Kliping

Ayo Bersantai di Taman-taman Kota

Selama ini, Jakarta identik dengan gedung perkantoran bertingkat dan pusat perbelanjaan mewah. Padahal, di sejumlah kawasan, terselip taman-taman cantik yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai dan melepas penat. Piknik atau liburan di taman bisa jadi agenda akhir pekan yang menarik.

Taman Tabebuya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Di Jakarta ada banyak taman yang telah tertata baik, bersih, dan asri. Jakarta Selatan menjadi salah satu gudang taman kota. Jika dulu hanya Kebayoran Baru yang terkenal dengan banyak tamannya, beberapa tahun terakhir ruang terbuka hijau cantik juga bermunculan di kawasan lain. Coba tengok Taman Tabebuya yang terletak di Jalan Muhammad Kafi 1, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Rabu (20/1), keteduhan menyergap saat memasuki taman ini. Ada kolam teratai, rumput hijau, dan pepohonan subur.

Dinamakan Tabebuya karena di taman itu tumbuh tabebuya (Tabebuia chrysotricha), jenis pohon besar asal Brasil. Kebanyakan orang menyebut tanaman tabebuya sebagai pohon sakura karena saat musim kemarau tanaman itu berbunga mirip dengan bunga sakura.

Di tengah taman, ada tempat bermain anak yang dilengkapi ayunan, jungkat-jungkit, dan monkey bar. Tempat bermain anak dikelilingi pelataran ber-paving blocksehingga aman bagi anak balita berlarian atau bersepeda. Di lokasi itu, ada tempat duduk berhias aneka jenis tanaman bunga.

Pinjaman Online Baca juga: Erek erek 2d Bergambar Lengkap

Melangkah ke bagian belakang taman, ada aliran air dari sungai kecil dengan bebatuan. Jembatan berwarna biru muda akan mengantarkan pengunjung ke hamparan rumput hijau.

Di sini, pengunjung bisa duduk-duduk di atas rumput sambil menikmati bekal makanan, membaca buku, atau bermain musik. Beberapa orang lebih senang menggelar matras di atas rumput lalu berlatih yoga. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki.

Di area ini juga terdapat gubuk bambu untuk bersantai dengan teman dan keluarga. Di gubuk itu ada rak buku berisi bacaan anak-anak. Rasakan embusan angin dan suara kepak sayap burung saat duduk di dalam gubuk. Ah, segarnya.

Pasangan suami-istri Sobiri (34) dan Haroh (27) duduk di gubuk bersama anak tunggal mereka, Ibnu (3). Sambil menyantap makan siang, Ibnu asyik membolak-balik buku bergambar pesawat terbang.

Baca juga :  Bentang Kedua Simpang Susun Semanggi Mulai Dikerjakan

“Saya senang ke sini karena gratis, menghibur, dan letaknya tidak jauh dari rumah. Ini jauh lebih baik daripada menonton televisi di rumah,” kata Sobiri.

Menurut Sobiri, beraktivitas di taman bisa menghilangkan penat. Pengemudi taksi itu sering merasa jenuh hidup di Ibu Kota yang padat dan sibuk.

Natalia (14) dan Agnes (14), pelajar kelas IX SMP Darma Putra Nusantara, Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengatakan sering mengunjungi taman untuk mengerjakan tugas kelompok, berolahraga, atau sekadar berswafoto bersama teman-teman. “Nanti foto di pasang di media sosial, seperti sedang di luar negri,” kata Natalia.

Ahmad Jaenudin (27), petugas keamanan taman dari Dinas Pertamanan dan Pemakaman Umum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mengatakan, Taman Tabebuya dibangun pada 2009 dan mulai ramai dikunjungi pada 2011. “Dulunya taman ini rawa-rawa. Sebagian bentuk asli rawa dipertahankan dan dijadikan kolam teratai,” kata ayah satu anak itu.

Taman Tabebuya buka setiap hari pukul 06.00-18.00. Meski dilengkapi berbagai fasilitas, sering kali kesadaran warga Ibu Kota untuk menjaga fasilitas kurang. Selesai membaca buku, misalnya, anak-anak tidak mengembalikan bacaan itu ke tempat semula. “Kami, petugas keamanan harus rajin-rajin mengingatkan agar semua orang menjaga fasilitas,” katanya.

Dalam radius 2 kilometer dari Taman Tabebuya, ada sejumlah ruang terbuka hijau lain dengan beragam ciri khas. Misalnya saja Taman Kiara Payung yang terletak di Jalan Benda, Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang dilengkapi lapangan futsal. Selain itu, ada juga Taman Buni yang ditumbuhi pohon-pohon besar atau Taman Spatodea yang dilengkapi jalur joging yang lumayan panjang.

Oase di tepi tol

Di dalam taman yang ditumbuhi berbagai pohon dan tanaman itu, suasana terasa asri dan tenang. Hal itu terasa kontras dengan kemacetan yang nyaris setiap saat terlihat di Jalan S Parman. Di dalam ta-man juga terdapat danau yang kerap dimanfaatkan warga untuk memancing.

Baca juga :  Tinjau Ulang Pergub 206/2016

Kamis (13/1) pagi, beberapa orang berlari dan berolahraga santai di taman. Mereka berbagi area joging dan wahana fitness bersama-sama. Ada pula yang berlari sambil mengajak anjing peliharaannya. Jalur joging yang naik-turun dan berkelok-kelok membuat kegiatan olahraga lebih menantang. Di sela-sela aktivitas itu, para petugas kebersihan sibuk membersihkan taman.

Amri (50) rutin berolahraga di Taman Cattleya setiap dua minggu sekali. Ia lebih memilih waktu di pagi hari sebelum masuk kerja. Aktivitas favoritnya di taman itu adalah berlari dan push up. “Sebelum masuk kerja, saya belok ke sini dulu untuk berolahraga,” ujar Amri yang berkantor di kawasan Grogol.

Petugas keamanan Taman Cattleya, Mardi, mengatakan, tak hanya pengunjung individu, taman juga kerap dikunjungi oleh kelompok dan komunitas. Anak-anak sekolah ataupun komunitas hewan, sepeda motor, dan fotografer kerap berkumpul di taman yang didirikan sejak tahun 2004 itu. “Banyak yang sering berkunjung ke sini. Ada komunitas musang, komunitas motor, dan mereka yang suka berburu foto,” ujar Mardi.

Antoni (46), pengunjung dari Kembangan, Jakarta Barat, pun kerap memanfaatkan alat-alat fitness yang ada di bagian tengah taman. Shoulder pull, body twist, dan multi trainer adalah sejumlah peralatan yang ada di taman itu.

Antoni berharap taman-taman di Jakarta, terutama Taman Cattleya, bisa semakin ramai oleh kegiatan komunitas. Ia berharap Taman Cattleya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti seni dan olahraga, mirip dengan Taman Suropati, Menteng.

Perawat taman dari Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Barat, Karso, mengatakan, pada akhir pekan, taman sudah banyak dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas, seperti yoga dan senam. Taman yang dulunya perumahan kumuh liar itu juga sering dimanfaatkan untuk lokasi pengambilan gambar film. Taman dioperasikan pada pukul 05.00-21.00.

Baca juga :  Pengangkutan Sampah di Kecamatan Kemayoran Dilakukan Malam Hari

Pesona Waduk Pluit

Di Jakarta Utara, masyarakatnya patut bangga karena memiliki beberapa taman unik yang kini banyak diminati warga untuk berekreasi. Salah satunya Taman Waduk Pluit, Penjaringan. Taman ini, selain sebagai salah satu karya kebanggaan Presiden Joko Widodo saat masih menjadi Gubernur DKI pada 2012-2014, juga menjadi tonggak perubahan revitalisasi waduk tersebut.

Taman seluas 6 hektar itu seperti oase di wilayah utara yang kering dan gersang. Seperti yang dirasakan Latif (29), warga Angke, Jakarta Barat, Rabu siang lalu. Bapak satu anak ini baru saja mengantar penumpang ke Muara Angke.

“Kalau agak sore lewat sini, saya selalu singgah. Istirahat sebentar, sebelum jalan lagi. Apalagi, di sini anginnya sejuk dan banyak pohon, bisa sambil tiduran,” ucapnya.

Padahal, lanjutnya, wilayah ini dulu sangat kumuh. Namun, kini selain banyak pepohonan, ada fasilitas joging, permainan anak, dan lapangan olahraga. Sebuah lapangan basket dan lapangan futsal terletak di sisi selatan taman ini. Meski bau air waduk sesekali menyengat hidung, pemandangan waduk seluas 60 hektar cukup memanjakan mata.

Lapak-lapak pedagang ditata di sisi selatan waduk. Sementara di sisi utara tersedia tempat parkir yang cukup luas bagi yang menggunakan kendaraan pribadi. Kedua sisi ini dipisahkan kali kecil yang mengarah ke waduk.

Saat ini, diharapkan Taman Waduk Pluit segera diserahkan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) ke Pemerintah Kota Jakarta Utara. “Kami ingin segera menggalakkan kegiatan ‘Ayo ke Taman’,” kata Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Pemakaman Jakarta Utara Yati Sudaharti.

Artikel terkait

Leave a Reply

Cek juga
Close
Back to top button