Kliping

Kemiskinan Masih Bercokol

Kantong-kantong Kekumuhan Mudah Ditemukan di Ibu Kota dan Sekitarnya

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah pembangunan pesat berbagai bidang di Jakarta, kemiskinan terus bercokol dan menjadi salah satu masalah utama yang perlu ditangani. Berdasarkan data terkini Badan Pusat Statistik DKI Jakarta, jumlah penduduk miskin di Ibu Kota pada September 2015 sebanyak 368.670 jiwa.

Mak Surip (50) merapikan jahitan di kontrakannya di Kampung Kandang RT 016 RW 004, Semper Barat, Jakarta Utara, Jumat (5/2) siang. Pendapatannya yang Rp 30.000 per hari membuat ibu tiga anak ini hanya bisa tinggal di kontrakan, yang selalu kebanjiran setiap musim hujan datang, sejak tahun 1997. Barang elektronik di tempat tinggalnya hanya sebuah kipas butut dan televisi yang rusak. Ketimpangan antara warga miskin dan kaya, seperti di Jakarta, kini semakin besar. Secara umum, angka rasio gini di perkotaan di Indonesia naik dari 0,43 pada September 2014 menjadi 0,47 pada September 2015.
Mak Surip (50) merapikan jahitan di kontrakannya di Kampung Kandang RT 016 RW 004, Semper Barat, Jakarta Utara, Jumat (5/2) siang. Pendapatannya yang Rp 30.000 per hari membuat ibu tiga anak ini hanya bisa tinggal di kontrakan, yang selalu kebanjiran setiap musim hujan datang, sejak tahun 1997. Barang elektronik di tempat tinggalnya hanya sebuah kipas butut dan televisi yang rusak. Ketimpangan antara warga miskin dan kaya, seperti di Jakarta, kini semakin besar. Secara umum, angka rasio gini di perkotaan di Indonesia naik dari 0,43 pada September 2014 menjadi 0,47 pada September 2015.

Jumlah itu sekitar 3,61 persen dari seluruh penduduk Jakarta. Menurut catatan BPS DKI Jakarta, jumlah warga miskin ini turun dibandingkan pada September 2014 yang jumlahnya 412.790 orang atau 4,09 persen dari populasi Jakarta.

Kepala BPS DKI Jakarta Syech Suhaimi, Jumat (5/2), mengatakan, data terbaru itu berdasarkan batas garis kemiskinan di Jakarta pada September 2015, yakni penghasilan Rp 503.038 per kapita per bulan. Garis kemiskinan ini naik dibandingkan September 2014 yang Rp 459.560 per kapita per bulan.

Menurut Suhaimi, untuk mengukur kemiskinan ini, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Dari data BPS DKI Jakarta periode Maret 2015, komoditas makanan yang menjadi komponen terbesar garis kemiskinan adalah beras (23,73 persen), sementara komoditas nonmakanan penyumbang terbesar garis kemiskinan adalah perumahan (42,18 persen).

Meski jumlah warga miskin turun dibandingkan tahun sebelumnya, kemiskinan warga ini masih sangat terasa di berbagai sudut Ibu Kota. Penelusuran Kompas di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan, kemarin, menunjukkan, kantong-kantong kemiskinan mudah ditemukan.

Di Jakarta Selatan, yang sering diidentikkan dengan kawasan permukiman kelas atas, permukiman kumuh warga miskin masih banyak ditemukan di daerah bantaran Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan.

Rumah-rumah di kawasan itu berbentuk gubuk-gubuk terbuat dari tripleks. Selain padat, permukiman itu juga dilengkapi sanitasi yang buruk. Sampah terlihat di sana-sini dan tak terlihat adanya tempat pembuangan sampah di permukiman kumuh.

Baca juga :  Pemkot Jaktim Gelar Aksi Bersih-bersih di Ciracas

Permukiman kumuh di tepi sungai juga ditemukan di Jakarta Barat. Berdasarkan data Program Peningkatan Kualitas Permukiman, RW 013 Kelurahan Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, masuk kategori wilayah sangat kumuh. Lokasi RW tersebut berada di bantaran Kanal Banjir Barat, tepat di bawah tanggul kanal itu.

Rumah-rumah warga berdempetan dan dipisahkan gang selebar sekitar 1 meter. Kebanyakan rumah dibangun dua lantai dengan bahan semipermanen di bagian atas.

350dd7476e2e47ad9c847e3dd59b1c7c

Di Jakarta Utara, kantong permukiman miskin ini mudah ditemukan di Kampung Kandang, Semper Barat, Cilincing. Salah satu warga kawasan itu adalah pasangan suami-istri Rohman (54) dan Surip (50), yang telah 19 tahun mengontrak salah satu rumah petak di RT 016 RW 004. Rumah berlantai tanah berukuran 3 meter x 7 meter itu dihuni Surip bersama tiga anaknya.

Sehari-hari, dia bekerja sebagai penjahit rumahan. Suaminya adalah pemulung barang sisa pabrik di Kawasan Berikat Nusantara, tak jauh dari rumah itu.

“Sehari-hari dapatnya Rp 30.000. Paling mentok Rp 50.000, itu pun sudah capek banget pastinya. Uang itu kami pakai untuk makan, uang jajan anak, juga ditabung sedikit untuk kontrakan rumah,” ucap perempuan asal Brebes, Jawa Tengah, itu.

Ketua RT 016 Amadin Siregar menyampaikan, sebagian besar pemuda kampung itu tak mampu menyelesaikan sekolah hingga tingkatan atas. Alasannya, selain biaya, sebagian orangtua dulu lebih memilih anaknya bisa segera bekerja.

“Kalau dibilang warga miskin, memang sebagian besar warga di sini tidak mampu. Namun, kalau untuk makan sehari-hari, masih bisa. Mungkin ada sekitar 40 persen warga yang untuk menabung per bulannya sangat susah. Semuanya habis untuk makan atau bayar kontrakan. Apalagi, banyak yang menjadi penganggur karena pabrik tutup,” paparnya.

Baca juga :  Pemprov DKI-Banten Kerja Sama Bangun Jembatan Pulau C-Dadap

Kemiskinan juga ditemukan di sekitar Jakarta. Kampung Pangkalan Bambu, Kelurahan Marga Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, jadi salah satu kantong warga miskin di kota itu.

Salah satu warga kawasan itu, suami-istri Salman (70) dan Ti’ah (65), hanya berpenghasilan rata-rata Rp 25.000 per hari yang mereka peroleh dari berjualan gorengan. “Di rumah juga jarang masak karena enggak ada uang. Yang penting ada nasi sama mi (instan),” kata Ti’ah saat ditemui di rumahnya yang berukuran 5 meter x 3 meter, kemarin.

Kawasan kumuh padat penduduk ini hanya terletak sekitar 500 meter dari pusat perbelanjaan dan perkantoran di Kota Bekasi yang penuh gedung bertingkat. Dalam data BPS Kota Bekasi disebutkan, jumlah penduduk miskin pada 2014 mencapai 140.900 jiwa atau 5,25 persen dari populasi Kota Bekasi.

Di Kota Bogor, kantong kemiskinan terdapat di Pasirjaya, Bogor Barat; dan Mulyaharja, Bogor Barat. Di Pasirjaya, ada 900 keluarga miskin berdasarkan kondisi hunian. Di Kota Depok, tercatat ada 47.000 warga miskin atau sekitar 2,3 persen dari total populasi kota itu.

(MKN/FRO/DEA/JAL/ILO/RTS/BRO/DNA)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button