Kliping

Paru-paru Kota untuk Warga Jakarta

Kebayoran Baru dirancang sebagai paru-paru kota untuk warga Jakarta. Wilayah ini diapit dua lembah sungai, yakni Kali Grogol dan Kali Krukut. Di tengah pesatnya perkembangan kota, Kebayoran Baru mencoba bertahan menjaga fungsi aslinya.

Suasana Taman Parkir Blok M di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sehari setelah dibuka pada 19 Mei 1977. Waktu itu, taman parkir ini menjadi satu dari empat taman parkir percobaan di Jakarta.
Suasana Taman Parkir Blok M di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sehari setelah dibuka pada 19 Mei 1977. Waktu itu, taman parkir ini menjadi satu dari empat taman parkir percobaan di Jakarta.

Denty Piawai Nastitie

Alosius Susanto (70), mantan Wakil Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta (2000-2003), menjelaskan, pembangunan Ibu Kota dikembangkan ke daerah selatan, pada 1948. Pembangunan dilakukan di area perkebunan karet dan pedesaan untuk permukiman pegawai negeri sipil, tentara, dan polisi.

Pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah melalui Centrale Stichting Wederopbouw yang selanjutnya menjadi Pembangunan Khusus Kebayoran (PCK). Dari sudut lingkungan, perencanaan kota ini sangat ideal. Permukiman warga dijadikan tempat yang nyaman untuk interaksi sosial. Selain itu, pembangunan wilayah juga mengutamakan Kebayoran Baru sebagai paru-paru kota.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Pembangunan permukiman warga dibagi dalam blok-blok A sampai S. Di sekitar permukiman, pemerintah membangun saluran air tanpa bodemsehingga air dapat terserap kembali ke dalam tanah. Pelintasan warga juga dibuat lebar dan panjang dengan aneka pohon-pohon pelindung di kiri dan kanan jalan.

Saat itu, lebih dari 25 jenis pohon lindung, seperti mahoni, flamboyan, glodogan, dan angsana, ditanam di jalan besar. Di jalan lingkungan, pemerintah menanam anting-anting, kenari, saga, cempaka, dan kosambi. Keberadaan pohon-pohon itu memberikan nuansa hijau dan rasa nyaman bagi warga sekitar.

Selain teduh dengan pohon-pohon rindang, Kebayoran Baru juga sejuk dengan adanya sungai-sungai kecil dan situ di berbagai sudut kota. Kalau memperhatikan peta, dapat terlihat dengan jelas Kali Grogol melintas di bagian barat, dari daerah Sawangan menuju Lebak Bulus. Aliran airnya lalu bergerak ke daerah Radio Dalam. Di sebelah timur mengalir Kali Krukut, dari Gandul, Pangkalan Jati, melalui lembah Kemang, lalu menyatu dengan Kali Malang.

Dengan berkah air yang melimpah, pemerintah membangun 144 taman dan jalur hijau di sekitar permukiman warga. Pemerintah bahkan membuat alun-alun di sebelah timur Masjid Agung Al-Azhar (dibangun 1953-1956). Kini, alun-alun itu sudah hilang digantikan Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Baca juga :  Tiang Bor Kereta LRT Jatuh dan Menimpa Rumah Warga

Selain itu, Jalan Srikandi (sekarang menjadi Jalan Barito, Mahakam, Sampit, dan Melawai), misalnya, ada Taman Ayodya seluas 8.000 meter persegi. Taman itu berkontur landai dengan sebuah situ kecil yang memiliki beberapa mata air.

Untuk mempercantik taman, berbagai jenis tanaman, seperti kemuning, kembang merak, anting-anting, pohon kelapa, dan cemara angina, ditanam di sana. Tepi jalan setapak ditanami tanaman bakung putih. Keindahan taman mengundang burung-burung datang dan bernyanyi.

Diokupasi pedagang

Keindahan Taman Ayodya mulai memudar pada tahun 1970-an. Taman yang tadinya asri itu diokupasi pedagang roti bakar, pedagang bunga, dan ikan hias. “Mereka memasang kavling dan melakukan jual-beli lahan dengan harga tinggi,” kata Susanto.

Baru pada 2008 Pemerintah Kota Jakarta Selatan mulai membangun taman itu kembali. Namun, keindahan taman tak bisa seperti dulu lagi. Situ di tengah taman yang berfungsi sebagai daerah resapan dan imbuhan air telah hilang. Situ digantikan kolam penampungan limbah restoran dan hotel di sekitar Jalan Mahakam dan Bulungan. Kini, setiap akhir pekan, taman itu kembali ramai dengan orang-orang yang berolahraga dan bermain.

Perubahan fungsi lahan juga terjadi di banyak tempat lain. Di Taman Puring, sebagian daerah hijau berubah menjadi Kantor Polsek Kebayoran Baru, sebagian lainnya menjadi Pasar Taman Puring. Di sejumlah ruas lain, jalur hijau berubah menjadi daerah terbangun yang difungsikan sebagai pertokoan, perkantoran, dan pusat belanja.

Pada 1950-an, Susanto tinggal di Jalan Panglima Polim. Saat itu, di sepanjang Jalan Panglima Polim hanya ada tiga rumah yang dipakai pegawai negeri sipil. Seperti daerah Pondok Indah, daerah di situ dulunya terkenal dengan kebun karet. “Saya ingat waktu kecil setiap hari mengangkut air dari drum besar yang diletakkan di pinggir jalan menuju kamar mandi. Suasananya sepi sekali,” katanya.

Baca juga :  Mayoritas Penghuni Kolong Tol Kalijodo Berasal dari Luar DKI

Dalam waktu singkat, Jalan Panglima Polim berubah menjadi pusat bisnis. Di sepanjang kiri dan kanan jalan itu tumbuh pertokoan dan perkantoran. Gedung-gedung bertingkat tumbuh menjalar hingga Jalan Sisingamangaraja, Jalan RS Fatmawati, dan Jalan Haji Nawi.

Sebagian besar penduduk asli yang tak kuat membayar pajak bumi dan bangunan memutuskan melepaskan tanah mereka dan tinggal di pinggiran kota Jakarta. Bersama istri dan anaknya, Susanto kini tinggal di daerah Kebayoran Lama.

Kawasan pemugaran

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi Suku Dinas Penataan Kota Pemerintah Kota Jakarta Selatan Yanuar Adi, Jumat (22/1), menuturkan, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-6099/33/ 1975, kawasan Kebayoran Baru ditetapkan sebagai kawasan pemugaran. Kebayoran Baru dinilai mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, serta mewakili masa gaya yang khas sekurang-kurangnya 50 tahun.

Dari 1.280 hektar luas wilayah Kecamatan Kebayoran Baru, 730 hektar di antaranya merupakan kawasan pemugaran. Kawasan pemugaran terletak di Kelurahan Gunung, Kramat Pela, Melawai, Petogogan, Pulo, Rawa Barat, dan Selong. Kawasan pemugaran ditandai dengan pola jalan yang lebar dan koridor jalan diapit barisan pohon peneduh, banyak ruang terbuka hijau, serta kompleks hunian kuno yang dilengkapi sistem drainase yang baik.

Yanuar menuturkan, kawasan pemugaran Kebayoran Baru dibagi menjadi tiga golongan, yaitu lingkungan dan bangunan tidak boleh berubah dari aslinya, penataan lingkungan diperbolehkan dengan tetap mempertahankan keaslian unsur yang menjadi ciri khas, dan penataan lingkungan diperbolehkan dengan penyesuaian terhadap rencana kota.

Menurut Yanuar, perubahan fungsi itu dimungkinkan dengan pertimbangan dari Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD). Kenyataannya, sebagian besar kawasan pemugaran sudah berubah fungsi dan tak semua perubahan itu dilakukan melalui mekanisme pertimbangan BKPRD.

Jalan Wijaya 1 yang dulunya teduh dengan pohon-pohon hijau, misalnya, kini sudah menjadi kawasan terbangun. Di kiri dan kanan jalan raya bermunculan bangunan-bangunan bertingkat yang dijadikan hunian, pertokoan, restoran, salon, dan kafe.

Demikian juga terjadi di Jalan Hang Lekir, Lauser, Barito, dan Gandaria Tengah. Daerah-daerah hunian di Jalan Senopati, Gunawarman, dan Suryo juga sudah berubah menjadi pusat bisnis dan kuliner.

Baca juga :  Anies Ingin Sinergi dengan Wilayah Tetangga Atasi Sampah Teluk Jakarta

Kepala Suku Dinas Penataan Kota Jakarta Selatan Syukria menjelaskan, daerah Kebayoran Baru menjadi magnet bagi warga Ibu Kota yang ingin mencari tempat tinggal ataupun berbisnis. “Warga yang tinggal di Kebayoran Baru pun terbagi dua, ada yang ingin mempertahankan Kebayoran Baru menjadi daerah hunian, ada yang ingin kawasan hunian berubah menjadi tempat usaha,” kata Syukria.

Terhadap bangunan-bangunan yang sudah berubah fungsi, Pemerintah Kota Jakarta Selatan meminta pemilik tanah mengembalikan lahan ke peruntukan semula. Petugas juga melakukan penertiban terhadap bangunan berizin ataupun yang tak berizin. Sepanjang 2015, sebanyak 180 bangunan di Jakarta Selatan dibongkar paksa, 40 bangunan dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Petugas juga mengirimkan surat peringatan dan melakukan penyegelan.

“Konsep hunian yang dirancang orang dulu di Kebayoran Baru adalah konsep hunian yang dilengkapi tempat bermain anak, daerah resapan, dan ruang interaksi masyarakat. Tanpa penataan, semakin berkurang kawasan hijau di Ibu Kota, khususnya di Kebayoran Baru,” kata Yanuar.

Pada Jumat siang, terlihat puluhan rumah penduduk di Jalan Suryo Raya dipakai untuk restoran, salon, butik, sekolah swasta, dan kafe. Tempat usaha dan pendidikan tersebut dioperasikan di rumah penduduk yang sudah direnovasi.

Amelia (26), karyawan restoran, mengatakan, sejak enam tahun lalu, pengelola restoran menyewa tempat tinggal di Jalan Suryo Raya untuk dijadikan tempat usaha. “Harga sewa rumah Rp 300 juta-Rp 400 juta per tahun,” kata perempuan itu. Saat restoran ramai, pengunjung terpaksa memarkir kendaraan di badan jalan. Kondisi ini menyebabkan muncul kantong-kantong parkir liar dan kepadatan lalu lintas di Jalan Suryo Raya.

Menurut Susanto, perubahan kota memang sangat mungkin terjadi seiring berkembangnya bisnis dan perekonomian warga. Namun, apabila tidak segera diantisipasi, paru-paru kota Jakarta akan semakin rusak sehingga ibu kota ini makin tak nyaman dihuni.

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button