Bencana

Perubahan Iklim Akan Memicu Terjadinya Bencana Alam

Frekuensi terjadinya bencana kini sudah dalam tingkat yang mencemaskan. Apabila penyebabnya diabaikan, bahkan dalam pembuatan kebijakan, kehidupan manusia bukan saja tak bakal lebih baik, malapetaka bagi bumi pun menjadi niscaya.

Statistik yang berkaitan dengan bencana alam sungguh tak terbayangkan sebelumnya. Kini setiap detik ada satu orang kehilangan tempat tinggal. Apabila dibandingkan, jumlah orang yang kehilangan tempat tinggal karena bencana alam 3-10 kali lebih besar ketimbang akibat perang serta konflik. Setiap tahun, sejak 2016, rata-rata 26 juta orang menjadi tunawisma. Nomor ini setara dengan satu orang harus mengungsi setiap detik. Pada 2018 lebih dari 17,2 juta orang terlunta-lunta karena bencana alam di 125 negara serta wilayah.

Perubahan iklim telah diakui sebagai penyebab meningkatnya frekuensi kekeringan, kebakaran hutan, hurikan, serta lain-lain–semua bencana alam yang setiap kali terjadi selalu menimbulkan korban harta serta tak jarang juga jiwa. Survei geologi yang diselenggarakan Bagian Dalam Negeri Amerika Perkumpulan menyatakan temperatur permukaan international yang terus naik bakal meningkatkan peluang terjadinya lebih banyak kekeringan serta menguatkan intensitas badai. Tubuh ruang angkasa di negara yang sama, NASA, menggarisbawahi: “Sangat mungkin bahwa perubahan iklim bakal mengakibatkan bencana di masa depan.”

Dengan skala katastrofe yang dibayangkan teramat besar, menjadi tak terhindarkan pentingnya isu perubahan iklim dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan. Sebuah kajian pada 2019 yang diterbitkan di Worldwide Journal of Catastrophe Threat Science meneropong kerawanan Asia Selatan terhadap bahaya bencana akibat cuaca ekstrem. Kesimpulannya: perubahan iklim “diperkirakan mempengaruhi banyak dari bahaya itu”.

Baca juga: Kunjungi ngundang.com situs penyedia undangan digital online terbaik di Indonesia

Terdapat studi lain. Diterbitkan di Worldwide Journal of Environmental Analysis and Public Well being pada 2018, temuan studi ini adalah efek perubahan iklim terhadap bencana alam diperkirakan bakal meningkatkan krisis kemanusiaan. Nan disarankan agar dilakukan, bahkan sebagai keharusan, adalah organisasi kesehatan serta kemanusiaan, lembaga yang mengurus keadaan darurat, serta institusi pendidikan menyiapkan diri menghadapi bencana akibat perubahan iklim.

Baca juga: Salah Satu Cara Mengatasi Bencana Tanah Longsor Adalah

Mengenai pentingnya menimbang perubahan iklim dalam penetapan kebijakan, sebuah riset pada 2012 menegaskannya secara khusus. Dalam kesimpulan riset yang menelaah pengaruh perubahan iklim terhadap bencana cuaca ekstrem itu dinyatakan bahwa para pembuat kebijakan, ilmuwan, serta peneliti kesehatan, perlu “bersama-sama mengembangkan strategi yang adaptif”.

Baca juga: XPLORE.ID Menampilkan Destinasi Wisata Terbaik diKota Anda

Di Amerika, sebuah koalisi pengadvokasi wajib pajak, kelompok daerah, asosiasi lembaga asuransi, asosiasi pengembang, serta pengadvokasi mitigasi bencana telah mengeluarkan panduan untuk pembuatan kebijakan semacam itu. Panduan ini dipandang sebagai pendekatan bagi penetapan kebijakan tentang bencana yang bersifat nasional yang melindungi daerah serta menyiapkan secara lebih baik warga Amerika dalam menghadapi bencana.

SmarterSafer.org, koalisi itu, melalui panduan tersebut, memperlihatkan bagaimana perubahan iklim menjadi landasasan untuk mengajukan saran kebijakan. Hal ini memang merupakan cara pandang baru, sebuah pergeseran dari pola pikir lama mengenai bagaimana menjalankan sesuatu atau cara mengatasi suatu masalah. Tapi justru di situlah letak pengakuan terhadap urgensi masalahnya.

Artikel terkait

Baca juga: Temukan Tempat Makan dan Tempat Hangout Terbaik di Kota Anda

Back to top button