Kliping

Kolong Tol Pluit Ditertibkan

Dibongkar Hari Ini, Warga Keluhkan Minimnya Sosialisasi dan Mepetnya Batas Waktu

JAKARTA, KOMPAS — Sesuai surat peringatan ketiga yang diberikan pada Senin (29/2), hunian liar di kolong jalan layang Tol Grogol-Pluit, Jakarta Barat, harus dikosongkan pada Selasa. Selanjutnya, bangunan liar di kawasan yang tepat berseberangan dengan Kalijodo itu akan dibongkar dan diratakan hari ini, Rabu (2/3).

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Warga yang menempati hunian liar di kolong jalan layang Tol Grogol-Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan hunian setelah kawasan di bawah tol tersebut akan ditertibkan, Selasa (1/3).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
Warga yang menempati hunian liar di kolong jalan layang Tol Grogol-Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan hunian setelah kawasan di bawah tol tersebut akan ditertibkan, Selasa (1/3).

Lurah Pejagalan Maskur mengatakan, wilayah itu langsung diberi surat peringatan (SP) ketiga karena menempati kolong jalan layang adalah tindakan yang melanggar undang-undang (UU). Undang-undang yang dimaksud adalah UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, UU No 28/2005 tentang Jalan, dan UU No 28/2007 tentang Ketertiban Umum.

Saat ditanya mengenai proyek yang sedang dikerjakan di seberangnya, Maskur mengatakan, penertiban di kolong jalan layang ini tidak ada hubungannya dengan revitalisasi Kalijodo.

Sebelumnya, kawasan kolong jalan layang tersebut sudah dua kali ditertibkan, yaitu pada 2006 dan 2007. Namun, warga kembali menghuni lahan tersebut. “Sebaiknya, lahan kosong di bawah jalan layang segera difungsikan supaya tidak ditempati kembali,” ujar Maskur saat mengawasi penertiban di kolong tol.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Camat Penjaringan Abdul Khalit mengatakan, pihaknya mengirimkan surat seruan perintah pembongkaran kepada warga pada Senin sore. Warga hanya diberikan waktu selama 1 x 24 jam untuk mengemasi barang-barang. Sebagian warga memilih pindah ke kontrakan tak jauh dari lokasi.

Berdasarkan data Kelurahan Pejagalan, ada 380 pintu yang ditertibkan. Semuanya termasuk dalam wilayah RW 005. Penertiban ini melibatkan tim gabungan Satpol PP dan kepolisian dengan total personel sekitar 400 orang. Namun, pembongkaran bangunan baru akan dilakukan hari ini setelah semua warga pindah.

Baca juga :  DPM dan PTSP Siapkan Jakarta Information and Investment Centre

Dinilai tidak adil

Agus (35), warga kolong tol, mengeluhkan minimnya sosialisasi dalam penertiban lapak di bawah kolong tol tersebut. Berbeda dengan kawasan Kalijodo yang ada di dekat permukiman itu yang diberi waktu hingga 11 hari sebelum pembongkaran.

“Pemerintah, kok, semaunya sendiri. Apa enggak kasihan dengan anak sekolah bolos? Ibu hamil yang pindahan dari rumah sambil hujan-hujanan?” katanya.

Menurut Agus, penertiban bangunan di kolong tol merupakan kewenangan dari PT Jasa Marga selaku pemilik lahan.

Sebagian warga memilih tinggal di kolong tol karena biayanya murah. Air bisa mengambil dari sumur bor atau membeli air pikulan. Adapun untuk iuran listrik dipungut biaya Rp 25.000 per bulan. Sebagian besar penghuni kolong tol itu adalah pekerja informal, seperti sopir dan tukang parkir di tempat hiburan Kalijodo. Setelah tempat hiburan ditutup, mereka kehilangan pekerjaan.

Atun, warga lainnya, membenarkan bahwa SP 3 sudah dikirimkan kepada warga, kemarin siang. Namun, ia mengeluhkan tenggat yang begitu singkat. “Kalau cuma 24 jam, apa ya sempat memindahkan semua barang?” ujarnya.

Atun tinggal sendirian di kolong jalan layang itu sejak setahun yang lalu. Alasan mengontrak rumah di daerah itu adalah karena dekat dengan tempatnya bekerja, yaitu di sebuah perusahaan konveksi di Jembatan 3. Saat ini, ia sudah mendapat kontrakan baru di daerah Jembatan 3. “Mau enggak mau harus pindah,” ujarnya.

Rumah-rumah di kolong jalan layang itu berdinding tripleks dan beratap asbes, dengan ukuran rata-rata 3 meter x 3 meter. Tiap rumah dibangun berimpitan satu sama lain. Jalan masuk berlumpur dan tergenang air.

Selasa sore, beberapa penghuni sedang mengangkuti harta bendanya dari rumah yang akan segera dibongkar. Mereka menumpuk lemari, kulkas, TV layar datar dan TV tabung, kotak pakaian, serta kandang burung di lahan kosong yang kering.

Baca juga :  Komisi D Minta Lahan Ruang Terbuka Hijau Ditambah

Penghuni kolong tol lainnya, Nia (29), kemarin, juga mulai mengangkut barang-barangnya untuk dipindahkan ke rumah saudaranya. Ia belum tahu akan tinggal di mana. Selama ini, ia hanya berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Ia memiliki empat anak. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan.

“Sebelumya, kami pernah tinggal di sini dan pernah digusur juga sama Satpol PP tahun 2005 dan 2007. Kami balik ke sini lagi karena lebih dekat dengan tempat kerja suami,” ungkap Nia.

Adapun Dwi (21) tinggal bersama ayah dan adiknya di tempat itu sejak tahun 2008. Ayahnya, sopir bajaj, membeli tanah dari warga yang lebih lama tinggal di kolong tol sekitar Rp 1 juta. Di atas tanah itu lalu dibangun permukiman semipermanen untuk tempat tinggal.

Sebanyak 70 petugas penanganan sarana dan prasarana umum Kelurahan Pejagalan dikerahkan untuk membantu warga mengemasi barang. Warga menyewa bajaj, gerobak, mobil, dan truk untuk memindahkan barang-barangnya. Sebagian barang-barang berharga, seperti kusen jendela dan kayu-kayu, ikut diangkut.

Beberapa truk terparkir di depan rumah-rumah untuk mengangkuti barang warga. Iwan, seorang sopir truk, mengatakan, truknya disewa Rp 2 juta untuk mengantar barang milik warga ke Purbalingga, Jawa Tengah.

(DEA/C10)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button