Tata Ruang

Konsep Wilayah dan Tata Ruang

Sebuah wilayah dapat tumbuh serta berkembang apabila didukung oleh kemungkinan sumber daya manusia serta sumber daya alam yang cukup. Daerah akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kalau didorong oleh pertumbuhan serta perkembangan sumber daya manusia. Kegiatan ekonomi yang beragam serta interaksi memainkan peran penting dalam perkembangan wilayah. Sehingga konsep wilayah serta tata ruang sangat diperlukan untuk mendukung tata wilayah.

Dalam suatu perwilayahan juga akan semakin bernilai kalau terdapat konsep tata ruang yang mumpuni. Keduanya saling mempengaruhi dalam efisien serta efektif perkembangan wilayah. Sehingga, untuk memahami lebih jauh tentang konsep wilayah serta tata ruang, ikuti pembahasan materi berikut ini.

Pengertian Konsep Wilayah

konsep wilayah
sumber: touropia.com

Konsep Wilayah

Wilayah (area) merupakan suatu unit dari geografi yang mempunyai batas-batas tertentu. Daerah adalah bagian yang ada di permukaan bumi, dengan wilayah yang paling luas adalah seluruh permukaan bumi. Dalam geografi, wilayah permukaan bumi sangat luas sehingga diperlukan pembagian berdasarkan parameter tertentu.

Region dapat dibagi berdasarkan homogenitas tertentu. Tujuannya dibentuknya wilayah untuk memberikan sifat serta kekhasan pada masing-masing wilayah. Selain itu, pembagian wilayah berguna untuk pengembangan suatu wilayah berdasarkan kemungkinan yang wilayah tersebut miliki.

Baca juga: Kunjungi ngundang.com situs penyedia undangan digital online terbaik di Indonesia

Berikut pengertian konsep wilayah dari beberapa ahli:

  • Ernan Rustiadi, dkk menyebutkan bahwa konsep wilayah memilki tiga hal adalah:(1) wilayah homogeni (uniform), (2) wilayah sistem/ fungsional, serta (3) wilayah perencanaan / pengelolaan (planning region atau programing region).
  • Lutfi Muta’ali mendefinisikan konsep wilayah menggunakan pendekatan klasifikasi wilayah. Wilayah fungsional dipandang sebagai salah satu bentuk konsep wilayah sistem. Sedangkan dalam kelompok konsep wilayah perencanaan terdapat konsep wilayah administratif-politis serta konsep wilayah fungsional.
  • Menurut PP Nomor 47 Tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, wilayah didefinisikan sebagai kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas serta sistemnya ditentukan berdasarkaan administratif serta atau aspek fungsional.

Baca juga: Penjelasan Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

Jenis-jenis Wilayah

Wilayah adalah pengelompokan wilayah di permukaan bumi berdasarkan kriteria tertentu yang membedakan antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Terdapat tiga kriteria pewilayahan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Baca juga: XPLORE.ID Menampilkan Destinasi Wisata Terbaik diKota Anda
  • Pewilayahan berciri tunggal (single topic region)

Perwilayahan tunggal adalah penetapan area didasarkan pada satu dari sepuluh aspek geografi. Contoh ketinggian suatu wilayah di permukaan bumi, apakah termasuk dataran rendah, dataran tinggi, atau wilayah pegunungan. Di sini lokasi suatu wilayah hanya dilihat dari satu aspek geografi adalah ketinggian suatu wilayah.

  • Pewilayahan berciri majemuk (multi topic region)

Pewilayahan berciri majemuk adalah penetapan wilayah yang didasarkan pada lebih dari satu faktor geografi. Contoh penetapan wilayah berdasarkan iklim adalah iklim dingin, tropik, subtropik, serta sedang. Berciri majemuk karena iklim terbentuk dari beberapa unsur seperti curah hujan, suhu, serta angin.

  • Pewilayahan berciri totalitas (total region)

Pewilayahan berciri keseluruhan adalah penetapan wilayah yang didasarkan pada banyak faktor meliputi manusia, kawasan biotik serta abiotik. Contoh ekosistem pantai, dikatakan bercirikan keseluruhan karena melibatkan faktor abiotik, biotik, serta manusia di sekitarnya.

Konsep Wilayah Formal dan Fungsional

Konsep Wilayah Formal (uniform region)

six-regions
sumber: kr.usembassy.gov

Uniform region (wilayah formal) dicirikan oleh sesuatu yang sudah umum sehingga sudah melekat serta menjadi ciri, biasanya menjadi ciri khusus serta identitas pada kenampakan alam ataupun manusia. Atribut yang umum digunakan adalah agama, bangsa, budaya, iklim, penduduk, bentuk lahan, kemiringan lereng, vegetasi, ataupun identitas politik tertentu. Kesatuan wilayah seperti kecamatan, kabupaten, provinsi, bangsa, serta negara merupakan wilayah formal karena termasuk dalam identitas politik.

Contoh lain, wilayah iklim dapat dibagi menjadi wilayah tropis, wilayah subtropis, wilayah sedang, serta wilayah dingin. Wilayah bentuk lahan sebagai contoh adalah wilayah karts di Gunung Kidul, Yogyakarta. Daerah ekonomi contoh area perdagangan di Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Uniform region dapat ditentukan dengan pendapatan per kapita, hasil pertanian, ukuran penduduk, latar belakang suku bangsa, hasil industri, penyebaran serta kepadatan penduduk, serta juga pemetaan karakteristik fisik seperti temperatur, curah hujan, serta jenis musim.

Konsep Wilayah Fungsional (nodal region)

wilayah fungsional
sumber: sridianti.com

Wilayah fungsional adalah wilayah di sekitar titik tumbuh ekonomi sehingga tercipta jaringan sistem transportasi, komunikasi, serta ekonomi antara wilayah fungsional dengan pusat pertumbuhan. Salah satu contoh bentuk wilayah fungsional adalah wilayah Jabodetabek.

Sebagai contoh, kota metropolitan DKI Jakarta mendukung perkembangan wilayah di sekitarnya baik jalur ekonomi, transportasi, bisnis, serta komunikasi. Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi merupakan wilayah fungsional karena perkembangan kota Jakarta.

Daerah fungsional lain yang berskala kecil contohnya adalah pusat perbelajaan mal yang dilayani oleh financial institution, lapangan terbang, serta kegiatan bisnis lainnya. Dalam pembangunan wilayah fungsional dengan pusat pertumbuhan, diperlukan perencanaan yang matang. Sehingga, akan terjadi hubungan timbal balik antar  kegiatan di masyarakat.

Sehingga, untuk dapat mendukung terjadinya hubungan antara kegiatan perlu ditambah moda transportasi umum. Hal ini agar dapat melayani akses penduduk serta akan mendukung pertambahan kepadatan penduduk.

Perwilayahan Formal

Penentuan wilayah menjadi perwilayahan dapat menggunakan metode nilai bobot indeks. Perwilayahan formal dibentuk untuk mengetahui bagian wilayah-wilayah yang bersifat sama/homogen berdasarkan suatu kriteria.

Berdasarkan beberapa variabel ataupun kriteria yang ada, maka penarikan batas wilayah ini dapat dilakukan dengan metode nilai bobot indeks. Misalnya, variabel yang digunakan adalah pendapatan per kapita serta tingkat pertumbuhan penduduk. Contoh penentuan nilai bobot indeks kedua variabel tersebut di lima wilayah kota A dilakukan sebagai berikut.

Tabel Pendapatan Per Kapita serta Tingkat Pertumbuhan Penduduk Kota A

Wilayah Pendapatan per Kapita (x Rp 1.000) Tingkat Pertumbuhan Penduduk (%)
1 1.200 1
2 700 1.2
3 1.000 1.3
4 1.200 1.2
5 1.000 1.4

Nilai indeks setiap wilayah dihitung dengan ketentuan:

Pendapatan per kapita:

  1. ≤000.000,00 berbobot 1
  2. > Rp1.000.000,00 berbobot 2

Tingkat pertumbuhan penduduk:

  • < 1% berbobot 4.
  • 1,0–1,1% berbobot 3.
  • 1,2–1,3% berbobot 2.
  • > 1,4% berbobot 1.

Nilai Bobot Indeks Wilayah:

Wilayah Nilai Perhitungan Total
1 2+3 5
2 1+2 3
3 1+2 3
4 2+2 4
5 1+1 2
Total 17

Rata-rata nilai bobot = 17/5 = 3,4

Perwilayahan 1–5 kota A berdasarkan tabel diatas dapat dibedakan tiga wilayah (standar deviasi = 0,5), sehingga didapat perwilayahan formal:

I < 2,9 adalah daerah 5.

II 2,9-3,9 adalah daerah 2 serta 3.

III > 3,9 adalah daerah 1 serta 4.

Perwilayahan Fungsional

Perwilayahan fungsional di identifikasi dengan adanya titik pertumbuhan pada pusat pertumbuhan. Jadi, perwilayahan fungsional lebih di fokuskan pada arus hubungan dengan titik sentral pertumbuhan. Terdapat dua pendekatan yang digunakan, adalah analisis aliran barang/orang serta analisis gravitasi.

Analisis barang/orang pada arah serta intensitas aliran barang/ orang antara wilayah sekitar dengan titik sentral pertumbuhan. Jangkauan pengaruh sampai pada titik terendah arus aliran. Dengan demikian, semakin dekat dengan titik sentral tumbuh maka aliran barang/ orang akan menjadi semakin intensif.

Beberapa aliran barang/orang dalam berbagai bidang sebagai berikut:

  • Ekonomi: arus komutasi pekerja, arus distribusi barang, barang impor, barang ekspor, serta pekerja.
  • Informasi: tabloid, surat kabar, surat, telepon, serta telegram.
  • Sosial: penyaluran bantuan, dana sosial, serta penyaluran beasiswa.
  • Politik: arus pengungsi, arus hubungan bilateral, serta arus pembelanjaan negara.

Perwilayahan Geografi

Perwilayahan merupakan upaya pengelompokan permukaan bumi dengan kriteria tertentu untuk tujuan tertentu. Misal kriteria pembagian waktu, topografi wilayah, ketinggian tempat, iklim, serta sebagainya.

Perwilayah pada tiap negara berbeda karena kriteria yang digunakan tidaklah sama. Misalnya, di Indonesia perwilayahan menurut persebaran sumber daya alam. Dengan adanya perwilayahan ini dapat digunakan untuk rencana pembangunan serta pemerataan pembangunan.

Berikut uraian tentang tujuan dari perwilayahan adalah:

  • Mempermudah dalam koordinasi program pembangunan wilayah serta nasional.
  • Memeratakan pembangunan pada seluruh wilayah sehingga mengerucutkan kesenjangan.

Secara garis besar terdapat dua cara menentukan perwilayahan, adalah regional generalization (generalisasi wilayah) serta regional classification (klasifikasi wilayah).

Generalisasi Wilayah

Generalisasi wilayah merupakan proses pembagian wilayah permukaan bumi menjadi bagian yang lebih kecil dengan kriteria tertentu. Hal ini menyamakan beberapa unsur menjadi satu yang dianggap kurang penting. Tujuannya, untuk menyamakan karakter yang mau ditonjolkan.

Daerah generalisasi yang perlu dicermati adalah adanya skala peta. Apabila skala digunakan semakin besar maka semakin kecil generalisasi wilayah tersebut. Begitu pula sebaliknya. Selain skala, generalisasi wilayah ditentukan dengan tujuan perwilayahan.

Buat tujuan perwilayahan, tidak membutuhkan data mendetail. Sehingga generalisasi yang dilakukan lebih kecil. Apabila data sangat spesifik maka generalisasinya lebih besar.

Klasifikasi Wilayah

joglosemar
sumber: bpiw.pu.go.id

Klasifikasi wilayah adalah upaya mengelompokkan suatu wilayah secara sistematis. Berikut ini beberapa penggolongan atau klasifikasi wilayah tersebut.

  • Core Region, merupakan wilayah inti dari wilayah titik pertumbuhan. Contoh: Kota metropolitan Jakarta.
  • Development Axes (poros pembangunan), adalah wilayah yang membentuk hubungan lebih dari dua pusat titik tumbuh. Sehingga ada kesatuan akses melalui moda transportasi. Misalnya pengembangan poros pembangunan Kota Semarang, Solo, serta Jogja yang dikenal dengan Joglosemar.
  • Resource Frontier Region, merupakan wilayah baru yang berkembang untuk menjadi wilayah produktif, jauh dari core region. Contoh: kawasan perkebunan kelapa sawit di Sumatra
  • Depresed Region atau daerah tertekan, merupakan daerah yang mengalami kesulitan perkembangan ekonomi atau mengalami penurunan ekonomi. Sehingga menjadi wilayah tertinggal dibandingkan wilayah lain.
  • Particular Drawback Area, merupakan wilayah khusus dengan karakter tertentu. Misal, wilayah 3T merupakan wilayah perbatasan, kompleks kampus, kompleks perumahan, serta pusat perbelanjaan.

Pengertian Tata Ruang

tata ruang

Tata ruang merupakan perwujudan hasil dari struktur ruang serta pola ruang. Sedangkan perencanaan tata ruang merupakan proses menentukan struktur pola ruang dengan cara menyusun serta menetapkan rencana pengaturannya.

Sebuah wilayah diperlukan penataan ruang agar lebih efisien cocok fungsi yang mau dikembangkan. Struktur serta tata ruang yang dikembangkan meliputi susunan pusat pemukiman, sistem jaringan transportasi serta komunikasi, sarana umum, serta kegiatan ekonomi masyarakat yang mendukung hubungan fungsional.

Dalam penataan ruang, yang dicermati mulai dari perencanaan sampai pengendalian pemanfaatan ruang. Misal, untuk membangun jalur transportasi busway, pemerintah DKI Jakarta tetap akan melakukan analisis tata ruang terlebih dahulu sebelum membangun jalur beserta halte busway.

Permasalahan Tata Ruang

Dalam usaha pengelolaan tata ruang serta perencanaan tata ruang lebih lanjut, ditemukan berbagai masalah yang menghambat. Permasalahan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

  • Jumlah penduduk Indonesia yang besar serta angka kemiskinan yang tinggi sehingga terjadi ketimpangan antar wilayah.
  • Belum seluruh wilayah di Indonesia yang mempunyai rencana tata ruang wilayah yang cocok dengan rencana tata ruang wilayah nasional.
  • Kurangnya mengantisipasi permasalahan tata ruang di masa yang akan datang.
  • Perencanaan tata ruang banyak didominasi berbagai kepentingan.
  • Terjadinya konflik kepentingan dalam perencanaan tata ruang sehingga tujuan utama tata ruang menjadi kabur.
  • Indonesia termasuk wilayah yang rawan bencana.

Demikian uraian tentang konsep wilayah serta perencanaan tata ruang wilayah. Semoga, pembahasan kali ini dapat membuatmu semakin paham tentang konsep ini. Selalu semangat untuk belajar geografi.

Artikel terkait

Baca juga: Temukan Tempat Makan dan Tempat Hangout Terbaik di Kota Anda

Back to top button