di Kabupaten Tangerang dan sejumlah perumahan di Kota Tangerang.

Sebagian warga mulai membersihkan rumah mereka yang terendam air berhari-hari. Sementara lainnya memilih tinggal di pengungsian sampai air kering. “Untuk balik rumah dan tinggal malam ini, kayaknya belum bisa. Kami masih harus menginap sehari semalam lagi di pengungsian. Hari ini hanya untuk membersihkan rumah yang masih berlumpur,” kata Sulaiman (53), warga Perumahan Total Persada, Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang.

Ia bersama istri dan tiga anaknya mengungsi setelah air mulai masuk rumahnya, Senin tengah malam. Air Kali Sabi yang sudah menyatu dengan luapan air Situ Bulakan terus melampaui tanggul. “Air tingginya lebih dari seleher saya. Yang paling parah, rumah yang dekat tanggul, airnya sampai 2 meter,” kata Sulaiman.

Perbaikan jalan rusak akibat hujan di ruas Jalan DI Panjaitan dan Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, paling lambat akan dilaksanakan akhir Maret ini. Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Timur Juaeni Yusuf, Kamis, mengatakan, kerusakan di dua ruas jalan itu tergolong parah sehingga dibutuhkan pengelupasan aspal untuk memperbaiki lapisan jalan di bawahnya.

(HLN/MKN/MDN/PIN/C10)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button