Kliping

Tidak Cukup Sekadar Normalisasi

Gerak cepat pemerintah untuk melakukan normalisasi fungsi sungai, waduk, dan saluran air lainnya menghadapi tantangan besar. Tantangan itu bukan saja dari penolakan warga yang terdampak normalisasi. Lebih dari itu, pertumbuhan kota yang haus akan lahan membuat ruang-ruang terbuka tergantikan dengan bangunan.

Dengan mudah kita lihat tanah kosong di Jakarta yang bersalin rupa menjadi bangunan. Banyak juga jalan yang diaspal demi memuluskan gerak kendaraan bermotor. Semua pembangunan ini menggusur jalan masuk air ke tanah. Satu-satunya jalan tersisa adalah menyalurkan air secepat-cepatnya ke saluran air.

Sutopo Purwo Nugroho dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan data bahwa tahun 2011/2012 intensitas penggunaan ruang di Jakarta telah mencapai 90,33 persen. Kawasan hijau tersisa 8,11 persen dan meningkat pada 2015 menjadi 10 persen.

Masih dari data yang sama, penyerapan air di Jakarta hanya 7,11 persen. Jumlah air larian atau limpasan mencapai 81,31 persen. Seharusnya banyak air yang terserap dan masuk ke dalam air permukaan. Namun, jalan masuk air ke tanah dihambat.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Edvin Aldrian, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (26/1), menyampaikan, perubahan tata guna lahan selama empat dekade terakhir membuat kurangnya ruang gerak aliran air di permukaan. Selain itu, juga menghambat penyerapan.

Penambahan kapasitas sungai tidak akan cukup menampung aliran air saat debit bertambah. Sebab, normalisasi tidak menyentuh secara signifikan pembukaan ruang terbuka yang masif. “Penambahan kapasitas sungai dan terus menambah ruang terbuka itu setidaknya baru cukup. Menambah kapasitas sungai tentu bagus karena sungai merupakan aliran utama air. Tetapi, itu saja tidak cukup,” ucapnya.

Salah satu contoh penambahan kapasitas sungai yang dilakukan pemerintah ada di Sungai Ciliwung. Desain awal sungai ini memiliki kapasitas 300 meter kubik per detik, tetapi kini tersisa 200 meter kubik per detik. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas Ciliwung menjadi 570 meter kubik per detik.

Di sisi lain, pembangunan yang pesat menjadi salah satu pemicu kenaikan suhu di Jakarta. Beton, aspal, dan juga gedung-gedung memantulkan panas berlebih.

“Bahkan, pembangunan seperti ini juga terjadi di wilayah-wilayah luar Jakarta. Itu menjadi daerah-daerah panas baru,” ujar Edvin yang juga menjadi pembicara dalam diskusi “Jakarta Kota Sungai” yang diselenggarakan Kompas, pekan lalu.

Jakarta adalah wilayah yang lebih panas dibandingkan dengan daerah sekitarnya (urban heat island). Suhu di Jakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Data BMKG 2015 menunjukkan, suhu rata-rata di Jakarta naik 0,96 derajat celsius jika dibandingkan dengan suhu rata-rata periode 1980-1990. Meskipun angka ini terlihat kecil, dampaknya besar.

Suhu maksimum harian sejak tahun 1970 juga terus meningkat hingga 2015. Hal ini seiring dengan grafik peningkatan suhu terpanas (di atas suhu maksimum) yang tercatat dalam periode yang sama.

Pembangunan pantai utara Jakarta melalui reklamasi berpotensi memperparah kenaikan suhu. Pulau-pulau ini akan menjadi daerah panas baru yang semakin meningkatkan perubahan suhu di Jakarta.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan menuturkan, naiknya suhu, termasuk suhu di sekitar laut Jakarta, membuat penguapan semakin cepat. Seperti sebuah mesin pompa yang dayanya bertambah, maka proses “pemompaan” air ke udara makin cepat.

“Akibatnya, selain pengaruh iklim global, cuaca menjadi ekstrem. Contohnya, yang kita rasakan beberapa tahun terakhir. Curah hujan ekstrem terjadi dalam selang beberapa tahun,” kata Dodo.

Siklus hujan tahunan di Jakarta juga berubah. Dalam catatan BMKG, total curah hujan yang turun di Jakarta menunjukkan penurunan. Apabila dipilah, kecenderungan hari basah turun, sementara hari kering naik di wilayah Jakarta. Akan tetapi, lanjut Dodo, meski total curah hujan turun, periodisasi turunnya hujan berubah. Hujan dalam intensitas banyak turun dan waktu yang singkat.

“Kalau dulu hujan turun lama dengan intensitas banyak, sekarang jadi lain. Hujannya cepat, tetapi yang dicurahkan banyak. Akhirnya air tidak terserap, lalu daya tampung sungai melimpah. Akhirnya air tidak tertampung, lalu terjadi banjir,” kata Dodo.

Sering kali curah hujan dengan intensitas seperti ini terjadi pada periode Desember hingga Februari. Periode ini rawan banjir.

Dodo berpendapat, penambahan ruang terbuka merupakan hal utama. Tidak hanya untuk tempat resapan dan sirkulasi udara, tetapi ruang terbuka juga menjadi cara terbaik mengantisipasi banjir sekaligus meredam perubahan suhu.

Dalam diskusi Kompas, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mudjiadi mengatakan, pengaruh hujan menjadi hal yang tidak bisa diprediksi. Curah hujan yang berlebih menyebabkan kapasitas sungai yang sebelumnya direncanakan tidak tertampung.

“Perencanaan penambahan kapasitas sungai itu untuk mengamankan Jakarta dari banjir. Masalahnya, kapasitas sungai saat ini sangat kurang karena terus terokupasi,” ucapnya.

Selain Ciliwung, sebagian besar waduk dan sungai di Jakarta terus ditambah kapasitasnya. Hal itu diharapkan dapat menampung air limpasan yang tidak terserap. Dalam kurun 2014-2019, Direktorat SDA melaksanakan 15 program pengendalian banjir DKI Jakarta.

Perbaikan daerah aliran sungai dan pembuatan waduk juga direncanakan di hulu Ciliwung, Kabupaten Bogor. Berdasarkan data BNPB, intensitas penggunaan ruang di hulu mencapai 67,11 persen. Penyerapan air 22,29 persen, sementara air limpasan 68,79 persen.

Kita berharap, normalisasi sungai bukan satu-satunya langkah yang dikerjakan pemerintah. Penambahan ruang terbuka hijau juga mendesak dilakukan secara simultan.

(SAIFUL RIJAL YUNUS)

Artikel terkait

Leave a Reply

Back to top button